Jembatan Selat Sunda, kapan selesai?

Jumat dan Sabtu 24/25 May 2013 silam saya kembali mengarungi Selat Sunda, laut sempit yang memisahkan antara pulau Jawa dan pulau Sumatera. Entah sudah yang keberapa kalinya saya menyeberangi selat ini. Rasanya sudah lebih dari dua puluh lima kali saya bolak-balik sejak 30 tahun silam tepatnya sejak 25 May 1983. Kali ini saya pergi ke Bandar Lampung untuk menghadiri resepsi pernikahan kemenakan saya.
Dulu, setiap kali menyeberangi selat ini rasanya hati ini terasa damai dan tentram memandangi laut nan biru dan hijaunya pulau-pulau yang bertebaran di tengah-tengah selat. Kali ini rasa damaipun masih terasa, tapi tidak lagi seperti dulu. Rasa bosan menunggu dan ketidak nyamanan di dalam kapal ferry mulai terasa mengganggu. Maklumlah setelah puluhan tahun, suasana di atas kapal ferry seperti ini menjadi tidak senyaman dulu lagi. Rasa takut akan kehilangan barang berharga, tempat duduk yang keras, deru mesin kapal yang memekakkan telingan serta olengan kapal diayun ombak. 
Waktu tempuh yang normalnya sekitar dua jam kini tidak selalu terbukti. Waktu berangkat Jumat pagi, kami naik ke kapal ferry di Merak sekitar jam 9 pagi, kami turun di Bakauheni jam 1 siang. Untung di atas kapal diselenggarakan sholat Jumat sehingga saya tidak kehilangan sholat wajib sekali sepekan itu. 

Kami kembali Sabtu siang, bertolak jam 2 dari Bandar Lampung. Jam 4 sore kami sudah berada di atas kapal ferry. Kami harus menunggu satu jam hingga kapal mengangkat sauh untuk berlayar menuju pelabuhan Merak. Sekitar jam 8 malam kapal kami masih \”parkir\” di tengah laut menunggu kapal lain di dermaga 4 yang masih menaikkan penumpang. Hampir satu jam lamanya kami terapung-apung hingga akhirnya kapal kami sandar sekitar jam 9 malam. Jadi total waktu yang kami habiskan sejak naik hingga turun kapal sekitar 5 jam! Wah itu terlalu lama untuk sebuah perjalanan yang berjarak hanya sepanjang 30 km itu.
Sepanjang perjalanan  saya membayangkan seandainya proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda sudah selesai. Tidak ada lagi waktu yang terbuang percuma sebegitu lama. Tidak ada lagi suasana yang tidak nyaman di atas kapal. Tidak ada lagi antrian kapal menunggu untuk sandar. Tidak ada lagi tangisan bayi yang kepanasan dan stress karena terlalu lama menunggu. 
Saya berdoa agar proyek ini segera terwujud. Memang jalan masih panjang, masih banyak perjuangan yang harus dilalui. Sampai saat ini proyek itu masih sebatas gagasan tapi sudah mengarah kepada serius. Sudah ada surat Keputusan Presiden untuk proyek ini. Tapi pekerjaan kelayakan proyek masih belum belum diputuskan. Masih ada tarik-ulur antara beberapa pihak yang berkepentingan. Siapapun akhirnya yang memenangkan perebutan ini, proyek ini harus segera terwujud.
Berapa milyar jam kerja yang bisa dihemat, berapa juta kilo liter solar yang bisa diselamatkan dari setiap kapal ferry. Berapa banyak peluang kerja yang dapat terwujud karena arus barang yang lancar dari Sumatera ke Jawa dan sebaliknya. Jarak 30 km hanya akan bisa ditempuh dalam waktu 20 menit saja.
Sebagai kenang-kenangan, di bawah ini saya hadiahkan untuk anda beberapa gambar hasil jepretan saya selama berada di atas kapal ferry. Jika jembatan sudah selesai, rasanya akan sulit mengulangi lagi mengambil gambar seperti ini. Kendaraan akan melajur rata-rata 100 km di atas jembatan yang menyulitkan untuk mengambil gambar. Ya Allah semoga proyek ini segera terwujud. Amiin.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.