Alamak Medan Paten Kali…

Sabtu dan Ahad 29 dan 30 Juni 2013 awak kembali menginjakkan kaki di ibu kota propinsi Sumatera Utara ini. Ini adalah kali kelima dalam tujuh tahun ini awak ke sini.
Kedatangan awak kali ni, disamping urusan dagang, ada pula urusan keluarga. Jadi awak gabungkanla  sekaligus, biar selesai dua-duanya. Bak pepatah orang tua kita dulu \”sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampui\” ah.. cam tulah. 
Pagi jam setengah sembilan pagi awak sudah mendarat di Polonia, lapangan terbang yang sudah menjelang akhir hayatnya itu. Iya, sebentar lagi sudah ditutupnya. Kalau tidak salah dalam bulan Juli ini juga, semua pindah ke Kuala Namu, bandara baru yang lebih cantik dan hebat. Jadi ini mungkin kenangan terakhir awak singgah di Polonia.

Abang Becak baru, Medan

Aston City Hotel, dillihat dari taman Merdeka


 Jam 10 awak sudah sampe di kantor langganan awak di jalan Gajah Mada. Beliau ni salah seorang toke besar Sumut. Setelah wak tiba di kantornya, eh rupanya beliau  belum datang lagi, awakpun tak mau nunggu lama-lama, sebab awak bisa jumpa  beliau tu nanti sore di kantor proyek di Belawan.

Sementara mengisi waktu, awak diajak pusing-pusing kota Medan sama si Anto, kawan awak anak muda pengusaha angkutan truk. Hebat kali kawan ni, masih belum tiga puluh tahun umurnya sudah punya lima truk besar. Yang paling baru dia baru beli truk low bed 1,5 M. Dulunya dia sopir truk dan  diapun sekolahnya tamat SMA sajanya.

Setelah penat pusingppusing, awak dibawanya ke gudang dan bengkelnya, jam 12 awak diajaknya makan siang di sebuah warung soto. Ala mak enak kali…  Kayak soto betawi kalau di Jakarta.

Jam dua siang sampelah awak di Belawan di lokasi proyek di Belawan. Antopun balik ke Medan sementara tu awak jumpa kawan-kawan dari Jakarta yang sedang kerja di proyek. Setelah bincang-bincang sama kawan-kawan tu jam tiga mereka rapat sama boss yang tadi awak cari ke kantornya. Awak tungguila orang tu sampai selesai rapat. Jam lima barula selesai, langsung awak jumpai pak boss tu. Orangnya baik kali, alhamdulillah beliau mau mengambil asuransi dari awak untuk proyek tu. Asal tau aja, toke ini bangun proyek triliun rupiah pake uang sendiri, tak pake uang bank. \”Ah kalo awak pakai duit bank, awak harus bayar bunga, padahal duit awaknya juga yang dikasihnya\” cam tulah kata pak toke ni kalau ditanya kenapa beliau tak mau pakai bank.

Selepas jumpa pak boss, jam enam awak balik ke Medan numpang mobil kawan. Baru jam delapan malam awak baru check in di Hotel Madani di jalan Sisingamangaraja. Selepas ganti baju, awakpun buru-buru berangkat ke kawasan Bromo tak jauh dari hotel. Karena awak sudah ditunggu adik awak yang mau menikah malam itu. Awak jadi wali karena bapak tak sempat datang. Adik awak mau kawin yang kedua. Mantan suami pertamanya orang Malaysia. Jam sembilan kurang barulah awak tiba di rumah adik. Padahal jam 9 pak penghulu sudah ada acara pula di tempat lain.

Selepas acara nikah, awak lihat  \”aneh\” pula adat orang di Medan ni. Pengantin disirami pake beras kuning, bunga-bunga macam rupa, entah apa lagi. Setiap anggota keluarga berganti-ganti menyiramkan ke kepala pengantin sambil mendoakan. Ala mak… kan tadi ustad dan kadi sudah mendoakan. Ini doa apa lagi? Awak tengok ini macam orang Hindu saja. Kata guru awak ustad Munzir Situmorang, ini perbuatan musyrik namanya. Ck ck ck. Awakpun awak disuruhnya juga siram, tapi wak tolak \”wak tak pandei\” wak bilang.

Pagi Ahad besoknya, awak jalan-jalan keliling Medan numpang becak. Ah.. dah lama kali awak  ndak naik becak. Ini lah kesempatan melihat-lihat Medan di hari libur. Sekitar jam sembilan awak mulai jalan naik becak mesin. Langit begitu cerah ketika awak keliling-keliling dan hawapun terasa sejuk.

