Antara Susah dan Senang

Siang tadi saya menerima telepon di HP, terlihat nama SMA PAKIAH di layar monitor. Setelah mengucapkan salam dengan bahasa asli, saya sapa kawan ini \”hoi Pakiah ba\’a kaba, dima angku kini, lai di Pakabaru juo lai\” sergah saya. Dia adalah Tasril adik teman SMA saya Jhon Kenedy, kami memanggil nama \”lucunya\” Pakiah, saya tak tahu kenapa dia dipanggil Pakiah.

Bulan November lalu ketika saya ke Pekanbaru, Pakiah dan keluarga sedang tinggal disana tapi sayang kami tak sempat bertemu karena saya hanya singgah satu hari saja di Pekanbaru. Waktu itu Pakiah sedang mengembangkan usaha bekerjasama dengan Adison salah seorang teman SMA saya yang menjadi pengusaha di sana.
ketika  saya tanya kenapa dia tidak tinggal di Pekanbaru lagi, dia menjelaskan bahwa ternyata hidup di Pekanbaru itu tidak cocok  baginya. Dia sudah berusaha dengan mengembangkan usaha temannya di bidang property akan tetap setelah hampir 3 bulan dia tidak berhasil. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta tempat dia mengembangkan karirnya selama 20 tahun lebih. Dia harus memulai semuanya kembali dari nol.
Dia bercerita bagaimana tantangannya dulu waktu membangun bisnis di Jakarta. \”ternyata bisnis itu tidak kenal teman, tidak kenal saudara\” katanya. Dia pernah bekerjasama dengan kakak iparnya, dengan saudara dekatnya akan tetapi sering kali dia menjadi korban. Dia yang bekerja keras, saudaranya yang memetik hasil. Sering pula dia membantu teman dekat, dari belum tahu apa-apa di Jakarka kemudian dia bantu membangun usaha dan akhirnya orang itu mahir. Tapi akhirnya si Pakiah menjadi korban dari teman yang diangkatnya itu. Bahkan ketika dia sedang susah bukannya membantu (membalas budi) malah justru dia dibuat semakin susah. Ternyata sudah menjadi bagian dari dunia bisnis bahwa selalu saja ada orang-orang yang suka memakan teman sendiri atau istilahnya \”jeruk makan jeruk\”. Itu pulalah yang pernah saya rasakan beberapa tahun lalu.
Pada saat mengakhiri pembicaraan saya menyemangati Pakiah untuk tabah dan terus berusaha membangun bisnis sendiri tanpa mengandalkan kerjasama dengan orang lain lagi seperti yang sedang saya jalankan saat ini. \’Pakiah…. maju terus… insya Allah bisa sukses.
 Isteri saya mempunyai cerita lain lagi. Kami mempunyai teman baik yang mempunyai restoran dengan omset di hari Sabtu, Minggu dan libur sekitar Rp. 20 juta/hari. Hari biasa sekitar Rp. 10 juta.hari. Dapat dibayangkan berapa besarnya keuntungan yang bisa mereka dapat setiap hari karena ongkos mereka hanya sekitar 40% saja dari penjualan.
Sudah hampir 1 tahun kami tidak bertemu, isteri saya bertemu kembali dengan sang isteri di acara pernikahan teman kami Ahad kemarin dan disitu isteri saya membuat janji untuk bertemu hari ini.
Di luar dugaan, ternyata teman ini menyampaikan kekecewaannya bahwa sudah hampir setahun ini dia tidak lagi \”megang uang\” semua uang hasil usaha dikuasi oleh sang suami, padahal restoran itu awalnya milik keluarga si isteri. Sekarang suami yang mengatur semua pengeluaran, sering kali sang suami tidak mau mengeluarkan uang walau untuk keperluan yang wajib sehari-sehari.
Sementara suami sibuk dengan segala macam hobi dan kesenangannya. Motor gede Harley Davidson ada beberapa  buah, beberapa hari lalu baru ganti velg dan ban harganya puluhan juta! Mobilnya sudah 8 buah tapi masih mau membeli mobil baru lagi. Saking tidak\” megang uangnya\” si isteri terpaksa berjualan makanan dan usaha-usaha lain sebagai penambah penghasilan. Aduh…. tragis bangat sih…
Kondisi seperti ini tidak hanya dialami oleh teman kami yang ini, kami juga punya teman yang nasibnya kira-kira sama. Mereka tinggal di rumah seharga Rp. 10 milyar tapi sang isteri tidak pernah diberi uang oleh suami sehingga kemana-mana dia terpaksa naik angkutan umum dan ojeg sementara di garasi rumahnya nongkrong 3 buah mobil mewah.
That\’s life…. Hidup memang tak terduga, sering kali yang terlihat di luar tidak sama dengan yang sesungguhnya. Sering kali kita menganggap bahwa seseorang dengan materi melimpah pasti mereka bahagia. Tapi ternyata tak sedikit diantara mereka yang tersiksa dan merana. Uang tidak bisa membeli kebahagian, uang tidak bisa membeli cinta, uang tidak bisa membeli ketenangan dan uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya sekarang perlu uang!. Ah… jadi ngaco begini….
Yang bisa membuat kita bahagia adalah ketika kita menerima segala ketetapan Allah dengan bersyukur, tawakal dan ikhlas. Bersyukur atas segala rahmat, kasih dan sayang yang telah Allah berikan. Pada saat berkelebihan harta bantulah orang yang kekurangan, jangan hanyut dengan memperturutkan hawa nafsu sendiri, perbanyak ibadah kepada Allah.
Pada saat susah bersabarlah, karena  Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Allah memuliakan orang-orang yang sabar dan tawakal/beserah diri kepadaNya. Sebagai imbalan bagi mereka yang sabar Allah datangkan kebahagiaan di dalam hatinya walau dia masih di dalam kesusahaan.
That\’s life man….

Leave a comment

Your email address will not be published.