Payokumbuah Mak Oi….

Payokumbuah mak oi… ibo ati maninggakan Payokumbuah…
Itulah sebait lagu tentang Payakumbuh, lagi itu adalah lagu \”kebanggaan\” rang Pikumbuah. Lagu ini sering dinyanyikan  ketika mengadakan acara pertemuan, silaturahmi alumni sekolah, sudah seperti lagu wajib saja. Syair lagu ini mengkiaskan kecintaan warganya atas kota mereka, kesedihan hati ketika harus pergi meninggalkan kota itu.
Tugu Adipura di Pusat Kota
Saya adalah satu dari sejutaan rang Pikumbuah. Saya lahir dan di besarkan bunda di wilayah ini tepatnya di desa Sarik Laweh Kecamatan Payakumbuh yang sekarang sudah berubah namanya menjadi kecamatan Akabiluruh. Waktu kecil saya hanya sekali-sekali di ajak orang tua ke kota, menemani ibu ke rumah odang saya di Nunang, atau ke tempat teman ibu dan ayah di tengah pasar. Ayah punya teman baik penjahit A MOEIS tempat kami sekeluarga membuat baju lebaran. Jika datang ke sini ayah saya bisa sampai satu hari penuh asyik bercerita sementara saya menunggu dengan bosan. Saya dibonceng ayah naik sepeda ke kota Payakumbuh. Sepanjang jalan ayah sering mencubiti paha saya yang berada di belakang. Saya tidak tahu kenapa ayah sebentar-sebentar mencubit saya ketika sepeda sedang berjalan. 2 tahun lalu saya baru tahu jawabannya. Hal serupa juga saya lakukan terhadap anak saya, saya sebentar-sebentar memegangi kaki anak saya ketika memboncengnya naik motor. Saya lakukan itu karena saya khawatir dia tertidur dan jatuh dari motor. Nah, ternyata itu pulalah alasan ayah saya mencubiti saya 40 tahun lalu. 
Indahnya Kampung Saya
Waktu kelas 5 SD ketika saya mulai bisa bersepeda saya pernah beberapa kali naik sepeda sejauh 17 km dari kampung saya. Ketika masuk SMP, saya masuk SMP Akabiliru namun karena ruang kelas belum jadi saya sempat bersekolah di Labuah Basilang bekas sekolah bangunan Sekolah Teknik (ST) 2 Payakumbuh. Karena tidak mungkin pulang setiap hari saya tinggal di Nunang di rumah tek Tini. Saya sering berenang di sungai Batang Agam yang airnya kotor dan bau. Bermain di tengah pasar, ikut-ikutan berjualan es dan tas plastik. Menonton konser musik  malam hari. Atau menonton bioskop Misbar (gerimis bubar) serta menonton pertandingan bola di lapangan Poliko. Group musik yang pernah saya tonton adalah Eddy Silitonga, sementera film yang saya tonton paling berkesalan adalah Cannibal yang membuat bulu roma sampai saat ini masih merinding. Sementara pertandingan sepakbola yang paling berkesan adalah pertandingan antar sekolah. Ada pemain muda yang sangat berbakat yang menjadi idola anak-anak waktu itu namanya Anto. Dia pemain yang sangat lincah posisinya di sayap kiri.
Jalan Raya Batang Agam arah ke Ibuah
Kenangan saya bertambah lagi ketika saya masuk SLTA SMPP 25 Payakumbuh kampusnya di Bukik Sitabuah. Yah, saya ini alumni IKAFLAS (Ikatan Alumni Kampus Flamboyan) masuk tahun 1980 jadi kami menyebut angkatan kami angkatan tahun 1983. Saya kembali tinggal di Nunang di rumah yang sama. Masa-masa SMA saya jalani seperti para ABG lain. Ada kisah sedih dan senang, ada kisah lucu dan menggelikan dan tentu pula yang menggeramkan. Semua sekarang sudah menjadi kenangan indah. Saya punya gang namanya PILER. Geng para perokok. Semunya anggotanya adalah perokok, setiap orang harus bisa menyediakan rokok bagi anggotanya. Markas gang kami di Bunian persis di depan pintu utara lapangan Poliko yang sekarang dindingnya sudah mulai roboh. Itu rumah sahabat saya Jhon Kennedy, bukan mantan presiden Amerika, tapi itu memang nama asli teman saya. Saya tidak tahu kenapa namanya bisa sama! Geng ini anggotanya semakin berkembang tidak hanya anggota kelas kami tapi juga anak-anak dari SMA 1. Tapi namanya