Tour De Java 2013 Part 1

Kembali tahun ini saya melakoni Tour De Java. Ini adalah kali ke lima dalam sepuluh tahun terakhir. Kalau tour sebelumnya lebih karena faktor jalan-jalan, kali ini misi utamanya adalah kerja baru kemudian jalan-jalan. 
Sejak saya menghentikan kebiasaan pulang mudik mengendarai kendaraan sendiri  ke kampung saya di Sariek Laweh Payakumbuh Sumbar (Tour De Sumatera) pada tahun 2001 silam, saya menggantinya dengan mudik ke tanah Jawa. Tidak ada keluarga dekat di Jawa, tapi cuma sekedar untuk menyalurkan hasrat berpetualang di jalan raya selama berhari-hari. Alasan saya menghentikan Tour De Sumatera karena saya sudah kehilangan semangat setelah hampir sepuluh tahun non stop mengharungi daratan Sumatera sepanjang lebih kurang 1,400 km sekali jalan selama tiga puluh enam jam. Mungkin karena faktor usia atau mungkin karena daya tarik pulang kampung yang sudah mulai memudar.
Posisi Odo meter ketika berangkat dari Pondok Aren
Suasana Simpang Lima Semarang
Simpang Lima Semarang di malam hari

Sebenarnya petualangan ke tanah Jawa sudah saya mulai pada tahun 92 silam, bahkan ini adalah petulangan pertama saya berkendara ke luar Jakarta. Setelah itu baru saya lanjutkan dengan tour de Sumatera. Waktu itu awal dari pernikahan saya, itu pertama kalinya juga punya mobil sendiri.  Saya punya Suzuki Kataka warna putih B 2065 MH.
Antara tahun 2002-2010 saya sudah empat kali tour de Java setiap lebaran. Hampir seluruh wilayah di pulau Jawa sudah saya jelajahi mulai dari pantai utara sampai pantai selatan. Sering bersama keluarga berombongan. 
Bulan lalu antara tanggal 22 dan 24 Agustus 2013 saya kembali menjelajahi tanah Jawa. Ada tiga agenda. Pertama bekerja. Saya akan mengadakan survey ke Semarang dan Cepu. Selain itu saya juga ingin berkunjung ke dua klien di Semarang. Menagih premi yang sudah lama tertunggak dan jumlah yang cukup besar. Selain itu berkunjung ke kantor klain kami perusahaan leasing yang mempunyai kantor cabang di sini.
Awalnya tidak ada niat untuk menyetir kendaraan sendiri. Ketika saya tanya kepada klien saya mengenai posisi dari lokasi proyek yang di Cepu, ternyata tidak mudah untuk mencapainya. Meski Cepu termasuk ke dalam wilayah Jawa Tengah, tapi cara yang paling mudah untuk sampai ke sana adalah melalui Surabaya. Dari bandara berangkat ke terminal bis yang menuju Cepu. Waktu tempuh sekitar tiga sampai empat jam. Dari terminal naik ojek ke proyek. Setelah selesai berangkat ke stasiun kereta untuk menunggu kereta jam tujuh malam berangkat ke Semarang. Sampai di Semarang kira-kira empat jam kemudian atau tengah malam baru sampai. Mendengar penjelasan ini, saya langsung berfikir ternyata rumit sekali perjalanannya. Waktu yang diperlukan sangat lama. Kalau saya naik pesawat jam enam pagi dari Jakarta berarti paling lambat jam empat pagi saya sudah harus berangkat dari rumah. Wah kalau begitu saya lebih baik membawa mobil sendiri. Pengalaman saya dulu, jarak tempuh Jakarta Semarang bisa dicapai dalam waktu delapan jam. Kalau saya juga berangkat dari dari rumah jam empat subuh, jam 12 siang saya sudah sampai di Semarang. Di Semarang saya bebas bepergian kemana saja tampa harus mencari taksi dan menyewa kendaraan lain. Pengalaman saya mencari taksi di Semarang tidak mudah karena jumlah taksi tidak sebanyak di Jakarta.Jadi jauh lebih baik saya membawa kendaraan sendiri ketimbang naik pesawat terbang dan naik kendaraan umum.
