Lebaran Idul Fitri1433H, Pulang Kampung

Setelah lebih dari 10 tahun, akhirnya saya kembali  bisa merasakan suasana berlebaran di kampung halaman saya di Sariek Laweh, Kab. 50 Kota, Sumbar. Terakhir saya merayakan lebaran idul fitri di kampung halaman tahun 2001 silam. Waktu itu saya memang memutuskan untuk menghentikan kebiasaan pulang kampuang saat lebaran karena saya ingin memulai karir baru saya. Saya memutuskan untuk pindah kwadrant dari pegawai menjadi pengusaha pada tahun 2004, atau istilah Robert T Kyosaki, pindah dari kwadran kiri ke kwadran kanan. Atau juga istilah Ipho Santoso pindah dari berfikir dengan otak kiri ke otak kanan. Pada hal sebelumnya selama 8 tahun berturut-turut saya setiap tahun pulang kampuang mengendarai kendaraan membelah pulau Sumatera sejauh 1,200 km mulai dari Bakauheni sampai ke Payakumbuh.

Sawah nan hijau, di pagari Bukit Barisan
My son di Bandara Sutan Syarif Kasim – Pekanbaru

Jarak waktu 10 tahun ternyata telah merubah banyak hal. Suasana hari raya sudah berubah bentuk walau mungkin rasanya masih sama. Sekarang lebaran sudah tak lagi seperti hari yang paling istimewa. Dulu setiap orang tampil dengan baju baru, terompah baru dan segala baru. Orang sekarang sudah terbiasa dengan suasana baru setiap hari. Suasana silatrahmi juga tidak sehangat dulu, orang bersalaman dan bertegor sapa sekedarnya saja. Sepertinya rasa rindu karena terpisah dengan orang rantau sudah tidak begitu membara. Mungkin inilah manfaat dari teknologi informasi dan transportasi. Setiap saat orang bisa berbicara dan berbagi informasi. Beda dengan dulu. Orang baru akan mendengar kabar pada saat bertemu-muka setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Mereka terharu bahkan mencucurkan air mata melihat perubahan yang terjadi pada diri masing-masing. Jarak sekarang juga tidak menjadi masalah lagi, setiap saat orang rantau bisa muncul tengah-tengah kampung karena sarana transportasi semakin mudah. Harga pesawat sangat terjangkau. Mungkin karena harga tiket yang relative murah, atau karena daya beli masyarakat yang semakin tinggi?
Jl. Raya Pekanbaru- Payakumbuh di Rantau Barangin
Saya menemui saudara-saudara dekat, terutama paman, kakak, etek dan teman-teman. Pada saat bertemu mereka-mereka ini hati ini bagitu terharu. Mereka membuka lembaran hidup saya yang lama. Ketika saya masih kecil dengan kelakuan saya yang menggelikan. Atau saat yang mengharukan ketika ibu meninggal dunia ketika saya berusia 10 tahun. Perjuangan hidup setelah itu. Ah, saya sangat bersyukur karena saya mempunyai saudara-saudara sebaik mereka. Kalau bukan karena kerelaan hati mereka meringankan beban hidup kami, entah jadi apalah awak ini hari ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan hati mereka. Karena saya tidak mungkin membalas jasa mereka. 
Jembatan Kelok Sembialan lagi uji coba
Warga kampung saya sekarang juga sudah berubah. Tidak lagi semuanya penduduk asli. Banyak juga para pendatang dari daearah lain yang mereka datang karena perkawinan dengan warga desa atau mereka memang merantau ke desa kami.  Banyak pula anak-anak muda yang saya sudah tidak kenal lagi. Maklumlah secara total saya sudah 30 tahun meninggalkan desa sejak tahun 1983 silam, jadi kalau mereka lahir setelah tahun  itu pasti saya tidak mengenal mereka. 
Jalan beton mengelilingi desa
Pembangunan infrastruktur juga sangat banyak berubah. Jalan-jalan di dalam kampung sudah diaspal bahkan sudah dibeton. Bahkan saat ini sedang dibangun jalan menembus Bikik Godang sampai ke Baliak di wilayah Sungai Belantik. Wah, dulu tidak pernah terbayangkan akan ada jalan tembus seperti ini. 

