Ahli Pialang Asuransi dari Desa – New Business Start Up


Ruang kantor kami hanya seluas 30 meter persegi. Saya mulai aktif  pada pertengahan bulan Juni 1996. Sesuai dengan business plan, langkah pertama saya ada mengembangkan kerjasama dengan rekan-rekan saya di Trakindo. Saya temui mereka satu persatu dengan kartu nama saya yang baru dengan title direktur. Melihat kartu nama saya mereka termotivasi juga untuk ingin membuka usaha sendiri. Saya juga mulai membuat surat perkenalan kepada perusahaan-perusahaan yang ada di dalam daftar target yang saya buat. Saya juga mendapat daftar prospek dari para pemegang saham terutama dari mereka bergerak di bidang perminyakan. 
Alhamdulillah satu minggu setelah saya mulai aktif kami mendapatkan nasabah pertama kami. Wong Kong Jong itu nama nasabah yang telah menjadi awal dari sejarah panjang dari perusahaan itu. Seorang pengusaha keturunan di Tangerang. Wong Kong Jong mengasuransikan beberapa unit alat beratnya yang dibeli kepada rekan-rekan saya di Trakindo. Kami sangat senang sekali.  Business kami telah mulai. Langkah besar dimulai dari sebuah langkah kecil. Asuransinya kami proses melalui asuransi Takaful Umum perusahaan yang secara resmi kami ageni. Ternyata Takaful belum pernah menutup asuransi alat berat dan mereka tidak punya format polis asuransinya. Akhirnya kami sendiri yang mengetik keseluruhan isi polis dan Takaful tinggal mencetak di atas kertas kop surat.
Setelah itu secara perlahan nasabah kami semakin bertambah banyak. Awalnya hampir semuanya berasal dari referensi dari rekan-rekan saya dari Trakindo. Kemudian mulai pula masuk order dari jaringan para pemegang saham. Di luar dugaan saya bekas klien-klien saya di IBS banyak yang meminta saya datang dan ingin bertemu dengan saya. Walau sudah saya katakan agar mereka tetap saja menggunakan IBS tapi sepertinya mereka tidak mendapat palayanan yang baik seperti yang saya berikan dulu. Akhirnya beberapa diantaranya saya temui dan saya kenalkan dengan team pengganti saya di IBS dan mereka bisa melanjutkannya. Tapi ada salah satu klien saya yang tidak mau lagi dengan IBS dan ngotot mau ikut dengan saya. Saya jelaskan bahwa perusahaan saya masih baru dan perusahaan asuransinya juga baru. Apalagi ini adalah perusahaan asuransi berdasarkan syariah sementara klien saya ini adalah seorang penganut Kristen yang taat.” saya percayakan semua kepada pak Taufik saja” demikian tanggapan beliau ketika saya mencoba untuk menolak permintaan beliau.  Tapi mereka tetap ingin ikut dengan saya. Klien saya bergerak di bidang Oil and Gas yang didirikan dan dikelola oleh bapak Hubert Heyzer seorang keturunan Indo. Perusahaan ini beliau kelola bersama dengan Mr. Dwayne J Bray orang Canada. Hubungan saya dengan pak Heyzer sangat dekat bahkan sudah seperti anak dan ayah. Setiap kali saya berkunjung menemui beliau saya bisa menghabislkan waktu dua jam lebih untuk mendengarkan sharing dan pendapat beliau. Beliau mempunyai beberapa orang anak yang hampir seumur dengan saya. Sepertinya beliau menganggap saya seperti anaknya sendiri. Pak Heyzer memang mempunyai pengalaman yang luar biasa baik sebagai pejabat maupun sebagai pengusaha. Waktu itu umurnya sudah lebih dari tujuh puluh tahun tapi kemampuan beliau untuk mengendalikan bisnis masih sangat hebat. Mereka mempunyai beberapa unit oil drilling rigs. Selain itu beliau juga mempunyai divisi jasa pengadaan tenaga ahli perminyakan untuk memenuhi kebutuhan perusaaan minyak di dalam dan luar negeri. Kebetulan di IBS memang tidak ada orang yang paham dengan jenis resiko Oil and Gas  yang dibutuhkan oleh klien ini setelah saya keluar. Kalau sudah begini apa boleh buat. Rejeki jangan ditolak, begitu nasihat seorang teman. Jadi saya tidak melanggar janji yang sudah saya buat bahwa saya tidak akan mengambil klien IBS. Tapi klien yang \”memaksa\” untuk ikut dengan saya.
