Telepon dulu baru berangkat

Pagi tadi saya mempunyai pengalaman yang kurang baik yang menjadi pelajaran penting bagi saya dimasa datang.
Pagi-pagi jam 06.00 kurang saya sudah berangkat menuju rumah salah seorang rekan kerja saya nun jauh di Depok berjarak kira-kira 20 km dari rumah kami di kawasan Bintaro, perlu waktu sekitar 50 menit naik sepeda motor. Saya putuskan naik sepeda motor karena saya harus sampai disana sebelum jam 7 pagi agar saya bisa cepat kembali karena saya ada janji jam 10 di daerah Kuningan sementara saya masih harus ke kantor dulu untuk menjawab beberapa fax.

Saya harus menemui rekan saya ini karena dia adalah salah satu yang berhak menandatangi cek dan saya khawatir dia hari ini tidak bisa masuk kantor karena sejak minggu lalu dia terkena penyakit gejala tipus. Tahun lalu dia juga terkena penyakit ini sehingga dia harus istirahat selama 3 minggu. Kemarin dia coba masuk ke kantor, tapi hanya kuat sampai setengah hari dan terus dia pulang karena masih terasa pusing dan lemas. Jadi wajar saja kalau saya menyangka bahwa dia tidak bisa masuk hari ini.

Hari ini adalah minggu terakhir bulan November banyak pembayaran yang harus kami lakukan dan kami harus mengeluarkan uang kami dari bank dengan cek dan cek itu harus ditandatangani oleh saya dan rekan ini.

Saya berangkat di pagi yang dingin karena dari semalam hujan turun mengguyur sebagian besar Jakarta dan sekitarnya. Pada saat saya mengambil sepeda motor dari rumah adik saya, dia sudah mengingatkan saya bahwa rekan saya itu hari ini pasti masuk karena kemarin dia sudah memberitahu bahwa dia akan masuk ke kantor, tapi saya jawab ”belum tentu dia masuk kan dulu waktu dia sakit dia perlu istirahat lama, kayaknya dia masih perlu istirahat lagi, apalagi hari ini hujan\” jawab saya sambil terus menghidupkan mesin motor.

Jam 07 kurang saya sudah sampai di depan rumahnya dan saya berjumpa dengan adiknya ”wah kakak sudah berangkat ke kantor jam 06 tadi” katanya.
Saya merasa menyesal sekali karena saya sudah membuang-buang waktu saya. Paling tidak 2 jam waktu saya terbuang percuma, waktu sebanyak itu sangat berharga. Saya kehilangan kesempatan untuk menulis di blog, saya kehilangan waktu untuk bertemu dengan klien dan jadwal saya hari ini banyak yang berubah.

Dari kejadian ini yang mengambil hikmah sebagai berikut;

• Hindari Asumsi

Kepergian saya ke Depok hanya berdasarkan asumsi belaka, saya tidak mengetahui dengan pasti apakah dia masuk atau tidak. Saya tidak menelpon terlebih dahulu untuk memastikannya. Saya bertindak hanya berdasarkan perkiraan bukan atas realita. Inilah yang dulu yang sering disampaikan oleh bekas boss saya di IBS, Brian Dallamore ”never makes decision based on assumption”

• Tekanan Emosional

Karena ada beberapa orang yang mengingatkan saya bahwa saya harus melakukan pembayaran hari ini, membuat saya bertindak secara irasional. Kita tetap harus bersikap rasional di dalam bertindak meski kondisinya kurang menguntungkan.

Jadi, hindari asumsi dan jagalah emosi di dalam setiap tindakan.

Leave a comment

Your email address will not be published.