Jabatan Baru, Ujian Baru

Menarik juga perbincangan kami dan teman-teman jemaah subuh tadi pagi. Mumpung pagi ini libur, kami perpanjangan diskusi kami sampai jam setengah tujuh. Salah seorang rekan kami baru saja dimutasi/promosi akhir bulan lalu dari jabatannya secara mendadak. Mendadak karena beliau diberitahu sekitar jam 12 siang dan sorenya sudah harus hadir di kantor menteri untuk dilantik oleh menteri. Memang demikianlah tradisi di departemen keuangan tempat beliau mengabdi, seseorang  harus siap dimutasi dan ditugaskan dimana saja dan kapan saja.
Mungkin hikmah dari doa beliau karena jabatan  sekarang terlalu banyak cobaannya. Tapi setelah beberapa hari ini beliau menduduki jabatan itu, ternyata tempat ini juga tidak kalah \”seramnya\” dari yang sebelumnya. Beliau berharap tadinya di tempat ini beliau bisa lebih rileks dari pekerjaan yang rutin dan berat. Setiap hari penuh jadwal pertemuan, rapat, kunjungan tamu dan lain-lain. Ternyata di tempat baru tidak kalah sibuknya, apalagi posisi beliau sekarang semakin dekat dengan menteri. Setiap saat beliau harus siap dipanggil. Ini terbukti, baru 2 hari beliau di posisi itu sudah beberapa hari ini beliau harus hadir di dalam rapat-rapat bersama menteri, tak peduli, hari libur Sabtu dan Minggu dari pagi sampai malam. 
Yang menjadi perhatian beliau adalah sangat terbatasnya waktu untuk ibadah. Rapat-rapat panjang telah menjadi penghalang bagi beliau untuk istiqomah menjalankan sholat tepat waktu. Untuk beribadah yang lain. Sering rapat berjalan non stop dari pagi sampai sore. Kemarin beliau mencoba memberanikan diri untuk minta izin dari rapat untuk sholat. Semua mata melihat dengan keheranan, karena selama ini tidak ada yang berani melakukannya. Ini tampaknya sudah menjadi gejala umum di dalam rapat pemerintah, organisasi, ataupun bisnis. Sholat tidak menjadi prioritas utama. Urusan dunia yang harus didahulukan baru urusan Allah. Dengan kejadian ini beliau bertekad untuk merubah kebiasaan itu terutama di dalam divisi yang beliau pimpin. 
Saya juga mempunyai pengalaman yang sama. Ketika aktif dikepengurusan ABAI dulu, rapat terus berjalan meski waktu sholat telah tiba. Tidak ada yang berhenti, hanya saya dan beberapa orang teman saja yang \”ngacir\” pergi sholat. Kata seorang teman kebiasaan rapat panjang yang tidak mengindahkan waktu sholat juga terjadi bahkan di lembaga keuangan syariah terbesar di tanah air ini. Para direksinya tetap saja rapat meski waktu sholat telah tiba. Dulu pada awalnya memang mereka berhenti, tapi sekarang sudah berubah. Dalam rapat bisnispun demikian, saya sering rapat atau bertemu klien di mall atau cafe, rekan saya yang sama-sama Islam tetap saja meneruskan perbincangan mereka sementera waktu sholat Magrib sudah tiba dan akhirnya lewat begitu saja. 
Kita memang masih banyak mendahulukan urusan dunia dari urusan akhirat, kita lebih cenderung mengorban kan hal yang sesungguhnya sangat penting. Urusan dengan Allah yang paling penting, karena Allah ridho maka semua urusan dunia ini mudah, bahkan Allah memberi lebih banyak dari yang diminta.
Saya berdoa, semoga Allah memberikan kekuatan kepada rekan saya ini untuk kuat menjalani tugas barunya dan tetap istiqomah dalam beribadah. Amin.

Leave a comment

Your email address will not be published.