Hidup ini penuh Warna

Orang Minang mengibaratkan hidup ini seperti roda pedati atau dalam bahasa Minangnya \”iduik bak cando roda padati, kadang di ateh kadang di bawah\”. Belakangan kita juga mendengar istilah orang Amerika yang mengatakan life is like a roller coaster. Hidup seperti pemainan di roller coaster permainan yang berputar, naik, turun, tiba-tiba turun dan berbalik dengan kencang kemudian menanjak perlahan.
Allah memang menciptakan hidup ini tidak monoton, ada senang, ada susah ada hidup ada mati ada pertemuan dan ada perpisahaan. Semuanya adalah takdir yang pasti setiap orang melaluinya tak peduli apakah anda masih muda, tua, laki, perempuan semua harus menjalani roda hidupnya sendiri. Kalau kita sudah menyadari bahwa hidup adalah bak roda padati, bersabarlah jikalah roda anda sedang bergerak turun, bersyukurlah ketika bergerak ke atas atau mungkin sedang di atas. Ketika di atas ingatlah bahwa roda akan berputar lagi ke bawah dan kalau anda sedang di bawah bersabarlah karena sebentar lagi anda akan begerak ke atas.
Dalam beberapa hari ini saya memperhatikan warna-warni hidup dari orang-orang di sekitar saya.
Ada yang sedang menikmati keluasan rezeki, sejak tahun lalu mendapatkan order dan kontak yang sedemikian besar, eh…alhamdullilah di awal tahun ini sudah dapat kontrak besar lagi. Rumah, mobil dan taraf hidup telah disesuaikan. Rumah pindah ke tempat yang lebih baik dan tentu dengan ukuran yang lebih besar. Mobil biasa yang dulu menjadi andalan untuk membangun bisnis kini berganti dengan mobil baru dan mewah.
Di lain pihak adalagi yang sedang berjuang membangun bisnis, krisis ekonomi global secara langsung telah memukul bisnisnya. Mobil yang dulu mewah kini diganti dengan mobil biasa, dulu punya banyak waktu untuk menikmati kesuksesan kini sibuk membangun dan mempertahankannya. Gaya hiduppun perlu disesuaikan.
Ada yang sedang menikmati bulan madu karena baru beberapa minggu lalu menikah dan merayakan pesta pernikahan yang meriah. Ada yang sedang tunggang-tungging mempersiapkan pernikahan, mengurus undangan, mengurus katering, menghubungi saudara, membooking gedung dan segala tetek bengek. Semua itu perlu biaya, sekarang biaya urusan pernikahan semakin mahal.
Ada pula yang sedang dalam masa kritis perkawanian setelah belasan tahun menikah harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus bercerai. Sementara yang lain sedang mengurusi isteri kedua sambil ketar-ketir diketahui oleh isteri pertama.
Ada yang sedang menikmati kelucuan si kecil yang baru beberapa hari lalu lahir dengan selamat, segala fokus dan perhatian dicurahkan pada sikecil yang sudah lama ditunggu-tungu.
Ada yang dalam duka yang teramat dalam karena suami baru saja meninggal dunia secara tiba-tiba. Bagaimana meneruskan kehidupan, siapa yang yang memberi makan anak-anak, dimana akan tinggal dan sekolah anak-anak.
Ada yang lagi pusing mengenai kekuranganan uang untuk beli rumah, tanda jadi sudah dibayar tapi sisanya harus segera dibayar, duitnya dari mana? Ada yang lagi pusing karena sebentar lagi isteri akan melahirkan, bagaimana persiapannya.
Sementera yang lain sedang mempersiapkan diri untuk berlibur ke luar negeri, ke Hongkong, atau Italia. Sementara yang lain sedang stress karena sedang dikucilkan oleh masyarakat sekitar karena salah paham.
Hidup memang perlu warna, ada warna terang dan ada warna gelap. Beruntunglah orang yang mengandalkan pertolongan pada Allah tuhan yang maha kuasa, zat yang maha penolong. Allah mempunyai lampu yang senantiara menerangi hati dan jiwa setiap umat yang mendekat diri kepadaNya.

Leave a comment

Your email address will not be published.