Perantau Vs Penduduk Asli

Menarik juga diskusi saya minggu lalu dengan rekan bisnis saya dalam perjalanan pulang setelah kami berkunjung ke beberapa klien kami. Kami becerita tentang perkembangan karir saudara dan teman-teman kami. Ada satu gejala yang menarik, rata-rata para perantau lebih sukses dari mereka yang lahir dan besar di Jakarta. Mungkin hal ini tidak selamanya  benar, tapi itulah beberapa fakta yang kami temukan.
Sebagai contoh, hampir semua generasi perantau seangkatan teman saya saat ini sudah mempunyai karir dan kehidupan yang mapan sementara saudara dan teman-teman mereka yang  lahir dan besar di Jakarta masih banyak yang belum mapan. Saya pun memperhatikan hal yang sama, banyak juga teman-teman saya yang \”asli\” Jakarta kondisi kehidupannya masih biasa-biasa saja di bandingkan dengan teman-teman saya yang berasal dari luar Jakarta.

Saya punya teman dekat sekali sewaktu pertama kali datang ke Jakarta namanya Suharsono  (mas Harsono) asal Magetan, Madiun. Kami sama-sama sampai di Jakarta tahun 1983 dan mulai berkarir di Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 Rayon Menteng sebagai agen. Kami bekerja dengan cara door to door dengan wilayah \”jelajahan\” kami meliputi Jakarta Pusat, mulai dari Setia Budi di Selatan sampai ke Stasiun Kota di Utara. Dengan Harsono kami mempunyai kisah perjuangan yang tak akan pernah terlupakan bernama \”Perjuangan Pangeran Jayakarta\” yang insya Allah akan saya tuliskan secara terpisah sebagai janji saya pada mas Harsono. 
Sekarang setelah 27 tahun berlalu mas Harsono menjadi pengusaha property yang sangat sukses. Dia memiliki Property Marketing sendiri namanya M PRO yang mempunyai kantor pemasaran hampir di seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya. Rumahnya besar sekali di Pondok Indah, segala merek mobil mewah dia punya. Namun demikian mas Harsono tetaplah sama dengan yang dulu, orangnya rendah hati dan murah senyum. Yang menarik dari mas Harsono dia hanya bermodalkan ijazah SMA saja. Pernah mencoba kuliah tapi berhenti.
Contoh berikut ini adalah rekan saya Abdul Aziz asal Temanggung Jawa Tengah. Beliau ini jauh lebih muda dari saya tapi suksesnya luar biasa. Di usia yang masih muda ini beliau sudah berhasil mempunyai perusahaan besar di Jakarta, omsetnya puluhan milyar setahun. Dengan bisnis sebesar itu mas Aziz sekarang memilik rumah harga diatas 2 milyar, 4 mobil mewah kesenangannya dan property lainnya.
Contoh lain adalah rekan saya Suroyo, anak muda asal desa Gerpule Kulonprogo, Yogyakarta. Di usia yang begitu muda Suroyo sudah mempunyai perusahaan keagenan asuransi DSE yang mempunyai omset puluhan milyar dalam setahun. Rumah mewah, mobil mewah dan property sudah dimilikinya. Perjalanan ke luar negeri ke lebih dari 30 negara dalam waktu 5 tahun.
3 contoh di atas adalah beberapa orang saja dari teman dekat saya sesama perantau yang sukses di Jakarta. Saya mempunyai banyak lagi teman-teman dan saudara yang meraih sukses besar di Jakarta.
Sementara teman-teman saya yang lain kebanyakan para \”mukimin\” atau penduduk asli Jakarta atau mereka yang lahir dan besar di Jakarta kondisi kehidupan mereka biasa-biasa saja. Lalu apa yang membedakan?
