Seberapa Besar Rumah Anda?

Minggu lalu kami berkunjung ke rumah sakit Fatmawati Jakarta membesuk ibu teman kuliah kami Apank. Beliau merasakan sakit di bagian perut dan ternyata ada infeksi di usus dan kelihatannya tidak begitu parah, mudah-mudahan sekarang sudah sembuh.
Dari perbincangan kami dengan beliau ada hal yang menarik untuk kami. Beliau sekarang tinggal berdua saja dengan suami beliau atau ayahnya Apank di rumah yang sangat besar untuk ukuran orang Jakarta. Rumah mereka mempunyai 7 kamar tidur, selain ruang keluarga dan ruangan tamu lainnya. Mereka membangun rumah sedemikian besar itu karena mereka mempunyai 7 orang anak dan masing-masing anak dibuatkan 1 kamar.
Sekarang anak-anak beliau sudah besar dan berkeluarga dan masing-masing mempunyai rumah sendiri dan tidak ada satupun yang tinggal bersama mereka. Jadilah mereka berdua saja menempat rumah yang sebesar itu.
Fenomena seperti ini tampaknya akan sering kita temui. Orang tua kami juga demikian, mereka tinggal di Tabing, kota Padang di rumah dengan 4 kamar tidur, 1 kamar pembantu tapi yang menempati hanya ayah dan ibu kami saja. Bahkan 5 tahun lalu rumah itu baru saja direnovasi dengan biaya yang cukup besar dengan harapan bahwa rumah itu akan penuh dengan kami bersama anak-anak berkumpul paling tidak setiap lebaran. Tapi kenyataannya sejak rumah selesai direnovasi kami baru sekali saja sempat berkumpul di rumah itu. Setelah itu kembali hanya ayah dan ibu kami yang menempati bahkan sering ibu kami sendirian di rumah karena ayah sering datang ke Jakarta atau pulang ke kampung kami di Payakumbuh.
Hal serupa juga terjadi pada etek/bibi kami di kampung kami. Beliau membangun rumah yang cukup besar untuk ukuran orang di kampung kami. Tujuannya untuk menampung anak-anak beliau dan bagi kami ketika pulang kampung, tapi kini hanya mereka berdua saja yang menempat sementara anak-anak beliau tinggal mengikuti suami ataupun tinggal di kota.
Entah berapa banyak kita melihat kejadian seperti itu, tidak hanya di kota-kota tapi juga di kampung bahkan di beberapa desa di Ranah Minang seperti di Koto Gadang Bukittinggi ataupun di Sulit Air Solok banyak sekali rumah-rumah besar tapi kosong bahkan untuk menjaga rumah tersebut pemilik terpaksa harus mendatang orang lain untuk tinggal di rumah itu.
Jadi untuk apakah orang membangun rumah besar-besar? Kalau di bangun kemudian hanya sebentar saja diisi penuh ketika anak-anak masih kecil sebelum mereka tamat SMA atau kuliah dan bekerja. Setelah itu rumah menjadi kosong melompong dan hanya diisi oleh orang tua atau mereka yang pensiun saja.
Untuk membangun rumah yang sedemikian besar diperlukan uang yang tidak sedikit. Tak jarang pula mereka harus menyicil rumah itu dengan susah payah hingga akhirnya selesai dan menjadi milik mereka. Tak lama setelah selesai rumah besar itu tak berguna lagi karena yang penghuninya sudah pergi dan tak akan tinggal kembali di rumah itu.
Mungkin dari sekarang perlu dihitung-hitung kembali sebenarnya sebesar rumah yang anda perlukan? Memang terkadang kita tertarik untuk memilik rumah besar dengan kamar yang banyak, lantai yang luas, punya ruang belajar, ruang makan lengkap dengan dapur kering dan dapur basah. Ada taman dan kolom ikan serta kolam renang serta kebon dan lain-lain.
Tapi sejujurnya apakah anda benar-benar memerlukan semuanya itu? Bukankan yang kita perlukan adalah ruang untuk tidur di malam hari sehingga kita bisa melepas lelah setelah seharian sibuk bekerja. Ruang tempat anak-anak tidur dan belajar serta sedikit ruang untuk makan dan berkumpul dengan keluarga selagi masih lengkap tinggal di rumah. Kalau kita mempunyai rumah yang besar dengan kamar yang banyak tapi kosong, itu menjadi mubazir dan sia-sia. Bukankah perbuatan mubazir itu merupakan perbuatan setan. Maka mungkin saja ruangan yang kosong itu menjadi tempatnya setan dan jin dan bisa saja mereka menjadi penggangu ketenangan anda di rumah itu.
Di kota-kota besar sekarang mulai berkembang gaya hidup dengan tinggal di apartemen atau rumah susun. Di ruang tempat tinggal tebatas dan tidak bisa di rubah-rubah dan direnovasi begitu saja. Untuk efisiensi rasanya model rumah seperti ini sangat cocok untuk menahan keinginan untuk mempunyai rumah besar tapi mubazir.
Tapi menurut pengalaman rekan-rekan yang sudah pernah tinggal di apartemen mereka marasa ada yang kurang di bandingkan kalau tinggal di rumah biasa. Terutama bagi mereka yang punya anak kecil karena terasa sulit sekali mengasuh anak di ruang yang sempat dan tidak ada tempat bermain karena kalau ingin bermain seperti tinggal di rumah biasa anak bisa-bisa terjun ke bawah dan ini sudah beberapa kali kejadian yang terjadi di Jakarta.
Jadi mau tinggal dimana? Ini memang hanya sekedar wacana saja. Yang ingin saya sampaikan adalah cobalah berfikir logis ketika memutuskan untuk membeli atau membangun rumah anda. Fikirkan seberapa besar yang sebenarnya rumah yang anda perlukan untuk anda dan keluarga. Kalau anda mempunyai kebiasaan berkumpul-kumpul di rumah, sekarang banyak solusinya. Kita bisa berkumpul di tempat-tempat umum di restoran, taman ataupun dengan menyewa ruang pertemuan yang terdapat banyak di dekat tempat tinggal anda.
Semakin hari harga rumah semakin mahal. 17 tahun lalu ketika kami mulai menyicil rumah harga rumah type 64 hanya 31 jua, sekarang dengan type yang harganya sekitar 300 s/d 400 juta, mahal sekali bukan?

Leave a comment

Your email address will not be published.