Enjoy Long Holiday Idul Fitri 1434 H

Di hari ketiga idul fitri 1434 H kami sekeluarga mencoba menikmati liburan. Setelah di hari pertama bersilaturahmi dengan keluarga dekat alias ring satu. Di hari kedua dengan keluarga dan sahabat maka dihari ketiga kami mencoba ke luar rumah untuk menikmati suasana liburan nasional ini.
 

Kami memutuskan untuk pergi berlibur ke pantai Carita, di kawasan Banten berjarak sekitar 150 km sebelah barat Jakarta. Topik liburan ini adalah jalan-jalan, jadi tidak menginap. Kami memilih jurusan ini dengan mempertimbangkan faktor kemacetan. Kalau kami memilih arah ke Timur seperti ke Bandung 
dan lain-lain, pasti macet karena begitu banyak orang yang berlibur di sana dan juga ada arus balik dari pemudik dari arah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. 
Masing-masing keluarga mempersiapkan makanan, minuman dan semua sarana yang diperlukan sehari sebelumnya. Aneka ragam masakan khas telah disiapkan. Masakan yang paling khas adalah racikan dari etek kami. Ada gulai cubadak (nangka) yang sudah dikeringkan, sambal tempe campur pete, telor dadar, telor balado, rebus terong, kacang panjang dan buncis. Tentu saja kesukaan semua orang yaitu sambalado (sambal) khas masakan etek. Wow, semua menyukainya sehingga walau dibuatkan segitu banyak hanya dalam waktu singkat sudah ludes.
Kami berangkat dengan tiga kendaraan, dua Avanza dan satu Honda Freed, total lebih dari 20 orang anggota rombangan kami. Jam sembilan pagi kami sudah bergerak meninggalkan kawasan Bintaro menuju jalan Tol Serpong. Kemudian melanjutkannya ke jalan tol Jakarta – Cilegon. Begitu kami memasuk pintu tol Cikupa kami sudah melihat begitu ramainya kendaraan yang mengarah ke Cilegon. Kami harus antri mengambil tiket tol sepanjang hampir satu kilometer. Dalam hati saya mulai khawatir bahwa akan terjadi kemacetan yang luar biasa ketika keluar di pintu keluar tol Cilegon Barat sampai ke Anyer. Saya langsung berfikir akan lebih baik memilih jalur Serang – Pandegelang kemudian terus arah ke Labuan. Saya berkoordinasi dengan semua pengemudi agar nanti exit di pintu tol Serang Timur. Benar juga, kami tidak perlu begitu lama antri untuk membayar tol ketika exit. Kami memasuki kota Serang yang dalam keadaan sepi-sepi saja. Kami terus mengarah ke jalan raya Pandegelang- Labuan sepanjang sekitar 10 km, suasana jalanan masih normal saja. Tapi gegitu kami melewati pertigaan Pandegelang dan Cilegon mulai terlihat kerumuan motor dan mobil. Terlihat petugas polis sibuk mengatur lalu-lintas. Kendaraan Freed yang dikemudikan oleh kakak saya sakah jalan, dia mengikuti jalur yang menuju ke Cilegon. Akhirnya semua rombongan mengikutinya dari belakang. Setelah masuk sekitar satu kilometer saya minta agar rombongan berbalik arah  karena jalur yang sempit itu sudah macet total. Lagi pula, ujung jalan itu nati baru sampai di Cilegon, masih jauh dari pantai anyer.
Setelah kami berbalik kami memutar ke jalan raya Labuan. Labuah masih berjarak 60 km dari lokasi itu. Tiba-tiba jalur ini mengalami kemacetan pula. Hanya sekali-sekali saja kendaraan bisa bergerak. Hari sudah menunjukkan jam sebelas siang atau dua jam setelah kami meningglkan rumah. Normalnya dengan waktu selama itu kami sudah sampai di Anyer. Kemecatan semakin lama semakin parah. Satu jam kemudian kami baru berhasil bergerak sekitar satu kilometer. Jam dua siang karena perut sudah pada lapar kami berhenti di sebuah mesjid setelah kota Pandegelang untuk sholat zuhur sekaligus makan siang. Awalnya ada yang tidak setuju untuk makan di mesjid ini, tapi karena sebagian besar terutama anak-anak sudah terlihat kehilangan kesabaran akhirnya kami putuskan untuk membuka rantang di halaman  mesjid yang cukup luas. Begitu dibuka, langsung makanan diserbu oleh hampir semua peserta. Mereka duduk di dalam mobil, di pinggir mesjid dan lain-lain. Subhanallah, nikmat sekali makan kami siang itu. Semua \”bakacintuang\” alias berebutan menikmati makanan sederhana itu. Syukur persiapan makanan cukup banyak sehingga tidak ada yang kekurangan. Bahkan masih cukup untuk sekali makan lagi. Memang persiapan sudah dianggarkan untuk dua kali makan. 
