Tuntutlah Ilmu Walau Sampai ke Shanghai

Rasulullah Muhammad SAW 1,400 tahun lalu dalam satu hadisnya mengatakan \”tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China\”. Ada yang mengatakan hadis itu bukan hadis shoheh. Apa pun, Pernyataan itu benar adanya.  Saya sudah membuktikannya. Antara tanggal 25 sampai dengan 30 May 2011 lalu saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di negeri Cina. Kepergian saya kali ini berkat \”sponsor\” dari rekan bisnis saya Zurich Insurance Indonesia.

Shanghai salah satu kota terbesar di negeri Panda. Begitu mendarat di bandara Pudong International Airport sudah terlihat kemegahan negeri itu. Dari jendela pesawat tampak betapa besarnya bandara ini. Terlihat hamparan beton memanjang sekitar 5 kilometer tempat puluhan pesawat terbang berbadan lebar mangkal. Begitu keluar dari badan pesawat terlihat bangunan terminal yang begitu megah bak sebuah mall mewah, ada 3 tiga bangun terminal penumpangnya. Berada di dalam terminal anda merasa benar-benar berada di negeri jauh, negeri orang. Sulit untuk dicari kesemaannya dengan bandara di negeri kita. Ah, bandar udara Soekarno (Soeto)  Hatta Jakarta, jauh… . Dulu, 25 tahun lalu  memang bandara Soeta termasuk yang tercanggih di Asia, itu dulu. Apalagi kwalitas pemeliharaanya tidak maksimal sehingga terlihat kumal dan mirip terminal bis antar kota. Penuh sesak dengan orang serta aseorisnya dan iklan dipasang begitu saja sehingga terlihat semerawut.

Parkir Pesawat
Corridor ke Imigrasi


Koridor dan interiornya sangat bagus, luas dan canggih. Yang menarik adalah pada saat pemeriksaan di imigrasi. Petugas menggunakan layar monitor seperti I Pad. Setiap passport dan visi discan langsung terlihat foto dan informasi mengenai kita. Kemudian petugas meminta kita menatap ke kamera kecil di depan dia dan langsung ke luar wajah kita di sampai foto kita di passport. Dan Selesai. Rata-rata setiap orang hanya memerlukan waktu 30 detik untuk selesai pemeriksaan.

Bangunan terminalnya sungguh sangat canggih, kokoh dan besar. Begitu ke luar terlihat sepi-sepi saja karena tiap-tiap pintu ke luar ke satu jalan untuk beberapa tujuan kedatangan saja. Terlihat jalan raya yang mulus dan berlapis-lapis. Dari yang terlihat saja ada 3 lapis, belum lagi yang berada di under pass. Antara ketiga terminal dihubungkan oleh beberapa jalur. Selain jalur jalan untuk mobil dan bis, ada pula jalur kereta api supercepat dari bandara menuju pusat kota Shanghai. Diperlukan waktu hanya sekitar 7 menit untuk jarak 45 km. Yang menarik pembangunan kereta api itu hasil pengembangan teknologi insinyur Cina sendiri.

Jalan Fly over dan under pass di Pudong Int\’l Airport
Suasana Jalan Raya Dekat TV Tower

Sepanjang jalan menuju ke dalam kota Shanghai anda dibut takjub oleh kwalitas jalan dan infrastruktur lain. Sepanjang 45 km anda berada di atas jalan layang. Kalau di Jakarta seperti jalan layang Cawang,-Tanjung Priok. Tapi ini jauh lebih panjang. Tiap-tiap 1 km anda akan bertemu jalan exit seperti di Simpang susun Semanggi atau seperti di Cawang. Diantara kiri-kanan jalan ada jalur kereta express yang menghubungkan Bandara Pudong dengan pusat kota. Diperlukan waktu hanya sekitar 7 menit!

Sepanjang jalan anda hanya akan melihat bangunan apartemen dan perkantoran tinggi. Jauh berbeda dengan pemandangan ketika berjalan dari bandara Soeta ke dalam kota. Pemandanga pertama anda adalah tambak rakyat lengkap dengan gubugnya. Setelah masuk tol dalam kota dari atas anda diertontonkan dengan gubug-gubub dan perkampungan kumuh warga Pademangan. Demikian juga ketida sudah berada di jalan layang. Anda akan melihat rumah berdempet-dempet di sekitar grogol.