Surat perkenalan saya dengan nasabah baru hasil referensi dari pemegang saham mulai terlihat hasilnya. Di bulan ketiga kami mendapatkan order untuk mengasuransikan sebuah kapal besar jenis Pipe Lay Barge dengan nilai pertanggungan empat puluh juta dollar. Itu nilai yang sangat besar. Dari satu nasabah ini kami mendapatkan premi sekitar empat ratus ribu dollar. Anda bisa hitung berapa besar komisinya. Klien ini direfensikan oleh salah satu  share holder dan komisaris, sementara pemiliknya waktu itu adalah sahabat beliau bapak Imam Taufik pemilik dari Gunaunsa Group. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa perminyakan. Kapal itu disewa dan dioperasikan oleh salah satu anak perusahaan beliau yang dijalankan oleh orang India, mister Ramanathan namanya. Asuransi itu kami proses dengan Takaful. Bagi Takaful ini juga merupakan resiko kapal pertama yang nilainya sebesar itu. Awalnya mereka menolak karena tidak punya kapasitas reasuransi. Tapi untung saat itu Takaful sedang menyusun treaty reasuransi dengan beberapa perusahaan reasuransi dari luar negeri dan salah satunya adalah dengan CT Bowring. Nah pada saat bertemu dengan orang-orang CT Bowring saya jelaskan mengenai kapal ini dan ternyata mereka sanggup untuk memback up. Sementara komunikasi dengan CT Bowring saya yang membinanya.
Dalam tiga bulan pertama pendapatan kami sudah menutupi seluruh operasional kami alias kami sudah break even, Alhamdulillah. Kami senang dan bersyukur sekali atas pencapaian ini. Business yang dimulai dari hanya sebuah ide tanpa ada sumber bisnis yang pasti (captive), tapi hanya dalam tempo waktu tiga bulan sudah bisa mencapai pendapatan seperti itu.  Kami semakin optimis untuk menghadapi bulan-bulan berikutnya. Selanjutnya kami memperkuat team kami. Kalau saat pertama mulai kami hanya berempat, memasuk bulan ke empat kami menjadi enam orang. Satu orang kami rekruit salah seorang staff dari IBS yang sudah juga sudah tidak betah bekerja di sana. Setelah itu kami rekrut pula tenaga fresh graduate keponakan saya yang baru saja lulus dari IBP. Agar staff kami tidak lagi banyak terlibat dengan pekerjaan “domestic” kami merekrut seorang office boy dan sekaligus kurir. Untuk menghadapi kwartal kedua kami sudah bisa mulai dengan cara yang lebih baik. Kami mengadakan pertemuan di sebuah hotel kecil di Jakarta Pusat. Sudah agak lebih bergaya sedikit. 
Kami juga mulai membenahi dari sisi administrasi dan sistim. Kami ingin perusahaan kami berjalan seperti IBS. Kami ingin memiliki system broker yang bagus. Waktu itu tidak banyak perusahaan yang bisa menyediakan program yang cocok dengan bisnis broker asuransi. Akhirnya kami mendapatkan dari salah satu supplier yang bisa menyediakan system komputer untuk broker yang sama dengan versi lama sistim IBS. Ternyata setelah kami coba tidak mudah juga untuk menjalankan system itu. Terlalu banyak yang harus dirubah dan disesuaikan termasuk server dan peralatan pendukungnya. Walau akhirnya kami bisa menjalankannya tapi hasilnya tidak maksimal. 
Kerjasama sama kami dengan Takaful berkembangan dengan baik. Hubungan kami juga semakin dekat. Kami merasa sudah menjadi bagian dari keluarga besar Takaful. Kami dilibatkan di setiap kegiatan dan pertemuan penting Takaful. Saya mendapatkan begitu banyak hal-hal baru terutama dari segi keimanan. Saya menyadari betapa dangkal ilmu agama saya selama ini. Teman-teman saya di Takaful hampir semuanya sudah mendalami agama di pasentren. Sementera saya hanya belajar agama dari keluarga dan dari pengajian-pengajian. Dari sekolah praktis tidak ada pelajaran aqidah dan syariah yang memadai yang saya dapatkan. Yang dipelajari hanyalah ilmu pengetahuan umum tentang agama. Teman-teman saya antara lain adalah Syakir Sula, Agus Siswanto, Teguh Wibowo, Adi Sofjadi, Agus Hariyadi, Agus Tono, Fatah, mba Sari dan banyak lagi yang lain yang namanya saya sudah lupa. Dari kawan-kawan ini saya juga akhirnya berkenalan dan bergaul dengan pak Syafie Antonio seorang intelektual muda Muslim yang sangat fenomenal waktu itu. Pak Syafei Antonio menjadi anggota dewan syariah Bank Muamalat yang kantornya juga di gedung Arthaloka. Beliau ahli ekonomi syariah yang menjadi panutan dan pembicara di berbagai stasiun televisi pada saat itu. 