Yang membedakan adalah kenyamanan atau confort. Para perantau begitu datang ke Jakarta langsung berhadapan dengan ketidak nyamanan. Begitu menginjakkan kaki di Jakarta hati mereka langsung dihadapkan pada pertanyaan, mau tinggal dimana? Iya, mau tinggal dimana? Secara umum tidak ada satu orangpun di Jakarta mengharapkan ada tambahan penghuni lagi di rumah mereka, karena rumah mereka sudah penuh karena ukurannya dibuat pas-pasan. Mereka juga tidak mau menambah pengeluaran harian mereka. Maka jarang sekali ada \”undangan\” kepada sanak keluarga untuk datang ke Jakarta. Rata-rata para perantau datang ke Jakarta dengan status \”tamu tak diundang\” atau unvited guest. 
Kegundahan seperti itulah, salah satu masalah awal yang dihadapi oleh perantau. Walau akhirnya mereka berhasil juga mendarat di rumah salah satu saudara, kerabat atau teman tapi dengan niat yang kuat bahwa ini hanya untuk sementara. Sementara mampu menyewa rumah sendiri, hidup sendiri. Untuk menyenangkan penghuni rumah \”sementara\” itu mereka tak segan-segan membantu rumah, memasak atau mengerjakan pekerjaan lainnya yang meringankan tuan rumah.
Untuk mendapatkan uang, mereka juga tidak segan-segan mengerjakan pekerjaan apa saja. Mulai dari tukang kayu, jualan kue, kenek angkot, kerja bengkel dan segala macam pekerjaan yang bisa menghasilkan uang yang penting halal. Mereka  punya target bahwa dalam waktu sesingkat-singkatnya mereka sudah harus bisa tinggal di rumah kontrakan sendiri dan bisa memenuhi hidup sendiri. Biasanya dalam waktu tiga bulan mereka sudah bisa melewati tantangan itu.
Di samping menghadapi masalah tempat tinggal, para perantau juga menghadapi masalah teman dan kenalan. Mereka belum kenal siapa-siapa di Jakarta. Untuk bisa hidup di Jakarta seseorang harus mempunyai banyak teman, untuk itu mereka berani buka mulut untuk berkenalan dengan sebanyak-banyaknya orang. Lama-lama kelamaan mereka mempunyai banyak teman. Teman-teman inilah kemudian yang kemudian membantu mereka untuk membangun karir mereka ke jenjang yang lebih baik.
Para perantau juga haus dengnan ilmu pengetahuan dan keimanan. Mereka menyadari betapa pentingnya mempunyai ilmu. mereka melihat orang-orang yang sukses mempunyai ilmu yang tinggi. Cara berkomunikasi mereka juga sangat bermutu, keahlian mereka banyak sekali. Melihat hal itu para perantau termotivasi untuk menambah ilmu di kursus-kursus bahkan mereka mengambil kuliah di malam hari. 
Karena di dera oleh begitu banyak kesulitan, kadang membuat air mata mereka menetes bercampur dengan keringat. Tak jarang mereka merasa hampir putus asa dan ingin mengatakan \”lebih baik pulang kampung saja\” mereka mencari kekuatan, perlindungan, kasih sayang, perhatian. Disitulah mereka menyadari betapa mereka memerlukan pertolongan dari Yang Maha Penolong, Maha Kasih, Maha Penyayang, Allah tuhan Yang Maha Esa. Mereka sadar akan kehadiran Allah sebagai satu-satunya Penolong, mereka meningkatkan ibadah mereka, mereka menjaga sholat mereka walau dalam keadaan sulit, mereka banyak menghadiri pengajian, mendengarkan ceramah agama, membaca-baca buku tendanga do\’a bertanya kepada ustad dan lain-lain. Sejalan dengan meningkatnya keimanan, meningkat pula kesuksesan mereka.
Dengan melalui begitu banyak cobaan, membuat para perantau menjadi terlatih dan termotivasi setiap saat. Mereka tidak mau masuk kedalam \”comfort zone\” zona kenyamanan. Mereka pertahankan kemampuan mereka yang sudah tinggi itu untuk mencapai cita-cita yang lebih besar, sukses yang lebih dahsyat lagi. Itulah yang mengantarkan mereka ke puncak karir mereka.
