Yuk, Jalan-jalan ke Semarang

21 tahun lalu tepatnya di akhir tahun 1990 merupakan hari bersejarah dalam hidup saya. Itulah hari pertama saya naik pesawat terbang. Saya terbang dari Jakarta ke Semarang untuk mengadakan survey ke klien saya Hotel Santika Semarang yang waktu itu baru selesai dan siap dioperasikan. Awal tahun 90an naik pesawat adalah kemewahaan yang tiada tandingannya. Tidak semua orang bisa terbang, beda dengan sekarang dimana Everyone can fly. Harga tiket begitu mahal, hargnya hampir sama dengan harga tiket sekarang ini, padahan 21 tahun lalu nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika masih sekitar 1,500 rupiah. Saya begitu bangga dengan pengalaman pertama saya itu. Saya bisa mewujudkan cita-cita yang sudah lama terpendam. Saya ingin seperti yang dilakukan oleh kakak saya da In (Iryadi Arifin). Beliau adalah satu-satunya anggota keluarga kami yang sudah terbiasa menjalankan bisnis naik pesawat. Karena belum pernah berangkat naik pesawat, saya membuat kesalahan fatal. Saya sampai di bandara lima belas menit sebelum pesawat berangkat. Jelas itu sudah terlambat karena boarding ke pesawat sudah ditutup 30 menit sebelum terbang. Saya ketinggalan pesawat, tapi untunglah saya bisa boarding di pesawat berikutnya tanpa harus membayar lagi.
Kamis tanggal 16 February 2012 saya mengulangi lagi perjalan terbang pertama saya itu. Pagi  saya berangkat ke Semarang untuk berkunjung ke salah satu klien kami. Kantornya terletak di Kawasan Industri Candi di dekat jalan Gatot Subroto. Begitu mendarat di bandara jam 9.30 saya langsung menuju ke lokasi menumpang taksi bandara. 


Mungkin sudah belasan kali saya ke Semarang sejak tapi yang naik pesawat baru kali ini setelah yang pertama dulu itu. Bagi saya Semarang termasuk 4 kota besar di Pulau Jawa yang paling sering saya kunjungi selain Jakarta tentunya. Paling sering tentulah Bandung, kemudian Semarang, Yogya dan Surbaya.
Di semarang saya dulu punya banyak teman. Mereka itu para down line saya sewaktu menekuni bisnis MLM. Kebanyakan mereka tinggal di kawasa Puri Anjasmoro, jalan Gajah Mada dan kawasan Gombel, sebagian besar dari mereka keturunan Cina. Salah satu leader saya adalah pasangan Andy dan Yus. Down line yang paling aktif adalah Yulia. Dengan Yulia kami cukup dekat ketika dia tinggal sementara di Jakarta untuk memperdalam bahasa Inggris sebelum di berangkat ke Australia melanjutkan pendidikannya di S2 beasiswa dari pemerintah Australia. Dulu dalam sebulan saya bisa 2 kali ke Semarang mengadakan presentasi dan coaching.
Saya juga sempat 3 kali “pulang kampong” ke Semarang sebagai pengganti pulang kampung ke Payakumbuh pada hari lebaran. Saya sudah hampir 10 tahun tidak lagi pulang kampung ke Payakumbuh mengendarai kendaraan sendiri, dulu setiap tahun dari tahun 1993 sampai dengan 2002 saya jelajahi pulau Sumatera dengan mengendari kendaraan sendiri. 
Kamis tanggal 16 February 2012, jam 1 siang saya sudah selesai meeting. Kemudian setelah bertemu dengan tiga divisi yang lain saya meninggalkan kawasan Industri Candi. Untuk keluar dari kawasan itu saya sebenarnya sudah berjanji dengan sopir taksi untuk menjemput saya kembali. Tapi ada masalah, ternyata saya salah mencatat nomor HPnya, akibatnya saya tidak tidak menghubungi dia. Alhasil saya harus berjalan kaki mencari taxi di luar kawasan. Pada saat saya berjalan ada becak motor yang menawarkan jasanya. Tanpa pikir panjang saya langsung naik. Awalnya saya minta di antar sampai bertemu dengan taksi. Setelah turun dari becak saya coba menyetop taxi tapi tidak ada yang mau berhenti. Setelah menunggu begitu lama saya putuskan untuk naik becak motor kembali.
Saya minta diantar ke kawasan Simpang Lima, tempat lokasi Hotel Santika dan Toko Buku Gramedia lokasi pertama saya survey 21 tahun lalu. Menarik juga pengalaman naik becak motor di tengah-tengah kota Semarang yang cukup sibuk di siang hari. 
Menelusuri sepanjang jalan utama menuju Simpang Lima, dari atas becak saya mengamati betapa pesatnya perkembangan kota ini. Banyak gedung perkantoran dan pertokoan baru. Jalan-jalan tertata rapi sehingga sangat elok dipandang mata. Jalannya begitu lebar  masih memungkinkan kendaraan parkir sejajar di kiri-kanan jalan. Gedung-gedung tua terlihat sangat terawat. Termasuk gedung Lawang Sewu gedung bersejarah buatan Belanda. Dulu, gedung itu terlihat sangat kusam dan gelap sehingga tidak salah kalau orang-orang mengatakan bahwa disana tempat sarang jin. Sekarang, Lawang Sewu begitu cantik dan indah, dan tidak seram sama sekali. Gaya arsitekturnya yang khas menjadi daya tarik yang luar biasa.

