Karena Allah Sayang

Malam kemarin saya berdiskusi dengan seorang teman sambil mengevualuasi kondisi bisnis kami. Seteleh beberapa bulan berada dalam kondisi yang berat kami bersyukur kepada Allah bahwa saat ini kami telah diberikan begitu banyak kemudahan, jalan keluar, solusi, rizki, pertolongan, peringatan sehingga kami mampu bertahan. Satu persatu masalah besar yang melilit mulai lepas, tekanan dari berbagai sumber juga mulai menurun, ihtiar kami dalam berbagai bentuk juga mulai menunjukkan hasil. Kami takjub dengan kebesaran Allah atas kekuatan dan bukti yang diberikanNya dengan mewujudkan setiap do’a-do’a yang kami panjatkan.
Pada saat memuhasabah diri, teman saya nyeletuk “ masalah ini mungkin karena hukum karma ya, karena dulu pada saat serius di MLM kita sering melihat (membuat) orang-orang dalam group kita kesusahan dan pontang-panting mengejar goal mereka (untuk kita)” katanya. Terus dia mengingatkan kembali bagaimana dulu cara kerja kami pada saat-saat menjelang akhir bulan, mengejar semua down line untuk berbelanja sebanyak-banyaknya. Sementara itu kami juga masih harus pula mengajak mereka untuk membeli peralatan bisnis seperti buku, kaset dan pertemuan kalau masih mau mempetahankan peringkat. Masih segar di hati kami raut wajah dan nada suara keberatan mereka setiap kali kami mengajak (memaksa) mereka untuk membeli semua itu. Itu kami lakukan selama kami aktif lebih kurang 8 tahun.
Hampir saja saya sependapat dengan teman ini bahwa ini memang karena hukum karma yang selama ini secara umum saya dengar. Di dalam Al-Quran Allah sudah menyebutkan bahwa “tidak ada satu musibahpun yang terjadi, kecuali seizin dari Allah” jadi semua yang terjadi atas kehendak Allah, bukan serta merta karena akibat langsung dari mengecewakan orang lain. Kalau manusia berbuat salah pasti akan mendapat hukuman dari Allah, tapi seperti apa bentuk hukumannya hanya Allah yang tahu. Memang pada umat-umat terdahulu sebelum nabi Muhammad Allah memberikan hukuman langsung seperti kepada kaum Samud, Firaun, Israil, umat nabi Nuh dan lain-lain.
Namun jika kita mempunyai kesalahan kepada orang lain maka segerah minta maaf kepada mereka karena Allah belum akan memaafkan sebelum manusia itu mamaafkan.
Allah mempunyai tujuan sendiri ketika Dia memberikan ujian dan cobaan kepada umatNya. Musibah juga adalah sebagai wujud kasih sayangnya Allah karena dengan musibah manusia (yang beriman) akan semakin mendekat kepada Allah, berserah diri dan memohon bantuaNya atas semua kesulitan yang dialami. Allah senang kepada mereka yang merintih dan meminta tolong kepadaNya untuk urusan sekecil apapun. Lagi pula setiap musibah yang terjadi sudah diseleksi oleh Allah sehingga Dia mengatakan “ Allah tidak akan memberikan beban yang melebihi kemampuan manusia”. Jadi ketika kita merasa terlalu berat dengan beban yang diderita sebenarnya tidak usah khawatir karena dosisnya sudah ditakar terlebih dahulu oleh Allah bahwa kita pasti sanggup menghadapinya. Banyak orang yang tidak paham dengan hal ini sehingga mereka menjadi putus asa. Tapi bagi mereka yang menjadikan Allah sebagai tempat berlindung dan meminta tolong mereka pasti akan merasakan dan menikmati pertolongan Allah dalam berbagai bentuk dan rasa.
Jadi bukan karena hukum karma seperti yang banyak diyakini oleh sebagian orang. Alasannya mungkin bisa dipahami karena pemahaman hukum karma sudah lebih dahulu menjalari fikiran kita. Meski ajaran Islam sudah menjalar hampir di saentoro nusantara namun belum bisa mengganti semua keyakinan lama itu. Itupun lumrah terjadi, tapi bagi yang sudah mengetahuinya agar segera meluruskannya dengan kembali ke prinsip ajaran Islam. Mempertahankan kepercayaan lama nenek moyang ternyata bukan hanya menjadi fenomena pemeluk Islam di Indonesia saja. Saya juga pernah membaca di Yunani, Spanyol dan Portugal yang pernah berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam hampir 1000 tahun lalu mereka masih mempertahankan beberapa kebiasaan umat Islam seperti misalnya setiap menyambut bulan suci Ramadan mereka menyelenggarakan kegiatan khusus walau sekarang mereka tidak lagi beragama Islam.
Yang terbaik adalah meluruskan hati kepada ajaran yang benar dan ikutilah ajaran Al Quran yang mengatakan “masuklah engkau ke dalam Islam secara kaffah” yang sebenar-sebenarnya alias 100%. “Nggak setengah-setengah”

Leave a comment

Your email address will not be published.