Jangan Menyerah

Dunia sepakbola mencatat kehebatan dari club Manchester United (MU) ketika berhasil menggondol 3 piala dalam 1 tahun atau yang dikenal dengan nama Trible Winner. Pada tahun 1999 MU berhasil mempersandingkan Piala Liga Primer, Piala FA dan Piala Champion. Belum pernah ada club sepakbola manapun di dunia yang pernah mencapai keberhasilan seperti yang diraih oleh MU.
Keberhasilan MU ini sangat menarik untuk dijadikan contoh bahwa tidak ada istilah menyerah sebelum peluit akhir di tiup. Tadi pagi saya menonton kembali siaran ulang pertandingan final Piala Champion Eropah tahun 1999 di stasiun TV GOAL1. Pertandingan final antara MU melawan Bayern Munchen diselenggarakan di stadiun Camp Noe Barcelona.
Menonton pertandingan ini sangat menarik karena kwalitas permainan sangat tinggi, di samping itu bagi saya ini kesempatan  untuk bernostalgia dengan bintang-bintang lapangan hijau kelas dunia 10 tahun lalu.
Dari MU ada penjawang yang paling bersejarah di MU Peter Shmeichel, bek Phillip Naville, Ronny Jansen, Jap Stam, Dennis Irwin, Ryan Giggs, David Beckham, Roy Keane, Nikky But, Jesper Blomqvist, Dwight Yort, Andy Cole, Teddy Sheringham, Solksjear dan beberapa pemain cadangan.
Di pihak FC Hollywood ada Oliver Khan, Lottar Matheus, Markus Babbel, Thomas Linke, Steven Effenberg, Mario Basler, Alexander Zikler selain itu ada pula tiga orang saudaraku Mehmet (Muhammad)  Scholl, Hasan Salehamidzic dan Ali Daei dan sayang Ali tidak diturunkan.