Bagaimana dengan mereka yang asli atau lahir dan besar di Jakarta? Mereka tidak menghadapi tantangan seperti para perantau. Mereka sudah nyaman, tempat tinggal mereka sudah ada walau itu rumah orang tua mereka. Tidak perlu cepat-cepat pergi dari rumah karena rata-rata orang tua masih membolehkan anaknya tinggal di rumahnya sampai anak mereka menikah. Al hasil, si anak merasa nyaman dan tidak ada \”keharusan\” untuk pindah. Tapi kondisi demikian membuat mereka terlambat untuk memikirkan tinggal di rumah sendiri, hidup mandiri bahkan banyak di antara mereka tidak pernah berfikir untuk hidup mandiri. Semakin kaya dan sayang orang tua, semakin kurang motivasi anak untuk memiliki rumah sendiri. Tidak hanya masalah tempat tinggal tapi juga masalah mengatur hidup. Kalau masih tinggal di rumah orang tua, maka semuanya masih dikendalikan oleh orang tua. Akibatnya anak tidak mempunyai kemandirian mengatur dirinya sendiri.
Bekerja? untuk apa buru-buru bekerja karena orang tua masih mampu membiayai. Uang kuliah, transportasi, jajan buat traktir pacarpun mash dikasih oleh orang tua. Ini tentunya sangat nyaman dan membuat mereka terlena dan tidak buru-buru mencari kerja. 
Demikian juga dengan teman dan keluarga, mereka sudah memiliki semuanya. Kalau mereka perlu mereka tinggal menghubungi mereka tanpa kesulitan.
Adiwarman Karim dari Karim Consulting (rekan saya sama-sama di Takaful dan BMI) beberapa bulan lalu pernah menulis di harian RUPUBLIKA tentang Mitos Ekonomi Yahudi. Intinya beliau menulis bahwa sebenarnya tidak ada kelebihan orang Yahudi dari bangsa lain di dunia ini. Salah satu faktor pemicu untuk sukses dan maju bagi mereka adalah karena mereka itu \”perantau\” di seluruh dunia ini. Orang Yahudi tidak pernah diterima sebagai warga di negara manapun. Kondisi itu membuat mereka berjuang untuk mendapatkan tempat dengan cara menguasai apa yang mereka bisa. Semangat sebagai perantau itupulah yang membuat para Cina perantauan mencapai sukses di seluruh dunia. Perasaan seperti itu pula yang membuat sukses para Minang perantauan sukses di nusantara dan dunia.
Tulisan ini bukan bertujuan menghakimi para \”mukimin\” Jakarta bahwa mereka tidak bisa sukses. Banyak juga merek yang meraih sukses dengan cara mereka masing-masing. 
Inti dari tulisan ini adalah untuk sukses seseorang salah satunya harus berani ke luar dari \”comfort zone\” wilayah nyaman. Banyak orang tua di Jakarta yang bijaksana dengan mengirim anaknya bersekolah dan kuliah di luar kota bahkan di luar negeri. Dengan demikian anak mereka belajar mandiri dan mempunyai lingkungan baru. Sehingga mereka mempunyai persepsi dan pandangan baru tentang sukses.
Islam mengajarkan konsep Hijrah. Ketika nabi Muhammad SAW tidak lagi merasa nyaman berdakwah di Mekkah kemudian Allah memerintahkan beliau pindah ke Madinah bersama-sama dengan pengikutnya. Dan terbukti, setelah mereka hijrah ke Madinah Islam berkembangan sangat pesat hingga sampai ke seluruh dunia sampai sekarang ini. 
Merantau sama dengan Hijrah, apakah anda sudah Merantau?

1 comment

  1. Assalamu'alaikum,Salam kenal Pak Taufik,Senang membaca tulisan Pak Taufik tentang Perantau vs Penduduk Asli,dan saya izin saya share di page facebook saya agar menjadi pencerahan bagi kita semua

Leave a comment

Your email address will not be published.