Beijing, Negeri Para Leluhur

Bangsa Melayu adalah bagian dari bangsa China, percaya atau tidak? Maaf, kita bukan sedang belajar sejarah atau antropologi. Ini sekedar untuk membuka fikiran untuk memahami tulisan saya berikut ini. Tapi benar, menurut sejarah bahwa bangsa Melayu yang mendiami wilayah Asia Tenggara berasal dari daratan Asia khusunya Tiongkok. Ada yang berasal dari Hindia Belakang sebutan untuk negeri Mongolia, Tibet dan sekitarnya. Ada yang berasal dari China bagian selatan dekat perbatasan Myanmar dan Vietnam. Makanya kalau dillihat dari bentuk tubuh dan bahasa banyak kesamaan antara bangsa Melayu dengan orang Tiongkok.  Sebagian orang Melayu mewarisi keturunan dari Asia barat, mulai dari Arab, Persia dan Tamil, termasuk saya sendiri. Dari garis ayah sudah  dapat dipastikan saya berasal dari Asia Barat kemungkian Arab karena nenek moyang  saya berasal dari Aceh. Tapi dari garis ibu saya yakin mewarisi darah Asia Timur karena mereka berkulit kuning, tubuh kecil/sedang, sementara saya kulit gelap, tubuh tinggi dan suara bariton.
Pintu Utara Forbidden City

Maaf,  kita tidak punya waktu untuk membahas tentang asal-usul lebih lanjut. Antara tanggal 27 dan 30 April 2011 saya Alhamdulillah berkesempatan menginjakkan kaki di Beijing ibu negeri Tiongkok. Jadi saya sudah mencoret daftar negara China yang saya tulis di dalam buku impian saya.
Saya berangkat dari Shanghai jam 8 pagi menumpang pesawat China Airline yang sedang menuju ke Paris. Saya turun di Bandara International Capital Airport Beijing jam 10. Sepanjang penerbangan  dari udara saya melihat daratan antara China yang begitu luas. Sebagian besar sudah tergarap sementara ada lahan tandus. Beberapa saat sebelum mendarat saya sudah melihat betapa besarnya kota Beijing. Kota yang disesaki oleh sekitar 20 juta jiwa, 5 juta kendaraan hilir mudik setiap hari. Begitu mendarat saya memasuki terminal penumpang sebuah bangunan megah yang haru selesai direnovasi menjelang hajat Olimpiade Beijing tahun 2008 lalu. Kondisinya tak jauh berbeda dengan bandara Pudong di Shanghai.
Beijing Capital International Airport
Berkunjung ke Beijing bak pulang kampung ke tanah leluhur. Beijing sarat dengan peninggalan sejarah bangsa China yang mempunyai sejarah panjang dengan maha karya manumental yang sulit ditemukan di negeri lain. Selain wisata sejarah, Beijing juga memanjakan wisatawan dengan pemandangan indah dari arsitektur kota yang demikian lengkap dan moderen. Maklumlah Beijing baru saja menjadi pusat perhatian dunia, tempat berkumpulannya puluhan ribu atlit pilihan dari seluruh dunia untuk berlaga dan mengukir prestasi di ajang Olimpiade Beijing 2008 lalu. Beijing adalah kota kelas dunia, semua fasilitas \”word class punya\”.Jalan-jalan lebar dan diatur sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kemacetan. Sarana kereta api dan subway tersedia di dalam perut kota. Bangunan pertokon, perkantoran dan sarana umum tertata dengan rapi. Yang menarik, meski penduduknya 20 juta tapi kita tidak melihat orang berkerumum seperti di pasar di Indonesia. Sarana transportasi tersedia dengan harga murah. Ongkos bis dengan kwalitas sama dengan Busway di Jakarta hanya 0,4 Yuan atau sekitar Rp. 500 sekali jalan kemanapun.
Muslim Restoran, dijamin halal….
Setelah ke luar dari bandara kami masuk Capital Airport Expressway menuju tempat makan siang berjarak kira 15 km di sebelah utara. Setelah ke luar dari express way kami masuk jalan akses dan sampailah kami di sebuah restoran berukuran sedang bertulis Moslem Restaurant. Saya sangat bersemangat karena ada kesempatan untuk makan bebas karena sebelumnya kami makan di restoran biasa yang harus berhati-hati. Ada ratusan restoran muslim di Beijing karena muslim adalah penduduk mayoritas nomor 2 di Beijing. 
Selepas makan siang kami langsung menuju ke Forbidden City atau kota terlarang berjarak sekitar 10 km. Hari sekitar jam 2 siang, udara sangat cerah. Sudah ada ribuan turis berdiri di depan pintu selatan tempat kami masuk. Forbidden city adalah kawasan istana Kaisar tempat tinggal sang Kaisar bersama dengan 99 orang selirnya. Bangunan ini sudah berusia 300 tahun dan masih terawat dengan baik.
Para Pensiunan Senan Taichi di Summer Garden

