Teman-Teman Ibu Meninggal

Pagi ini begitu saya membuka e-mail saya melihat ada beberapa e-mail dari milis Sungai Belantiak dan Sarik Laweh mengenai telah meninggalnya saudara Riri di Bekasi. Sekali lagi saya do\’akan semoga almarhum diterima di sisi Allah, Amin.
Informasi ini semakin membangkitan niat saya untuk menulis tentang kematian dua orang sahabat almarhumah ibu ku tercinta. Saya mendapat informasi dari tek Emi hari Ahad kemarin ketika berkunjung ke rumah kami.
Pertama mak Dipa dan yang kedua odang Mala. Dua orang ini adalah sahabat dekat ibu. Mesti ibu sudah lama meninggal ketika umur saya 9 tahun tapi mereka tetap menggangap saya seperti anak mereka. Ketika saya pulang kampung kalau bertemu mereka selalu mereka bersalaman dan memeluk…. seperti ibuku sendiri. \”onde, onde… anak den lai pulang\” katanya sambil menghapus air matanya.
Mereka memang seperti ibu bagi kami setelah ibu meninggal. Mereka tahu betapa berat kehidupan yang kami jalani sepeninggal ibu dan tak tahu akan seperti apakah masa depan kami.
Mak Dipa seorang wanita sangat sederhana, rumahnya berada di hadapan rumah kami berjarak kira-kira 100 meter. Saya baru tahu kalau beliau sudah meninggal sekitar 2 tahun lalu. Anak-anak mak Dipa dan kami seumur tapi bedannya anak beliau perempuan 2 orang. Yang tertua uni Gusni se umur dengan kakak da Jun sedangkan Pina seumur dengan saya. Waktu anak-anaknya masih kecil suami mak Dipa pak Bawah meninggal dunia, jadilah beliau single parent dan membesarkan kedua puterinya dengan susah payah hingga keduanya selesai sekolah dan sampai menjadi guru. Terakhir ini beliau sering tinggal bersama anak-anak beliau itu di daerah Perawang Riau. Dari sekian kali pulang kampung saya hanya pernah bertemu sekali. Inilah penyesalan saya, ketika itu beliau meminta saya \”bolian amak kain saruang ciek dih\” saya berniat untuk membelikannya tapi hingga beliau pergi tak pernah kesampaian.
Odang Mala, sahabat ibu ini seorang periang dan senang membantu kami. Meninggal minggu lalu di Sarik Laweh kampung kami. Beliau sering menginap di rumah kami ketika ayah kami bekerja di Medan. Beliau teman ibu belajar memasak, menyulam dan membantu anak-anak perempuan belajar menjahit dan kepandaian kewanitaan lainnya. Beliau ini lah yang sering bertemu kalau saya pulang dan selalu memanggil dengan \”anak den\” atau my son.
Dengan kepergian mereka semakin sedikitlah \”ibu\” saya. Semakin sedikit pula suara tegur-sapa yang menggetarkan jiwa ini. Allahuma firlaha, warhamna, waifina, wakfuanha.. Ya Allah ampunalah mereka, sayangilah mereka….
Jurangmangu 6 Januari 2009

Leave a comment

Your email address will not be published.