Saya banyak belajar mengenai amal-amal sholeh yang seharusnya dikejakan oleh setiap muslim. Saya  baru pertama kali mendengar tentang ibadah Iktikaf di sepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadhan dari rekan-rekan ini ketika saya dengar  mereka sibuk merencanakan mau iktikaf dimana di bulan Ramadhan nanti. Saya juga salut ternyata hampir semua teman-teman saya ini menjalankan ibadah puasa sunat Senin-Kamis. Mereka juga senantiasa menjaga sholat berjamaah di mushola. Setiap ba’da asyar ada pembacaaan hadis-hadis rasulullah. Sebagian kebiasaan ini  saya ikuti pula. Saya  secara rutin  menjalankan ibadah puasa sunat Senin, tapi saya jarang sekali puasa pada hari Kamis. Demikian pula dengan pembacaan hadis, saya sekarang melakukan hal itu di mushola saya di komplek setiap selesai sholat subuh. Pergaulan saya dengan teman-teman ini juga berkembang sampai dengan pimpinan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang waktu menjadi salah satu kekuatan pendobrak kembalinya syiar Islam di negeri ini. Saya sempat beberapa kali bertemu dengan beberapa tokoh ICMI antara lain dengan mas Adi Sasono. Selain itu saya juga  berkenalan dengan tokoh kebangkitan Islam lainnya almarhum bang Imaduddin Abdurahman (bang Imad). Bahkan bersama rekan-rekan Takaful kami pernah mengikuti Achievement Motivation Training (AMT) selama hampir satu minggu yang diselenggarakan oleh bang Imad. Salah satu hasil dari training itu yang hingga saat ini masih membekas dalam diri saya adalah saya keberhasilan saya berhenti merokok. Padahal sebelum mengikuti AMT saya rata-rata satu hari menghabiskan sebungkus rokok. Sebenarnya tidak ada paksaan apapun dari bang Imad untuk semua orang harus berhenti merokok. Beliau cuma menjelaskan secara logika bahwa tidak ada satu orang dokterpun di dunia ini yang mengatakan bahwa merokok itu baik untuk kesehatan. Kalau dokter saja yang sudah ahli di bidang kesehatan sudah mengatakan bahwa merokok itu tidak baik, berarti merokok itu jelas tidak baik. Merokok itu menzolimi diri sendiri dan dengan demikian merokok itu jatuhnya haram. Sejak saat itu saya memutuskan untuk berhenti merokok. Alhamdulillah hingga saat ini sudah lebih dari emam belas tahun saya berhenti merokok. Jangankan untuk menghisapnya, menyentuh rokok saja saya geli. Subhanallah.

Akhir tahun 1996, setelah enam bulan perusahaan berjalan kami sudah mendapatkan keuntungan. Kami tidak lagi tergantung kepada modal yang disetorkan. Untuk tahun 1997 kami menganggarkan pendapatan menjadi naik hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Keyakinan ini berdasarkan kepada asumsi bahwa hubungan dan kerjasama kami dengan dengan rekan-rekan ex Trakindo terus berkembang. Kami  mempunyai hubungan yang baik dengan beberapa perusahaan besar yang bergerak di bidang perkayuan seperti Barito Pacific, Jayanti Group, Basiri Group, Surya Dumai dan banyak lagi yang lain. Kemudian hubungan dengan rekan-rekan dari Hexindo juga mulai berkembang. Dan tentu saja hubungan kami dengan klien-klien baru hasil referensi dari pemegang saham juga mulai bertambah. Kami sudah bertemu dengan Medco Group salah satu perusahaan minyak yang sedang berkembang pesat waktu itu. Pak Bambang Sumantri mempunyai hubungan yang demikian baik dengan para pimpinan  Medco Group. Kami sudah mulai dipercaya untuk mengasuransikan beberapa kendaraan operasional berupa oil truk tua. Hubungan kami terus berlanjut sampai akhirnya kami juga diberi kesempatan untuk mengasuransikan hampir semua peralatan pengeobaran mereka termasuk oil rigs yang nilainya ratusan juta dollar. Tapi karena terbatasan kapasitas,  tidak semua rig itu berhasil kami tempatkan asuransinya. Kami mempunyai pengalaman yang menarik dengan Medco Group ini. Pada tahun 1998 atau 1999 saya lupa tahun persisnya terjadilah kecelakan fatal yang menimpa kendaraan chairman dan sekaligus pemilik Medco Group bapak Arifin Panigoro. Kendaraan Mercedes Benz yang beliau tumpangi mengalami kecelakaan fatal di jalan tol Ciawai, Bogor. Kendaraan beliau rusak total, hancur dan supir pribadi beliau meninggal dunia di tempat kejadian. Tapi Alhamdulillah pak Arifin selamat dan tidak mengalami luka serius. Kendaraan itu diasuransikan melalui kami. Kami menyelesaikan  pembayaran klaimnya secara total loss dalam waktu yang sangat singkat. Kami juga memberikan santunan untuk ahli waris supir pribadi yang sudah sudah begitu lama bekerja untuk pak Arifin. Pada saat acara penyerahan pembayaran klaim pak Arifin Panigoro mengucapkan terima kasih banyak atas keberhasilan kami menyelesaikan klaim ini. Sejak saat itu hubungan kami semakin erat. Hampir semua kebutuhan asuransi dari Group Medco kami diberi kesempatan termasuk asuransi kesehatan. 