organisasi anak muda, ada saja masa clashnya. Pada tahun ketiga ketika kemakmuran anggota semakin membaik dimana hampir semua teman-teman saya punya sepeda motor. Honda GL, Suzuki GP dan Yamaha RX adalah tunggangan kebanggan waktu itu. Saya tidak punya, aduuuh. Teman akrab saya Taswar anak pak Tarmizi Endah Sutan salah seoarang pengusaha top Payakumbuh waktu itu hanya punya Vespa tua dan rusak-rusak. Malam hari, anggota geng sering raun-raun ke Lubuk Bangku hanya sekedar untuk minum kopi. Satu kali geng pergi raun-raun ke Pekanbaru. Mereka tahu bahwa saya dan Taswar tidak akan mungkin ikut karena Vespa tua tak akan sanggup menempuh sejauh itu. Mereka pergi tampa sepengetahuan kami. Saya dan Taswar kecewa dan marah. Mulai hari itu kekompakan gang berkurang. Mungkin juga disebabkan karena kesibukan menghadapi ujian akhir kelas 3.
Hari Sabtu tanggal 3 Agustus 2011 ini ada reuni Akbar IKAFLAS, sayang saya tidak bisa menghadiri, sedih juga tidak bisa bertemu dengan teman-teman lama serta guru. Insya Allah lain kesempatan kami bisa dipertemukan lagi. Amiin.
Jalan Raya Nusantara, Parik Rantang
Oke cukup sekian tentang memori saya Payakumbuh. Sekarang mari kita lihat seperti apa Payakumbuh saat ini. Ini setelah hampir 30 tahun sejak saya tinggalkan kota itu. Pada anggal 19 sampai dengan 22 Agustus 2011 lalu saya sempat mampir. Kesan saya, kota ini semakin bagus dan cantik. Jalan-jalannya lebar dan teratur. Marka jalan bagus dan terawat. Tata-kotanya semakin bagus dan terawat. Bangunan toko-toko di pinggir jalan bagus dan ramai. Banyak kantor bank dan perwakilan perusahaan nasional ada di sini. 
Keramaian di pusat kota
Kotanya semakin hidup dan ramai. Ada perbelanjaan moderen RAMAYANA di bekas kantor Walikota, sementara kantor walikota pindah ke dekat Ngalau. Jalan Sudirman di depan bekas kantor bupati semakin ramai. Pertokoan semakin banyak.
Kerena kebagusan pembangunan kotanya, Payambuh mendapatkan pengharga kota terbaik nasional dan berhak menerima piala Adipura.
Mall Ramayana
Gaya hidup rang Pikumbuah juga tak kalah dengan gaya hidup warga kota lain. Mereka bersolek, malagak dan terlihat cukup cantik. Yang membuat warganya lebih dari warga kota lain adalah mereka  terlihat lebih soleh dan sholehah. Hampir seluruh wanita menggunakan penutup kepala. 
Keramaian di Pusat Kota
Mobil dengan berbagai merek hilir-mudik di jalanan sementara ratusan lagi diparkir di halaman pertokoan. Jangan ditanya tentang sepeda motor, hampir setiap rumah minimal ada 1 sepeda motor. Handphone juga demikian, pokoknya mereka tidak ketinggalan dari penduduk kota lain.
Gereja Katholik – Hidup damai dan tentram di Payakumbuh
Restoran enak banyak pula terdapat di dalam kota ini. Masih ada Restoran Minang Asli dan  Asia Baru yang sudah ada sejak jaman saya dulu.
Sebagai perbandingan, Payakumbuh kira-kira sebesar kota Mataram di NTB, Banyuwangi dan Gersikdi Jatim, atau sebesar Pekalongan dan Purwokerto di Jateng atau sebesar Tasikmalaya dan Sumedang di Jabar, atau sebesar kota Pare Pare di Sulse. Atau sebesar kota Balikpan dan Tarakan di Kaltim.
Tulisan ini saya buat murni sebagai catatan hidup dan berbagai informasi kepada siapa saja yang pernah atau ingin berkunjung ke sana. Saya dengar ada salah beberapa orang alumni IKAFLAS yang akan maju menjadi calon walikota Payakumbuh periode berikutnya. Saya mendukung, siapapun yang terpilih. Pesan saya apa yang sudah bagus selama ini pertahankanlah sementara masih banyak hal-hal baru yang perlu dikembangkan di kota ini.
Ondeh mak oi, Payokumbuh mak oi
Ibo ati maninggakan Payokumbuah….

Informasi ini dipersembahkan oleh:

Leave a comment

Your email address will not be published.