Diayun Gempa di Lantai 33 Menara The EAST

Ini ketiga kalinya saya mengalami gempa di atas gedung bertingkat. Pertama tahun 1997 di lantai 12 gedung Arthaloka di Jl. Sudirman, kedua tahun 2002 di Graha Pratama lt 6 Jl. MT Haryono dan yang terakhir kemarin jam 14.55 kemarin Rabu 2 September 2009 di Menara The EAST di Kawasan Mega Kuningan Jakarta.
Pengalaman kemarin lebih mencekam karena saya berada di lantai 33! Bisa dibayangkan bahwa tingkat ayunannya jauh lebih besar dibandingkan kalau berada di bawah. Lantai 33 kira-kira berada diketinggian 150 meter dari atas tanah. Lantai tertinggi Menara The East adalah lantai 41 dan merupakan salah satu gedung tertinggi di Jakarta. Gedung tertinggi saat ini mungkin adalah Menara BCA yang berlantai 55 di Jl. Thamrin di kawasan Bundaran Hotel Indonesia.

Setiap kali saya mampir ke kantor klien saya ini, salah satu kebiasaan saya adalah berjalan menuju jendela kaca untuk menikmati pemandangan Jakarta ke arah barat utara dan timur. Dari lantai 33 itu anda bisa melihat dengan jelas hampir seluruh bangunan yang berada di sebelah utara, Ancol dan pantai Teluk Jakarta. Ke arah barat anda bisa melihat kawasan Semanggi, Senayan dan CBD.
Sambil bercanda dengan klien saya memuji dengan mengatakan ”wah indah sekali pemandangan dari sini, sayang kalau dilewatkan dan percuma saja punya punya klien disini kalau tidak memanfaatkan kesempatan ini’ kata saya. Klien saya menjawab” wah pak, boss saya yang memilih lantai ini, beliau memang senang dengan viewnya meski beliau datang hanya sekali dalam 2 bulan, kalau saya sih tidak begitu suka karena kalau gempa kan susah turunnya dan lagi pula kan ngeri kalau gedungnya rusak” balas klien saya sambil bercanda.

Beberapa saat kemudian kami memulai presentasi sambil membahas beberapa hal, tiba-tiba mulai terdengar bunyi krek krek krek…. Satu persatu dari kami mulai melihat ke sekeliling dan suara krek krek krek semakin kencang dan terlihat verticle blind yang berada di jendela berayun-ayun semakin lama semakin kencang. ”wah ada gempa..” dan semua mulai menyelamatkan diri. Ada yang berlari ke ruang kantor, ada yang bersembunyi di bawah kolong meja, sementara ayunan semakin kencang. Saya tidak begitu panik, saya berdoa sambil duduk di atas meja membaca Al Fatihah dan La haula wala kwata ila billah… Presentasi pun bubar dan kami semua berjalan menuju tangga dan disana sudah banyak orang dari kantor tetangga yang berlarian menyelamatkan diri. Kami pun mulai menuruni anak tangga gedung ke lantai dasar sejauh 150!, cukup jauh dan tinggi apalagi buat mereka yang tidak biasa olah raga.

Dari kejadian ini saya mengambil hikmah bahwa musibah gempa itu bisa terjadi kapan saja dan tidak bisa diperkirakan kapan terjadinya. Hikmah berikutnya saya kagum dengan keahlian para arsitek gedung khusunya gedung-gedung tinggi atas kekuatan gedung rancangan dan buatan mereka. Bayangkan gedung setinggi dan seberat itu digoyang-goyangkan sekuat itu tapi tidak ada yang rusak. Menurut saya besarnya ayunan yang terjadi di lantai 33 itu berjarak sekitar setengan meter tapi tidak ada kaca, dinding yang becah dan bahkan lift masih bisa berjalan normal.
Hikmah yang terakhir, bahwa musibah itu senantiasa mendekati kita setiap saat hanya pertolongan Allah yang bisa menyelamatkan kita. Siapa yang bisa menaham gempa? Tidak ada, kalau Allah sudah berkehendak tidak ada yang mampu menolaknya. Hanya pertolongan Allah lah yang menyelamatkan kita. Saya bersyukur Allah masih menyelamatkan saya. Salah seorang peseta rapat mengatakan seperti ini ” pada saat gempa tadi yang saya ingat adalah bagaimana dengan asuransi jiwa saya, kalau saya meninggal disini apakah anak saya akan bisa mendapatkan manfaat asuransi dari saya” katanya. Itu juga hal yang perlu dipikirkan dan dipersiapkan jika itu terjadi lagi pada kita.
Semoga kita semua dilindungi oleh Allah dari musibah seperti ini amin….

Leave a comment

Your email address will not be published.