Pertandingan baru berjalan 6 menit Bayern Munchen atau yang dikenal dengan sebutan FC Hollywood sudah unggul 1-0 berkat gol hasil tendangan Mario Basler. Posisi ini membuat konsentrasi pemain-pemain MU berantakan, mereka sering sekali melakukan kesalahan seperti passing yang tidak akurat, umpan yang tidak tepat. Kesempatan ini dimanfaakan oleh anak-anak FC Hollywood untuk terus menekan MU selama 90 menit. Belasan kali anak-anak FC Hollywood berhasil melepaskan tendangan ke gawang Peter tapi untunglah malam itu Peter bermain sangat cemerlang dan semua percobaan tendangan dapat ditahannya. Ada 2 tendangan Mehmet Scholl yang seharusnya bisa menjadi goal akan tetapi untung ada penjaga gawang kedua MU yaitu tiang gawang berhasil mementalkan tendangan Mehmet.
Di pinggir lapangan terlihat Sir Alex Ferguson sang pelatih legendaris dengan raut wajah yang sangat tegang, dia terlihat sesekali mengangkat kedua tangannya sambil mengunyah permen karet. Waktu terus bergulir, kick off babak kedua sudah dimulai. FC Hollywood terus menekan dan MU terus terkenan. Seperti biasa di 30 menit terakhir sir Alex melakukan penggantian pemain, Andy Cole digantikan oleh Teddy Sheringham striker yang sudah lebih gaek, kemudian Blomqvist digantikan oleh si babby face Solksjear. Kehadiran 2 orang striker baru ini membuat serbuan MU semakin menjadi-jadi, beberapa kali mereka berhasil menendang ke gawang HC Hollywood tapi untunglah Oliver Khan berhasil mementahkan semuanya. Waktupun sudah mendekati menit-menit terakhir tapi MU masih tertinggal 1 kosong. Penonton MU di Camp Nou sudah mulai lemas dengan wajah kuyu karena mereka akan pulang dengan kesedihan. Beberapa tempat duduk penonton sudah mulai kosong,  demikian juga penonton TV di rumah termasuk saya waktu itu, sudah siap-siap untuk menerima kenyataan bahwa MU cukup menjadi juara kedua saja dan puas dengan status juara EPL 1999 dan juara FA.
90 menit terakhir sudah lewat dan pengawas lapangan mengangkat papan yang bertuliskan angka 3 artinya ada tambahan 3 menit \”injury time\”. MU melakukan serangan kilat, serangan di menit pertama menghasilkan tendangan pojok yang diambil oleh \”ahlinya\” David Beckham, bola jatuh dikepala Dwight York kemudian diteruskan kepada Ryan Giggs, kemudian Teddy Sherimham berhasil menjebol gawang Khan dan skor berubah menjadi 1-1. Sudion Comp Nou seolah-olah mau rubuh akibat kegirangan penonton.
Baru beberapa detik saja pemain-pemain FC Hollywood memainkan bola dan langsung beberapa saat kemudian bola jatuh lagi ke kaki anak-anak MU dan langsung di bawah ke jantung pertahanan FC Hollywood dan dibuang ke samping lapangan oleh pemain belakang FC Hollywood dan menghasilkan sepak pojok lagi. Kembali David Beckham yang mengambil sepakan ini, bola jatuh di kepala Teddy Sheringham dan menyodorkannya kepada Solksjear yang berdiri di mulut gawang Khan dan gol. Skor berubah menjadi 2-1 untuk MU.
Tak lama kemudian wasit Perluigi Collima wasit yang sangat terkenal waktu itu meniup peluit akhir untuk mengukuhkan bahwa MU menjadi juara Champions Cup 1999. Luar biasa.
Pertandingan ini sangat menarik untuk dicermati sebagai contoh perjuangan dari orang-orang yang tidak mau menyerah. Walau semua orang mengatakan bahwa mereka sudah tidak bisa menang karena waktu telah habis tapi mereka tidak berhenti menyerang. If treble is possible whay not. Memang menjadi juara EPL dan FA sudah sangat membanggkan tapi menjadi juara Eropah jauh lebih berharga. Sepanjang itu mungkin, orang-orang bermental juara akan terus melakukan dan mengejarnya. Tidak ada kata cukup, tidak kata berhenti, tidak kata lelah jika anda ingin mencapai cita-cita anda.
Di sini juga terlihat kepiawaian seorang Alex Ferguson sebagai pelatih, bagaimana dia bisa menyusun satu team yang hebat yang walau ditekan terus-menerus selama 90 menit tapi mereka mampu mempertahankan semangat pantang menyerah. Sir Alex juga piawai dalam memahami kemampuan dan karakter para pemainnya, dia melakukan penggantian pemain sesuai dengan kebutuhan. Lihatlah hasilnya ketika Teddy dan Solksjear masuk, irama dan ketajaman permainan berubah drastis, pemain-pemain lain yang sudah mulai lelah menjadi bersemangat ketika dua orang ini berhasil menerobos pertahanan FC Hollywood.
Pertandingan ini adalah sebagai bukti ucapan yang mengatakan \”jangan pernah berhenti sebelum peluit akhir dibunyikan\”. Ini berlaku di dalam apapun usaha yang kita lakukan untuk meraih sukses. Banyak orang yang berhenti sebelum peluit akhir di mulai. Ketika mereka menjalankan suatu kegiatan lalu mereka menemui tantangan mereka langsung berhenti dan menyerah padahal belum sampai pada waktu yang ditentukan. Baru saja bekerja di satu tempat tapi kerena mereka menemui tantangan lalu mereka berhenti dengan mengatakan \”wah pekerjaan ini tidak cocok dengan saya\”. Atau ketika mereka memulai hubungan keluarga, baru beberapa bulan menikah mereka mulai menemui kekurangan masing-masing mereka sudah ingin berpisah. Baru beberapa bulan menjalankan bisnis lalu mereka mengalami kerugian, langsung mereka berhenti. Entah beberapa hal lagi sikap-sikap mudah menyerah yang sering dilakukan orang.
Sang juara sejati tidak pernah menyerah. Jadikanlah kisah nyata heroik dari MU di atas sebagai contoh ketika anda ingin berhenti di dalam setiap usaha-usaha yang anda lakukan. Bermainlah secara maksimal sampai peluit akhri dibunyikan. Jangan berhenti di tengah jalan. Selesaikan apa yang anda sudah mulai. Winners never quite and quiters never win. Itulah ucapan dari jendra Perang Dunia ke dua yang terkenal dari Inggir Sir Winston Churchill.
You are the winner!

Leave a comment

Your email address will not be published.