Tidak ada kemacetan di Shanghai, kalaupun ada hanya antri kendaraan di lampu merah sekitar 1 atau 2 menit. Semua kendaraan mengalir dengan kecepatan sedang. Jarang sekali ada perempatan jalan yang saling bersinggungan. Semua jalan dibuat melingkar atau jempatan layang yang saling memotong.
Kendaraan yang lalu-layang sebagian besar kendaraan pribadi terutama sedan, mungkin sekitar 75%. Beda dengan di Jakarta sebagian besar kendaraan adalah type minibus seperti Avanza dan Kijang. Yang menarik adalah sebagian besar merek kendaraan adalah buatan Eropah terutama VW, Audi dan BMW. Sementara di Jakarta sebagian besar mobil buatan Jepang terutama Toyota. Yang menarik di dalam kota Shanghai tidak ada sepeda motor, yang ada hanya sepeda biasa atau sepeda dengan menggunakan tenaga listrik.

Pemandangan Kota Lama dari Puncak TV Tower

Shanghai adalah  kota perdagangan dan industri sudah sejak jaman Inggris dulu. Sebagain wilayah Shanghai dulunnya pernah di pinjamkan kepada Inggris seperti Hongkong dulu. Shanghai kotanya terbagi dua, kota lama dan kota baru. Kota lama adalah yang dibangun pada jaman Inggris dimana bangunannya sebagian besar masih berdiri kokoh dan masih digunakan.
Kota baru adalah bagian kota yang dibangun oleh pemerintah China yang sekarang. Sebagian besar bangunan dibuat setelah tahun 1990an di awal kebangkitan ekonomi China. Di bagian kota baru terdapat bangunan yang sangat tinggi seperti Menara TV nomor 3 tertinggi di dunia. Gedung perkantorn 10101 yang bangunannya mirip dengan menara 101 di Taipen Taiwan.

Bersama Adi Firman dengan latar belakang New City

Penampilan orang Shanghai terlihat rapi dan educated, tidak beda dengan orang Eropah. Pakaian kerja mereka seperti orang Eropah, yang perempuan menggenakan jas panjang sampai betis dengan kancing-kancing besar. Yang laki-laki pakai jas dengan kemeja dan dasi. Selama saya di Shanghai hampir saya tidak melihat ada warung rokok dan sejenisnya. Saya juga tidak melihat pemuda pengkolan atau anak muda nongkrong. Baik di pasar ataupun di mall. Semua mereka kelihatan sibuk dan punya aktifitas. Wajah mereka tampak serius dan tidak cengengesan. Bahkan kita jarang melihat orang hilir-mudik di jalan. Sebagai besar mereka menggunakan angkutan umum bus dan subway.

Beda antara Shanghai dan Jakarta sangat jauh. Mungkin diperlukan waktu sekitar 25 tahun bagi Jakarta untuk mengejar Shanghai. Untuk kota besar, di Shanghai semua infrastrukturnya sudah terbangun. Jalan raya, jalan kereta api, subway dan bandara. Rakyatnya juga sudah punya disiplin tinggi.
Untuk mengejar ketinggalan Jakarta harus belajar banyak dari pemerintah kota Shanghai. Mereka membangun secara terencana, cepat dan tuntas.
Jakarta memang sedang membangun jalur MRT dari Lebak Bulus hingga bundaran HI Jakarta. Semoga proyek ini cepat terlaksana dan segera dilanjutkan dengan jalur lainnya. Jakarta harus segera membangun sarana ini agar tidak terjadi kemacetan yang lebih parah lagi.

Mesti sarat dengan banguan moderen, Shanghai juga mempunyai pasar tradisional dan bangunan istana kaisar yang bersejarah. Di pasar tradisional anda bisa menawarkan harga. Sebagai masukan, harga jual berkisar antara 20% dari harga yang ditawarkan.

Suasana Pasar Tradisional

Instana Kaisar

Melancong ke Shanghai bagus dan menyenangkan, anda bisa menikmati kemajuan dunia sekaligus memotivasi untuk berbuat lebih baik untuk negeri sendiri.

Informasi ini dipersembahkan oleh:

Leave a comment

Your email address will not be published.