Karena tuntutan dan permintaan dari nasabah kami yang semakin beragam dan nilainya juga cukup besar, akhirnya banyak dari resiko itu yang tidak bisa diterima oleh Takaful karena terbatasnya kapasitas reasuransi. Kami mengalami dilemma, di satu pihak  kami ingin memenuhi permintaan setiap nasabah, di lain pihak kami harus menerima kenyataan bahwa tidak semua resiko yang kami tawarkan dapat diterima oleh Takaful. Akhirnya sebagai solusinya kami mulai menjalin kerjasama dengan perusahaan asuransi lain yang barang tentu tidak berdasarkan syariah. Kami berkesimpulan ini adalah keadaan darurat. Bahkan program asuransi alat berat yang menjadi andalan kami akhirnya kami buat dengan asuransi Zurich Insurance Indonesia (ZII) yang saat itu ditangani oleh rekan saya Sonny Cheah ex IBS. Hal ini terpaksa kami lakukan karena Takaful memang tidak bisa lagi menerima resiko ini. Setelah menyadari dengan kondisi seperti ini, kami mulai memikirkan untuk merubah status perusahaan kami menjadi broker asuransi. Dengan status sebagai broker kami tidak hanya tergantung kepada satu perusahaan asuransi saja,  kami bebas memilih perusahaan asuransi mana saja yang terbaik. Tapi kami tetap mengutamakan Takaful sebagai prioritas utama karena satu-satunya yang sesuai dengan syariah. 
Sejalan dengan volume transaksi bisnis kami yang semakin banyak terjadi pula klaim asuransi yang terjadi dan memerlukan perhatian khusus. Salah satu klaim yang sangat menyita perhatian saya adalah klaim dari kapal Pipe Layer Barge dari group Gunanusa. Kapal itu mengalami dua kali kecelakaan. Pertama ketika ia melepas jangkar di pantai utara laut Jawa, jangkarnya ketika ditarik tanpa sengaja menarik kabel listrik bawah laut milik salah satu perusahaan minyak. Kabel itu putus yang menyebabkan aliran listrik ke platform mereka padam sehingga produksi mereka terhenti.  Mereka dituntut oleh perusahaan minyak. Nilai klaimnya mencapai satu juta dollar! Sementera kami tidak mempunyai tenaga khusus untuk menangani klaim. Jadi saya sendirilah yang harus menangai klaim ini. Takaful juga belum berpengalaman di dalam menangani klaim sebesar ini. Akhirnya saya sendiri yang melakukan komunikasi dengan pihak reasuransi CT Bowring. Klaimnya sangat rumit karena melibatkan banyak pihak dan investigasi dari loss adjuster. Hampir setiap malam saya berkomunikasi dengan pihak re di London. Ini pengalaman baru buat saya. Selama ini saya hanya terlibat sebagai direct broker dan tidak pernah berhubungan dengan pihak reasuransi.  Saya harus bisa membuktikan bahwa klaim ini bisa dibayar oleh asuransi. Alhamdulliah klaim ini akhirnya bisa diselesakan dengan baik. Sebagian klaim dibayarkan oleh Takaful dan sebagian lain bisa diklaim melalui jaminan Protection and Indemnity (P&I).

lngrisk.co.id

Leave a comment

Your email address will not be published.