Sopir Taxi dan Burung

Tadi siang saya berangkat ke klien naik taxi karena mobil sedang dipakai isteri. Sebagai pebisnis saya selalu mengutamakan naik taxi yang tarif rendah. Di Jakarta banyak pilihan taxi dan taxi yang paling mudah didapat di Bintaro adalah taxi warna biru tapi tarifnya relatif lebih mahal. Saya biasanya memilih Express Taxi karena tarifnya lebih murah.

Seperti biasa saya berbicang-bincang dengan pengemudi. “wah pak hari ini susah, saya sudah mangkal di pool sejak jam 9 pagi tapi belum dapat penumpang, akhirnya saya ke luar saja sambil mutar-mutar dan alhamdullilah baru dapat bapak” kata sang sopir memulai pembicaraan. Pembicaraan akhirnya ngalor-ngidul sampai banyak hal.
Ada satu hal yang menggilitik hati saya bagaimana caranya mereka mendapatkan setoran (bayaran sewa) yang banyak sehingga mereka bisa mendapatkan uang lebih untuk keluarga mereka. “Pak apa rahasianya untuk mendapatkan penumpang yang banyak?, kata saya. Dia menjawab, “wah nggak tentu pak, kalau lagi beruntung dapat penumpang jarak jauh, kemudian dari situ dapat lagi penumpang kearah berangkat tadi dan terus ada lagi yang rute jauh”, kalau begitu langsung dapat setoran besar pak” jawabnya. “Tapi itu tidak setiap hari pak, hanya sekali-sekali saja” lanjutnya. Terus saya tanya lagi, “kalau yang sering setiap harinya dapat berapa pak”. “Yah standard-standard sajalah pak” jawabnya. “Apa maksudnya standard itu pak” tanya saya lagi, “ya cukup untuk setoran, beli bensin dan uang untuk di rumah, yah untuk mobil seperti ini sehari bisa dapat Rp. 450,000 katanya.

Cara kerja pengemudi taxi ini sungguh sangat menarik karena mereka ke luar dari pool mereka tanpa ada jaminan bahwa mereka “pasti” mendapatkan penumpang. Mereka pergi mencari nafkah ke luar rumah dengan modal keyakinan bahwa mereka akan mendapatkan penumpang tapi tidak tahu siapa dan dimana tempatnya tapi mereka yakin bahwa Allah pasti mengutus orang untuk menjadi penumpang mereka.
Prinsip yang sama juga berlaku bagi para pedagang di pasar, tidak ada jaminan bahwa akan ada orang yang membeli dagangan mereka, tugas mereka hanya membuka warung, atau menggelar barang dagangan mereka di pasar dan hanya Allah yang tahu siapa yang akan membelinya.

Di dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang tidak benar-benar memahami prinsip ini. Mereka hanya akan memulai sesuatu kalau sudah ada jaminan atau “kepastian” bisnis mereka akan berjalan. Mereka tidak mau melangkah sebelum mereka melihat ujungnya akan seperti apa, mereka tidak mau memulai kalau bisnisnya belum jelas. Semua bisnis dimulai dengan ketidakpastian. Semuanya masih ghaib dan baru berupa perkiraan. Bagi pengusaha sejati mereka tidak menunggu semuanya menjadi jelas lebih dahulu, mereka berani memulai walau dengan kondisi apapun. Mereka memahami prinsip “proses” sesuatu memerlukan proses sebelum benar-benar menjadi kenyataan. Mereka telah mempunyai pandangan jauh ke depan dan siap menjalankan prosesnya sampai mereka berhasi. Mereka berani melangkah.

Al-Quran mencontohkan kehidupan burung. Setiap pagi burung ke luar dari sarangnya dengan riang gembira mencari makan. Mereka tidak mempunyai kebon dan ladang perternakan cacing, tapi setiap mereka terbang ke luar kandang pada sore harinya mereka pulang dengan tembolok penuh dengan makanan. Demikian juga dengan manusia, tugas kita hanyalah ke luar berusaha mencari nafkah sudah disediakan oleh Allah, tugas kita hanya memjemput saja. Tidak perlu harus terlihat dulu baru kita berusaha, lakukanlah seperti burung, kepakkan sayap di pagi hari, hinggapi dahan-dahan kayu, anda pasti menemukan makanan di sana.

Leave a comment

Your email address will not be published.