Diperlukan waktu 2,5 jam untuk menelusuri seluruh bangunan dari pintu selatan sampai ke pintu utara. Di ujungnya  bertemu dengan Tiannamen Square atau Taman Tiananmen tempat yang sangat terkenal di seluruh dunia karena disanalah pada pertengahan tahun 1990an pemerintah China menggilas puluhan mahasiswa yang sedang mengadakan demonstrasi.
Jalan lebar untuk sepeda dan pejalan kaki

Menjelang sore kami pindah ke lokasi lain, ke kuil tempat sang Kaisar berdoa. Sebuah kuil berbentuk pagoda yang dibangun dengan bahan kayu. Bangunan ini berada di tengah-tengah taman yang indah. Di Beijing banyak sekali taman seperti ini. Setiap hari taman ini dikunjungi oleh para pensiunan dan orang tua, untuk berolahraga, bernyanyi, main kartu atau main layangan untuk membunuh waktu. Para pensiunan di China pendapatan mereka lumayan besar minimal mereka menerima 2,00 Yuan atau 2,5 juta rupiah.
Heaven Temple

Terlalu banyak objek wisata sejarah yang bisa dikunjungan di Beijing. Salah satunya dalah Summer Palace tempat kaisar selama musim panas. Tempatnya di pinggir danau seluas 72 hektar yang sengaja dibuat untuk kaisar. Disana tampak ratusan pensiunan sibut senam taichi dan main layangan.
Summer Palace

Menjelang siang kami berangkatan menuju Great Wall atau tembok raksasa China yang sangat terkenal itu. Namun sebelumnya kami mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Tempatnya sangat besar ada puluhan bis wisata yang parkir di halamannya. Yang menarik salah satu restorannya adalah restoran muslim yang menyediakan mushola. Kembali saya bisa melepaskan selera setelah beberapa kali harus di tahan. Pada saat makan itu kami bertemu dengan segerombolangan orang Indonesia yang salah satunya saya kenal dia adalah pelawak yang sekarang menjadi anggota DPR. Tampakanya rombongan itu adalah anggota DPR yang sedang mengadakan studi banding yang diributkan di tanah air.
Great Wall up view

Kira-kira 1 jam dari restoran itu sampailah kami di Great Wall melalui High Way ke Inner Mongolia. Jalan Highway itu sempat macet karena banyak sekali truk-truk dari Inner Mongolia yang parkir di pinggir jalan menunggu giliran masuk ke dalam kota Beijing.
Dari kejauhan sudah tampak barisan tembok memanjang di atas bukit batu. Semakin lama semakin dekat dan sampailah kami di salah satu pintunya. Saya perhatikan konstruksi temboknya. Sepertinya temboknya terdiri dari batu coran yang disusun rapi. Pada awal pendakitan lebar tembok sekitar 3 meter, semakin ke atas semakin sempit. Saya mencoba menaiki anak tangganya, saya berhasil mencapai di pos ke 2 berjarak sekitar 200 meter dari tempat asal. Sebenarnya masih ada pos 3 yang lebih tinggi tapi saya putuskan untuk sampai di pos 2 saja karena takut tidak kuat untuk turun.

Great wall down  view
Melihat konstruksinya saya benar-benar kagum dengan kehebatan bangsa China. Tembok itu mulai di bangun sekitar 2,500 tahun lalu. Tembok itu membelah daratan China sepanjang 6,000 km. Melihat hasil karya seperti ini tidaklah heran jika sekarang ini China mampu menjadi kekuatan ekonomi dunia yang terbesar. Mereka adalah bangsa pekerja keras, pintar dan pemberani.
Bird Nest Stadium

Jam empat sore kami sudah kembali ke dalam kota Beijing selanjutnya kami singgah ke Bird Nest Stadium stadium megah yang dikellilih oleh lapangan yang begitu luas. Bird Nest adalah tempat berlangungnya pembukaan Olimpiade 2008. Tempat puluhan ribu atlet dari seluruh dunia berkumpul. Konstruksi bangunannya sangat mengagumkan. Seperti sarang burung dengan besi baja yang melilit dan sambung menyambung meyatukan bangunan stadium.

Setelah lelah mengelilingi Bird Nest kami menuju tempat perbelanjaan tempat kami membeli oleh-oleh untuk orang-orang yang kami cintai yang sudah beberapa hari kami tinggalkan.

Rindu Tanah Air, naik Garuda

Beijing kota yang sangat bersahabat, tidak terlalu metropolitan tapi moderen dan menyenangkan. Saya berharap satu saaat bisa datang kembali bersama keluarga. Amin

Leave a comment

Your email address will not be published.