Batam, Great Opportunities

Ekonomi Indonesia yang sedang menanjak saat ini  ikut pula mendongkrak pertumbuhan ekonomi Batam. Kegiatan bisnis terasa ramai dimana-mana. Hilir mudik kendaraan di jalan-jalan raya menunjukkan masyarakat Batam sedang menikmati sumnringahnya pertumbuhan ekonomi. Pusat pertokoan yang tersebar di pusat-pusat ekonomi Batam tampak ramai. Ruko-ruko baru banyak yang sedang dibangun.

Hotel dan mall tempat berbelanjanya kaum menengah keatas juga ramai. Hotel Harris baru saja selesai di bangun tak jauh dari Batam Center pertanda semakin tingginya jumlah pengunjung ke Batam. Apalagi dalam beberapa hari lagi konon katanya larangan \”berjudï\” yang selama beberapa tahun ini diberlakukan di Batam akan segera dicabut. Itu berarti Batam kembali ke jaman \”jahiliyah\” dimana maksiat akan segera berkembang pesat di pulau ini. Meski konon katanya pembukaan keran judi kembali dengan berbagai batasan yang mempersulit maksiat, tapi rasanya hal itu tidak akan mampu mencegah tumbuh suburnya bisnis maksiat di sini. Ya, semoga saja  hal yang terburuk itu tidak terjadi. 
Jembatan Balerang
Geliat ekonomi yang paling terasa di Batam adalah bisnis pembuatan dan perbaikan kapal laut. (shipyard) . Ada ratusan shipyard dengan luas puluhan hektar tersebar di Batam khususnya di sekitar Tanjung Ucang. Masing-masing shipyard saat ini kebanjiran order, hampir semua shipbuilder bekerja penuh (full capacity). Hampir tidak ada yang kosong sehingga menyebabkan para pemesan kapal harus antri sampai berbulan-bulan. Masing-masing shipyard rata-rata mengerjakan puluhan kapal, kebanyakan pesanan dari dalam negeri. Benerapa yard juga mengerjakan pekerjaan pembuatan kapal dan anjungan lepas pantas pesanan perusahaan minyak dari luar negeri.
Ship Building
Permintaan pembuatan kapal saat ini di Indonesia memang sangat tingi-tinginya khususnya untuk jenis kapal tongkang dan tugbuat. Ini sejalan dengan tingginya permintaan pengangukatan batubara baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu adanya peraturan pemerintah mengenai azaz cabotage dimana barang-barang yang berada di dalam negeri harus diangkut menggunakan kapal milik Indonesia atau yang menggunakan bendera Indonesia. 
Ada sekitar 150 perusahaan yang terlibat di dalam kegiatan pembuatan kapal di Batam. Mempekerjakan puluhan bahkan mungkin ratusan ribu pekerja. Konon sekarang hampir 70% kapal baru sekarang di buat di Batam sementera wilayah lain termasuk Jawa Timur yang selama ini menjadi pusat pembuatan kapal hanya membuat sekitar 20% saja. 
Batam memang mempunyai banyak keunggulan dalam hal ini. Letaknya yang lebih dekat ke pusat baja dunia seperti dari India dan Eropah, lahan yang cukup luas dan bagus untuk pembangunan shipyard karena berada di selat dan teluk yang terlindung dari ombak besar. Tenaga kerja yang melimpah serta sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia tempat bermukimnya para pengusaha. Yah, hampir semua pengusaha perkapalan di Batam berasal dari Singapura dan Malaysia. Tidak sedikit pula pengusaha asal Batam sendiri serta dari Jakarta. 

Industri lain khususnya elektorik juga tetap exist walau mungkin tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya karena mungkin karena kalah bersaing dengan pabrik-pabrik elektrik di Malaysia.

Komposisi masyarakat Batam secara umum terdiri dari pengusaha besar. Hampir semuanya berasal dari etnis China baik yang berasal dari Indonesia maupun dari Singapura dan Malaysia. Ada juga perusahaan multinasional seperti McDermott dan perusahaan besar lainnya. Hampir tidak ada pengusaha lokal (Melayu) yang mempunyai bisnis besar di Batam, tidak juga ada (Badan Usaha Milik Negara) BUMN. 
Pengusaha menengah seperti pemilik toko, restoran dan jasa-jasa lain jumlahnya berimbang antara eknis China dan Melayu. Etnis Minang mendominasi kegiatan ekonomi di pasar dan pedagang kecil serta pengelola restoran. Hampir di setiap pasar etnis Minang memegang kendali, layaknya yang terjadi di kota-kota besar di wilayah Sumatera. Semetara eknis Melayu lain khususnya asli Kepulau Riau memegang kendali di bidang pemerintahan. Etnis Jawa dan lain-lain banyak terlibat sebagai pekerja di perusahaan swasta di kantor maupun di pabrik. Sementara etnis Batak dan lainnya di sektor non formal lainnya.

Biaya hidup di Batam relatif tinggi, jauh lebih tinggi dari Jakarta. Saya sempat kaget ketika makan siang di sebuah restoran ikan bakar yang biasa-biasa saja di daerah Nagoya. Hanya dengan seekor ikan, cumi goreng, kangkung dan kerupuk untuk dua orang saya harus merogoh kocek hampir dua ratus ribu. Di Jakarta makan seperti itu cukup dengan seratus ribu saja. Malam hari saya iseng-iseng cari makanan di luar hotel, karena tidak mau makan besar saya hanya pesan 1 porsi sate padang ditambah dengan beberapa bungkus kerupuk kulit,saya harus membayar dua puluh tujuh ribu rupiah, di Jakarta tidak akan lebih dari lima belas ribu rupiah. Menurut keponakan saya yang sudah bermukim di Batam selama hampir 20 tahun, untuk keluarga biasa seperti mereka, sehari dia harus keluar hampir seratus ribu sehari. tidak termasuk bensin kendaraan Mereka suami-isteri ditambah 2 orang anak, di Jakarta untuk biaya sehari-hari satu keluarga seperti itu biasa dengan lima puluh ribu rupiah saja. Maklumlah, semua barang dan bahan harus didatangkan dari luar Batam karena Batam termasuk daerah minus pertanian karena tanahnya yang relatif tandus.
Walau biaya hidup relatif tinggi tapi dengan diimbangi dengan pendapatan yang juga meningkat tampaknya masyarakat Batam relatif makmur. Semua orang mempunyai penghasilan yang cukup untuk biaya hidup. Tidak ada pegemis atau peminta-minta di jalan seperti yang terdapat di kota-kota lain di pulau Jawa.

Kehidupan beragama juga bagus. Banyak mesjid besar tersebar di seluruh Batam. Banyak pula gereja dengan ukuran besar dan terlihat lebih menyolok di bandingkan dengan di kota-kota lain di Sumatera. 
Batam, is a Big opportunity. Saya melihat begitu banyak peluang ada di sini. Bagaimana dengan anda?

Leave a comment

Your email address will not be published.