Mendekati Simpang Lima semakin terasa kekhasan Kota Semarang. Bundaran Simpang Lima begitu luas sehingga menciptakan sebuah taman yang indah ditengah-tengahnya. Bundaran ini di kelilingi oleh bangunan modern hotel dan perkantoran. Ada hotel Horison, Hotel,… dan tentunya Hotel Santika di jalan Pandanaran berjarak sekitar 50 meter dari Bundaran. 

Bangunan yang paling menarik perhatian saya adalah mesjid Baiturahman sebuah mesjid besar menjadi salah satu pilar dari bangunan yang ada di sekitar Simpang Lima. Bangunannya bersebelahan dengan toko buku Gramedia dan hotel Santika. Saya jadi teringat ketika saya saya survey ke hotel Santika 20 tahun lalu. Selepas survey saya sholat Jumat di mesjid ini. Bangunannya begitu besar dapat menampung sekitar 5,000 jemaah. Di lantai bawah digunakan sebagai sarana umum perkantoran dan tempat usaha. Mesjid ini diresmikan oleh presiden Suharto pada tahun 1974 silam. Kalau melihat gaya dan bahan bangunannya tampak mirip dengan mesjid Istiqlal di Jakarta. Sekarang mesjid ini bukan lagi menjadi mesjid terbesar di Semarang, ada mesjid baru…… yang jauh lebih besar dengan atapnya yang bisa menutup dan membuka secara otomatis.
Melihat bangunan mesjid ini serta melihat penampilan sebagian besar warga kota Semarang mengingatkan saya untuk merubah paradigma selama ini. Karena saya punya banyak sahabat asal Semarang yang beragama non Muslim saya punya persepsi bahwa orang Semarang kurang Islami. Tapi sekarang paradigma saya sudah benar.
Wisata ke Semarang terasa sangat nyaman. Suasananya kita hidup di kota modern, dengan sarana umum yang lengkap dan bagus tapi nyaman dan tidak hiruk-pikuk seperti Jakarta dan Surabaya. Masyaratknya terlihat tidak terlalu ngoyo dalam hidupnya. Sepertinya mereka bisa menikmati hidup dengan baik.

Tempat-tempat wisata dan tata-kota yang baik menambah nikmatnya wisata anda di Semarang. Di tambah lagi dengan masyarakatnya yang ramah typical orang Jawa yang lemah-lembut. Kemudian

ditambah dengan makananan enak dan dengan harga terjangkau, jauh lebih murah dari Jakarta dan Bandung. Sarana transportasi juga lengkap, ada taksi yang berkeliling yang setiap saat bisa didapatkan. Ada angkutan umum bis kota seperti Bus Way di Jakarta, namanya Semarang…. Ada becak mesin yang cukup unik. Tariffnya juga relative murah. Dari jalan Gatot Subroto sampai ke Simpang Lima saya hanya merogoh kocek dua puluh ribu ripiah padahal jaraknya lumayan jauh sekitar 10 km. Itupun belum saya tawar harga sewa becaknya. 

Bandara International Semarang A Yani, bangunannya bagus, bersih, indah dan terlihat begitu terawat. Bangunan bandaranya mirip dengan bandara Yogya, masih berlantai satu dimana ruang keberangkatan dan kedatangan di lantai yang sama. Frekwensi penerbingan cukup tinggi. Pada saat saya datang sedang ada promo pesawat Air Asia dengan dua kali penerbangan ke Kuala Lumpur dalam sehari. Harga tiket Jakarta-Semarang PP sekitar Rp.600,000 ditempuh dalam waktu 45 menit. Belum sempat anda tertidur, pesawat sudah mendarat di bandara Soekarno Hatta di Jakarta. 
Datanglah ke Semarang, nikmati suasana modern tapi penuh kenikmatan, ketenangan dan kedamaian.

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published.