Jl Sabang dan Monas

Sudah lama saya tidak menjalani rute jalan Sabang dan Monas di Jakarta. Pada tahun 83/84 wilayah ini adalah \”jajahan\” saya sewaktu masih menjadi Petugas Dinas Lapangan (PDL) AJB Bumiputera 1912 Rayon Menteng. Hampir setiap hari saya melewati Jl Sabang dan sekitarnya melakukan sales door to door atau yang sekarang di kenal dengan sebutan Cold Call.
Minggu lalu sambil menunggu my wife bertemu dengan teman-temannya di daerah Tanah Abang  kesempatan itu saya gunakan untuk bernostalgia, berikut ini catatan saya.

Jl. Sabang adalah sebuah jalan di Jakarta Pusat yang membentang mulai dari ujung jalan Merdeka Selatan dekat kantor gubernur DKI sampai ke belakang gedung Sarinah di dekat jalan Thamrin yang terkenal itu. Dulu, hampir sebagian besar di kiri-kanan adalah gedung perkantoran swasta mulai dari Wisma Antara, Gedung Bursa Efek Jakarta, Hotel Sabang, gedung kantor Jakarta Lloyd, kantor Pengacara dan banyak lagi yang lain. Jalan Sabang dulu adalah sebagai pusat bisnis.
Sekarang Pemda DKI menjadikan jalan Sabang  menjadi pusat jajan atau Food Center. Hampir semua gedung dan pertokoan berubah menjadi restoran dan warung makan. Mulai dari makanan khas Indonesia seperti soto, sate, sup, ikan bakar, pempek palembang dan lain-lain yang banyak dijual di warung kaki lima yang moderen. Selain itu terdapat pula restoran besar seperti NATRABU masakan khas minang yang sudah menempati lokasi ini sejak tahun 50an. Ada pula restoran padang SEDERHANA dan GARUDA. Selain tiga restoran padang itu masih ada 2 atau 3 restoran padang besar lainnya.
Adapula masakan internasional seperti resotaran Arab Lebanon,masakan Eropan, masakan Jepang Hoka Hoka Bento yang merupakan outlet pertamanya di Jakarta. Ada pula restoran khusus untuk para vegetarian (mereka yang hanya mengkonsumsi sayur-sayuran saja).
Jalan Sabang terletak hanya sekitar 200 meter dari jalan Jaksa kawasan penginapan bagi para turis asing khusnya para back packers atau turis-turis yang bepergian menggunakan ransel dengan biaya terbatas. Pada saat jam makan siang dan makan malam hari terlihat para turis bule bersileweran di sepanjang jalan Sabang untuk menikmati segala macam makanan yang ada disana. Tak jarang pula para turis ini terlihat asyik menikmati warteg (warung tegal) makanan murah yang juga ada di jalan Sabang.
Sementara suasana di Monas sekarang juga sudah banyak berubah sejak dipindahkannya kegiatan Pekan Raya Jakarta (PRJ) ke Kemayoran. Monas sekarang menjelma menjadi taman dan hutan kota, banyak pohon-pohon besar tumbuh menutupi lahan bekas arena PRJ. Sementara di sekitar tugu Monas banyak ditanami tanaman hias yang terlihat sangat hijau di siang hari.
Dari luar tidak terlihat adanya keramaian di dalam kawasan Monas, tapi begitu kita masuk ke dalam ternyata banyak sekali warga yang memanfaatkan taman Monas sebagai tempat pelesiran di hari libur. Untuk masuk ke taman Monas tidak dipungut bayaran kecuali bagi mereka yang ingin naik ke puncak Monas baru mereka membayar. Di balik-balik pohon yang rindang banyak terlihat pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih yang ada diantaranya terlihat sudah diluar kewajaran sehingga tidak sedap dipangan mata.
Taman Monas terlihat sangat terawat dan terjaga sehingga dia benar-benar bisa menjadi paru-paru kota dan sekaligus menjadi tempat hiburan gratis buat warga kota.

Informasi ini dipersembahkan oleh:

Leave a comment

Your email address will not be published.