Hari Kartini 2010

Tadi malam ketika saya ingatkan my son untuk belajar dia menjawab \”ngapain harus belajar sih pa, kan besok kesekolah cuma untuk acara hari Kartini\” jawabnya. Barulah saya ingat bahwa hari ini adalah hari kelahiran Raden Ajeng Kartini salah satu pahlawan nasional yang telah berjuang memajukan dan memerdekakan negeri ini dari pebodohon dan penjajahan.

Jam setengah tujuh Nisha keponakanku sudah datang dengan pakaian kebaya baju wara putih dan bagian bawah kebaya batik, dia terlihat cantik sekali. Dia menyusul my son yang ternyata masih mandi. Nisa menunggu sampai my son selesai mandi dan mengenakan pakaian tradisional Jawa. Dari raut mukanya terlihat¬† sekali dia kurang sreg dengan berpakaian seperti itu \”aku nggak pede pa pakai ini\” katanya. Lalu kami nasehati, pakai aja karena ini menunjukkan kita patuh dan mengikuti kegiatan sekolah\”.¬†
Setelah berpakaian, kedua boy and girl siap berangkat ke sekolah SD Amalina di Pondok Areng Tangerang Selatan diantar oleh mas Suparman.
Memperingati hari Kartini mungkin tidak \”seheboh\” sepuluh atau lima belas tahun lalu ketika jaman pemerintah Orde Baru. Saat itu setiap peringatan hari nasional menjadi event yang sangat penting. Ada saja kegiatan besar yang diadakan baik upacara, perlombaan, lomba berpakaian, dan macam-macam. Sekarang ini rasanya, berbeda. Kita tidak tidak lagi menganggap hal seperti itu penting, hari-hari penting nasional lalu begitu saja. Apakah memang beginilah sikap benar? ataukah mungkin cara dulu yang benar? Apakah ini tanda-tanda nasionalisme menurun, ataukah hal seperti itu sebenarnya tidak perlu? Apakah ini tanda-tanda dari globalisasi yang diingat hanya hal-hal yang berdampak global. Misalanya perubahan iklim, hari anti korupsi, atau hari-hari penting dunia lainnya. Wallahu alam.

Leave a comment

Your email address will not be published.