Rectifying Bad Workmanship (RBW)

Saya pertama kali kenal dengan istilah ini ketika mempelajari polis asuransi Construction Erection All Risks (CAR/EAR) sekitar 20 tahun lalu. Salah satu kondisi yang bisa dijamin di dalam polis asuransi CAR/EAR adalah Rectifying Bad Workmenship atau membetulkan kerusakan akibat pekerjaan buruk (ngawur) yang dilakukan oleh pekerja ataupun kontraktor. Artinya jika polis asuransi CAR/EAR ditambahkan dengan klausula Rectifying Bad Workmenship maka jika ada kerusakan akibat kesalahan pekerja maka kerusakan itu diganti oleh asuransi.
Nah kali ini saya tidak ingin membahas mengenai asuransi. Masalah RBW tidak hanya terjadi dalam hal konstruksi tapi banyak pula terjadi dalam kehidupan. Hampir setiap orang melakukan kesalahan yang menyebabkan kerusakan. Kerusakan tidak hanya dalam bentuk fisik tapi juga dalam bentuk mental. Tapi sayangnya resiko kerusakan mental akibat RBW tidak semuanya bisa diasuransikan sehingga harus ditanggung sendiri oleh pelaku atau penanggung jawabnya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan kesalahan, di dalam keluarga di bisnis atau dalam pergaulan sosial. Disengaja ataupun tidak, kita sulit untuk terbebas dari malah ini. Akibat dari RBW kadang tidak terlalu serius sehingga bisa langsung dibetulkan misalnya dengan meminta maaf atau memperbaiki sendiri. Yang menjadi masalah adalah kalau kesalahan yang terjadi sangat fatal sehingga merusak sendi-sendi penting dalam pergaulan ataupun bisnis. Nah, ini penyelesaiannya tidak sederhana. Perlu usaha keras, waktu yang lama serta pendekatan khusus sampai semuanya menjadi baik kembali. Kadang saking besarnya kerusakan yang terjadi masalahnya sampai diwarisan kepada generasi dan keturunan berikutnya. 
Pekerjaan RBW itu tidak mudah. Jauh lebih sulit dari pada membangun baru. Kalau membangun sesuatu yang baru kita bisa leluasa menata sesuai dengan kondisi yang ada dengan visi kita. Kita bebas membuat model dan arah tujuan yang ingin kita capai. Berbeda dengan RBW. Di RBW kita harus menyusun sesuatu kembali. Sesuatu yang sudah pernah ada tapi sekarang dalam keadaan rusak dan kusut. Itu tidak mudah. Menata kembali sambungan yang sudah putus. Menyambung kembali ikatan yang sudah retak. Membangun kepercayaan yang terlanjur sudah hilang. Mengangkat kembali pamor yang sudah jatuh. Dalam dunia kesehatan kita sering mendengar istilah \”mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati\”. Istilah itu benar sekali adanya. 
Tapi sering dalam hidup ini kita dihadapkan pada keadaan yang mengharuskan kita melakukan pekerjaan RBW ini. Kita tidak bisa membangun yang baru karena itu terlalu berat. Misalnya dalam berbisnis. Kita sudah mempunyai core business atau bisnis inti dalam satu bidang. Karena satu kesalahan reputasi kita tercemar di industri itu. Sementara business itu adalah satu-satunya bisnis yang kita tekuni lagi pula tidak mudah membangun bisnis baru di industri berbeda. Untuk terus bertahan kita harus mampu memberbaiki kesalahan itu ditengah-tengah tekanan dari pelaku industri. Kompetitor yang sengaja menjadikan kesalahan kita sebagai sasaran tembak. Supplier yang mulai ragu dengan kemampuan kita. Karyawan yang mulai kehilangan semangat untuk bekerja mengangkat nama perusahaan. Demikan juga dengan bank dan lembaga keuangan yang mulai enggan meminjamkan dana. 
Diperlukan kerja berat untuk melakukan tugas RBW ini. Bisa, tapi diperlukan kemampuan, kesabaran serta mental baja dan \”muka tebal\”. Salah satu motivasi yang sangat bisa membantu untuk melakukan tugas ini adalah  membuat afirmasi yang mengatakan \”saya ingin membuktikan bahwa saya adalah yang terbaik, kejadian yang pernah terjadi adalah sebuah kekeliruan, it is really not me\”. Apapun tekanan yang datang tetaplah angkat kepala anda dan menatap ke depan dengan mengatakan dalam hati \” I would show you the real me, very soon\”. Semakin banyak tekanan seharusnya semakin kuat semangat anda untuk bekerja keras membuktikan kepada mereka. Jadikanlah tekanan itu sebagai genarator pembangkit semangat anda. Terus berjuang sampai semuanya benar-benar pulih kembali.
Sekali lagi kita harus perpegang pada prinsip bahwa mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati. Berhati-hati dalam setiap tindakan dan perbuatan, itu jauh lebih baik. Jika ragu mintalah pendapat orang yang dekat yang bisa kita percayai. Jika resikonya terlalu besar hentikan saja. Jika itu sudah keluar dari koridor norma-norma yang ada hentikan segera. Karena pasti, kalau semua sudah berada di luar kewajaran hampir dipastikan akan terjadi masalah. Dengan mengikuti semua norma yang ada saja resikonya sudah cukup besar apalagi dengan kondisi yang sudah di luar kewajaran!

You can come back! Berita baiknya, kita semua bisa kembali dari kondisi yang tidak mengenakkan apapun itu. Anda bisa kembali ke pentas dan menjadi terkenal setelah mengalami masa-masa sulit. Ingat semua juara pernah dikalahkan. Muhammad Ali pernah berkali-kali kalah dan akhirnya menjadi juara tinju dunia yang paling legendaris. Nelson Mandela pernah lebih dari 25 tahun mendekam dalam penjara dan akhirnya menjadi presiden pertama negara Afrika Selatan. Donald Trumph bisnisnya pernah hancur dan mempunyai hutang miliaran dollar sekarang kembali menjadi orang terkaya di Amerika.

Come on,  get up and fight!

Semoga bermanfaat. Semoga Allah senantiasa melindungi kita, amin.

Leave a comment

Your email address will not be published.