Jembatan gantung menyeberangi batang Lampasi
Kantor Bupati 50 Kota – Bergonjong
Rumah penduduk juga semakin bagus dan mewah. Rumah Gonjong dengan gaya khas Minang nyaris sudah tidak ada lagi, kalaupun ada kondisinya sudah reot, lapuk dan tidak ditinggali lagi. Sekarang semua membangun rumah beton dan luas. Lengkap dengan garasi mobil, kamar mandi, berlantai keramik dan berpagar besi. Sulit untuk membedakan antara rumah di desa dengan rumah di kota. Desainnyapun bergaya minimalis seperti yang sekarang banyak ditemui di kota-kota besar. 
Pembanguan Jalan Menembus Bokik Godang
Warung ada dimana-mana bahkan ada pula mini market tempat orang berbelanja dengan harga grosir. Ada penjaja makanan dan sayuran berkeliling kampung menawarkan daganganya setiap saat. Jalan raya tak putus-putusnya dilewati oleh sepeda motor, angkot dan mobi pribadi. Kalau 10 tahun lalu masih bisa dihitung dengan jari jumlah mobil pribadi yang lewat di saat lebaran. Sekarang, hampir setiap 5 menit ada mobil pribadi yang lewat. Bukan semuanya milik perantau tapi milik warga desa sendiri. Menurut perkiraan saya, setidaknya 10% dari keluarga desa mempunyai mobil pribadi. Perantau yang pulang membawa mobil tetap banyak. 
Berbagai merek mobil parkir
Warga dari Nagori Godang dusun tetatangga, sejak beberapa tahun terakhir minimal 50 mobil mudik dari Jakarta setiap lebaran. Khusus  lebaran kali ini ada sekitar itu pulaalah warga Suayan Negari tetangga kami di sebelah barat yang mudik dari Jakarta. Tidak aneh jika di pinggir jalan di depan rumah berderet-deret mobil yang parkir. Tak beda dengan suasana di kota. Saking banyaknya mobil, jalan-jalan utama seperti jalan raya Payakumbuh-Bukitinggi sepanjang 30 km macet total. Tidak hanya satu hari bahkan selama 3 hari berturut-turut. Demikian juga jalan raya Bikittinggi-Padang, suasananya sama saja. Semua macet. Salah satu gejala yang saya lihat adalah hampir setengah dari mobil yang hili-hilir mudik di dalam propinsi Sumbar adalah kendaraan berpelat nomor BM asal propinsi Riau. Mereka mungkin orang Minang yang pulang kampuang, atau mereka yang sedang menikmati liburan panjang karena Sumbar tempat liburan yang sangat menyenangkan. 
Atuk, Nenek dan cucunya. Happy…
Saya sempat menikmati indahnya ranah Minang. Jam setengah 10 malam di hari kedua saya bertolak ke Padang mengantar ayah dan ibu. Baru saja berbelok ke kanan kearah Bukittinggi di Simpang Batuhampar saya sudah disergap kemacetan. Akhirnya saya putuskan berbelok ke jalur Batusangkar, lewat Padang Panjang akhrinya jam 2 subuh sampai jua kami di Tabing, Padang. 
Esoknya selepas sarapan jam 8 pagi saya dan anak dan semua keponakan mulai menikmati liburan. Kota Padang masih sangat sepi, berkeliling kota melihat bekas runtuhan gempa. Sekarang semua sudah berubah menjadi gedung mewah dan hotel modern. Hotel Ambacang yang dulu sempat menjadi pusat berita karena disana ada puluhan bahkan ratusan korban meninggal dunia sekarang menjelma menjadi hotel mewah. Demikian pula dengan gedung-gedung lainnya. 

Berpose di Pantai Padang
Di Teluk Bayur

Kami berhenti sebentar di Pantai Padang menikmati deburan ombak yang menghempas pantai. Lepas dari situ kami menuju Pantai Air Manih di Teluk Bayur. Suanasa masih sepi dan nyaman. Anak-anak bermain air dan naik perahu. Harganya Cuma Rp. 50,000 sekali jalan. Tapi kalau mau diantar sampai ke pulau harganya Rp. 150,000. Anak-anak sangat menikmati suasana ini. Kami membeli kelapa muda dan kacang rebus. Kami tapi tak bisa berlama-lama disini, setelah kurang lebih 1 jam kami kembali meninggalkan tempat ini untuk melanjutkan perjalanan ke Sitinjau Lauik, tempat yang berada di atas bukit berjarak sekitar 20 km dari pantai setelah melewati komplek Indarung tempat Semen Padang dibuat. Jalan pendakian ini sangat terjal, banyak orang  yang tidak berani melewati rute ini karena sangat mengerikan karena di kiri-kanan ada jurang yang begitu dalam. Jam 12 siang kami sampai di pucak Salasiah, perutpun sudah terasa begitu lapar. Apa lagi anak-anak. Setelah sholat kami mencari restoran yang bagus. Akhirnya kami mendapatkan tempat yang bersih, ramai, pelayanan top dan rasanya matap. Letakanya berseberangan dengan kantor pemerintah. 

Fatih and Mom.. Back home
Big Lunch, Lubuk Paraku, Solok

Enjoy naik perahu di Teluk Bayur

Danau Singkarak nan teduh…
Great Food, Singkarak

Selepas makan, perjalanan kami lanjutkan menuju danau Singkarak melewati kota Solok. Jalanan mulai terasama semakin ramai. Mendekati danau Singkarak kami disergap kemacetan, hampir 1,5 jam kami nyaris tidak bergerak karena ada keramaian di pinggir danau. Jam 3 sore kami akhirnya bisa menikmati keindahan danau Singkarak tempat diselenggarakannya balap sepeda international “Tour de Singkarak” setiap tahun. Ternyata kemacetan membuat perut penumpang keroncongan. Jam 4 sore kami meninggalkan Singkarak menuju Batusangkar melewati pinggir sungai Ombilin. Jam 5 sore kami sampai di Sungayang untuk solat ashar sebelum melanjutkkan berjalan menuju panorama Puncak Pato. Jam 6 sampailah kami di Puncak Pato tapi Susana sudah mulai gelap dan berkabut. Kami turun ke Lintau dan berbelok ke arah barat menuju Halaban. Jam 8 malam sampai di Batang Tabik desa Tanjung Kaliang kampung asal my wife. Kami mampir ke rumahnya tapi kosong. Jam 10 malam barulah kami kembali sampai di Sarik Laweh. Perjalanan panjang yang begitu berkesan.

 
Fatih, Atuak and chicken
Fatih in action at Rawang

Morning just broken at Sungai Baringin 
Live with nature
Pasia, pinggir bantang Lampasi
Clear water, Batang Lampasi
True love, from mom to child
The last day of the season… See you again next year, Insya Allah
The beauty side of Sarik Laweh

Leave a comment

Your email address will not be published.