Tujuan pertama awak ke Istana Maimum milik Sultan Deli di jalan Pemuda kira-kira satu kilo dari Mesjid Raya Medan. Bagus nian istana ini. Pertama kali dibangun tahun 1888 hingga kini masih terlihat elok dan cantik. Awakpun sempat masuk ke dalam, awak tengok semua isinya masih terawat baik. Kalau melihat tahun pembangunannya awakpun teringat nenek moyang awak dari jalur nenek (ibunya ibu). Salah seorang paman dari nenek awak dulu juga merantau ke tanah Deli dari kampung kami di Sariek Laweh, Payakumbuh nun jauh di ranah Minang. Menurut perkiraan awak beliau merantau ke tanah Deli sekitar tahun-tahun ini pula. Nenek moyang awak itu bernama Achmad orang Melayu memanggilnya dengan sebutan Amat. Nenek moyang kami itu berhasil mendirikan sebuah negeri di tanah Deli ini. Orang Deli menggunakan nama nenek moyang kami itu sebagai nama negeri itu yaitu Lubuk Amat. Negeri ini terletak di wilayah, Tanjung Balai. Desa ini pernah menjadi desa terbaik tingkat nasional beberapa tahun lalu. Hingga kini hubungan karib-kerabat kami masih terjalin dengan keturunan beliau.

Selepas menengok istana Sultan Deli, awakpun diantar Ade si tukang becak menengok rumah Tjong A Fie toke keturunan China yang sangat terkenal di Medan. Hebat kali orang ini. Merantau dari daratan China, mendarat di Belawan kemudian diangkat jadi Kapitan oleh Belanda dan akhirnya menjadi toke. Rumahnya satu hektar, kini menjadi cagar budaya kota Medan.

Setelah tu, awak pigi ke taman Merdeka yang berada di tengah-tengah kota Medan. Ala mak, paten kali taman ini. Tanah lapang segi empat seluas sekitar empat kali lapangan sepakbola berada di antara jalan raya. Tempat orang berkumpul dan bersantai. Ada restoran macam-macam mulai dari selera tradisional, kontinental sampai selera Eropah. Suasananya sangat elegan dan mewah. Rasanya tempat semacam ini tak ada di Jakarta. Yang mirip dengan taman ini mungkin baru ada di Alam Sutera di kawasan Tangerang Selatan. Saat berkunjung ke Medan bulan lalu, awak sudah pernah menikmati suasana di taman ini di malam hari. Mantap kali, makanannya enak, yang paling top adalah pancake durian.  Orang yang datangpun paten-paten, boleh jugalah buak cuci-mata he he he. Mungkin suasana di taman Merdeka ini  mirip dengan suasana di jalan Braga dan sekitranya di kota di Bandung. 
Di sekeliling taman ini ada banyak  hotel mewah salah satunya Aston, kantor-kantor bank besar. Ada pula kantor kawan-kawan awak perusahaan asuransi ACA dan Ramayana. Nah, sebentar lagi taman Merdeka ini akan semakin ramai karena disinilah nanti orang yang hendak berangkat ke bandara Kuala Namu naik kereta api dari Stasiun City Railink Station, kereta api khusus yang mengangkut orang dari dan ke bandara baru Kuala Namu.

Bangunan tua warisan pemerintah koloni Belanda masih banyak yang berdiri kokoh dan terawat dengan baik di dalam kota Medan. Kalau melihat ini, fikiran awak melayang ke Semarang, Yogya, Surabaya dan Makassar. Di kota-kota ini kita masih bisa menjumpai gedung-gedung lama warisan kolonial yang masih terawat dengan baik.

Awak sarankan, jika ada rencana nak melancong, datanglah ke Medan ni. Nikmati kehidupan yang moderen di tengah-tengah masyarakat yang masih bersahaja dan ramah. Medan adalah kota orang Melayu, tidak harus serta-merta dihubungkan dengan ibu kota propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari berbagai suku.

Berikut foto-fota awak selama di Medan.

Bandara Polonia, saat menjelang akhir hayatnya…
Ade, tukang becak depan hotel Madani
Warung tempat beli oleh-oleh khas Medan
Jembatan penyebarangan dari Taman Merdeka ke Stasiun Kereta ( terbengkalai)
Kereta pengangkut penumpang ke Kuala Namu
Bangunan Khas Tiongkok dekat stasiun
Stasiun Kereta
Food court di taman merdeka
Ratusan Kursi siap menanti tamu….
Suasana food court
Pintu Masuk taman Merdeka
Bangun Kuno dan kota yang terawat dan bersih
Rumah Tjong A Fie
Kawasan Pecinan, Kesawan
Bagusnya perwatan kota. Mirip di Fremantle, Western Australia
Istana Maimun
Indahnya interior istana
Warna Kuning mendominiasi
Pintu Jati yang masih kokoh
Mesjid Raya Medan, yang terawat dengan baik

Leave a comment

Your email address will not be published.