Perjalanan dilanjutkan kembali. Kira-kira jam empat sore kami sudah sampai di pertigaan jalan memotong ke arah pantai Carita, jadi tidak harus sampai ke Labuan. Karena kalau harus tetap ke Labuan pasti kami sampai disana tengah malam. Setelah melewati jalan sempit dan penuh tanjakan dan penurunan tajam, satu setengah jam kemudian kami sampai juga di pantai Carita. Matahari baru saja tenggelam di lautan Hindia ketika kami sampai di bibir pantai. Yah, kami masih bisa menikmati matahari terbenam di bawah langit tamaran berwana jingga. Kami masih sempat bermain ombak dan pasir di alam yang berangsur gelap. Setengah jam kemudian warna jingga langitpun hilang, berganti dengan warna abu-abu dan segera berubah menjadi gelap meninggalkan bulan seperti tergantung di langit.
Perut kami  kembali bergejolak meminta segera diisi. Untung masih ada sisa makanan yang tadi siang masih disimpan. Kamipun menikmati makan malam ditengah kegelapan di tenda yang sudah kosong ditinggal pulang oleh pemiliknya. Untung ada peserta yang kreatif menghidupkan lampu mobil dan diarahkan ke tenda tapi tetap saja tidak bisa menerangi seluruhnya karen cahaya datang dari samping. Tapi itu cukup untuk memberikan keleluasaan kepada peserta untuk menyendok makanan. Wah, ternyata makan kami semakin lahap. Bahkan ada peserta yang makannya tidak putus-putus. Luar biasa.
Jam tujuh malam kami berkemas meninggalkan pantai dalam gelap gulita meninggalkan kenangan yang entah kapan akan terulang kembali. Menikmati matahari terbenam, bermain dan sambil menikmati makan malam yang begitu nikmat.
Baru sekitar satu kilometer setelah kami berjalan di jalan raya Anyer areh ke Cilegon kami sudah disergap oleh kemacetan. Awalnya kami berfikir mungkin ini hanya kemacetan sementara. Setelah beberapa lama kemudian kemacetan mereda sebelum akhirnya benar-benar macet dan kami tidak bergerak selama hampir dua jam. Kami sempat bergerak maju beberapa meter kemudian macet kembali. Alhasil kami baru bisa meninggalkan Anyer sekitar jam satu tengah malam. Semua peserta sudah kelelahan dan beberapa menderita sakit perut termasuk saya. Akhirnya kami menemukan mesjid yang cukup besar. Kami sholat jamak Magrib dan Isya sekaligus membuang hajat disana. Al hasil, jam lima pagi baru kami sampai kembali di rumah. Saya langsung sholat subuh dan tidur. Jam setengah satu saya baru bangun setelah dibangunkan isteri. 
Wah, ini liburan keluarga yang sangat istimewa. Waktu bermain-main hanya satu jam sementara waktu di dalam perjalanan lebih kurang delapan belas jam. Tapi, meskipun sebentar kami tetap menikmati kebersamaan ini. Kami mendapatkan pengalaman yang begitu besar. Kebahagian merasuk di dalam hati masing-masing. 
Tahun lalu kamipun menikmati liburan yang menyenangkan. Kami berlibur di ranah Minang ketika kami pulang kampung. Bedanya kami hanya sekitar tiga jam saja terkurung kemacetan di pinggir danau Singkarak. 
Semoga liburan idul fitri tahun 1435 H lebih menyenangkan. Insya Allah, amiin.
Berikut ini foto-foto kenang-kenangan kami.

1 comment

  1. Luar biasa liburan yg menyenangkan ya pak.walau lama di jln tp berkesan dan memuaskan.sy jg pergi libur ke bdg berangkat jumat h+1 dan balik ke jkt hari sabtu.jalan lengang dan sepi tdk ditemukan kemacetan baik di tol jkt cikampek, cipularang dan pas msk bdg di pasteur.jalanan kota bdg jg msh sepi dan lancar.liburan yg berkesan tanpa ketemu macet.cuma agak susah cari mkn krn msh banyak yg tutup.hotel kami di daerah braga jd cukup ramai dan malamnya banyak yg jalan kaki.apalg gdg merdeka dan alun2 cukup dekat dari lokasi hotel kami.

Leave a comment

Your email address will not be published.