Kebetulan pula, beberapa hari sebelum hari keberangkatan ayah saya datang bersama dengan tetangga beliau di Padang yang punya rencana untuk membuka usaha pembuatan batu asahan. Beliau ingin melihat mesin  pengolah batu yang ada di Tulungagung Jawa Timur. Nah ini kebetulan bisa nyambung dengan kegiatan saya. Setelah selesai survey di Semarang dan Cepu, saya bisa antar ayah ke Tulungagung. Semakin mantaplah rencana saya untuk pergi menggunakan mobil. Sebagai acara tambahan saya buat pula jadwal untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan sahabat. Pertama saya ingin bersilaturahmi dengan keluarga pamam saya  Almarhum Abdul Hamid Arifin di Tonjong, Purwokerto Jawa tengah, sekaligus berziarah ke kubur beliau. Ini mungkin kesempatan terbaik bagi saya dan ayah untuk ziarah. Terakhir kami ziarah kesini sekitar lima belas tahun lalu. Acara berikutnya saya ingin berjumpa dengan sahabat baik saya Sulaiman Maas (Cun) yang sekarang bermukim di Solo. Cun adalah sahabat terbaik saya di SMA. Persahabatan kami berlanjut ketika kami sama-sama merantau ke Jakarta. Kami menulis cita-cita kami di kaki Monumen Nasional (Monas) tiga puluh tahun yang lalu tepatnya 1 Januari 1984 pagi hari. Kami berani membuat mimpi besar tentang masa depan yang luar biasa. Kini mimpi itu sudah menjadi nyata. Bahkan lebih indah dari yang kami mimpikan. Saya ingin bertemu dengan Cun, sudah lebih dari sepuluh tahun kami tidak bertemu muka. Ingin sekali saya bercerita dengannya tentang masa lalu yang lucu, pahit, getir dan norak. Membuat mimpi baru menuju lima puluh tahun jilid kedua dan lain-lain. Di Solo saya juga ingin berjumpa dengan sahabat sewaktu kecil di kampung saya Sarik Laweh. Sekarang ia menjadi pedagang sukses di kota budaya ini. Namanya Nur Azan atau kami memanggilnya dengan sebutan Nenek Tekong. Dulu, tak ada yang menyangka kalau ia akan menjadi sukses seperti sekarang ini. Fisiknya lemah, intelektualitasnya biasa-biasa saja. Tapi dia mempunyai hasrat untuk sukses yang luar biasa. Dia seorang pejuang, pemberani, dan mempunyai percaya diri yang sangat tinggi. Dengan bermodalkan semangat itulah ia berhasil menjadi pedagang pakaian yang sukses. Sudah lebih dari setengah dari wilayah negeri ini dia jelajahi. Semua kota besar di pulau Sumatera, Kalimantan tentu saja di pulau Jawa. Dia mempunyai cabang usaha di Jambi, Bukittinggi, Medan, Surabaya dan rekan-rekan bisnis di beberapa kota di Kalimantan. Luar biasa. 
Untuk lebih efektif saya menyusun jadwal sebagai berikut. Hari pertama berangkat dari Jakarta langsung ke Samarang.  Sampai di Semarang jam satu siang langsung bertemu klien di kawasan Industri Candi. Jam tiga survey di Tambak Lorok, Tanjung Mas sore chek in di hotel. Hari kedua Jumat pagi jam setengah sembilan  bertemu klien di dekat Simpang Lima. Jam setengah sepuluh berangkat ke Cepu lewat Purwodadi. Diharapkan jam satu siang sudah sampai dan jam dua siang berangkat ke Tulungagung lewat Madiun. Malamnya nginap di Solo. Hari ketiga hari Sabtu  balik ke Jakarta melalui  Purwokerto via Yogyakarta. Sabtu malam diharapkan sudah sampai kembali di Jakarta karena besoknya sudah ada jadwal main golf dengan klien.
Kamis 21 Agustus jam setengah empat subuh saya sudah berada di rumah adik saya di jalan raya Ceger Pondok Aren untuk menjemput ayah. Kami berdua saja menempuh perjalanan panjang ini. Ini perjalanan panjang antara ayah dan anak pertama saya. Jam lima kurang kami sudah sampai di setopan tol terakhir sebelum ke luar ke Purwakarta. Kami masih sempat mengikuti sholat subuh berjamaah disana. Selepas sholat kami langsung tancap gas melewati jalan tol yang masih gelap sampai ke jalan yang menuju arah Cirebon. Jalanan masih sepi sehingga kami bisa memacu kendaraan rata-rata 80km/jam. Tepat jam delapan pagi kami sudah sampai di tempat istirahat setopan tol Cirebon.  Kami sudah berjalan selama 4 jam. Kami istirahat sebentar, sarapan dan minum kamudian kami lanjutkan perjalanan. Kami berbelok ke kanan memasuki jalan tol Pejagan milik Bakrie. Jalannya agak sepi dan kondisi permukaan jalannya tidak rata. Di beberapa titik sedang ada perbaikan akibatnya kendaraan tidak bisa dipacu maksimal. Jam sepuluh pagi kami sudah sampai di daerah Brebes dan masuk ke jalan raya menuju Semarang. Jalan sudah mulai ramai, sehingga kendaraan tidak bisa dipacu. Bahkan di beberapa titik terjadi kemacetan. Kondisi jalan semakin ramai ketika kami melewati Tegal, Pekalongan dan Batang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas ketika kami memasuki kawasan Batang. Jalan sudah mulai agak sepi saya coba memacu kendaraan. Memasuki kawasan Alas Roban yang banyak tanjakan dan berliku saya terpaksa harus berjalan pelan karena banyak truk-truk yang berjalan begitu lambat karena tidak kuat menanjak. Jam dua belas siang kami mulai memasuki kawasan Kendal. Karena sudah mulai terasa lapar akhirnya saya beristirahat di sebuah restoran yang cukup besar dengan halaman parkir yang  luas. Saya minta orang kantor untuk menelopon ke klien saya yang di Kawasan Candi karena saya akan datang terlambat saya minta diundur dari jam satu menjadi jam dua siang.
Perjalanan sepuluh jam dari Jakarta tidak membuat saya capek. Rasanya seperti saya berkendara di Jakarta saja. Ini mungkin karena saya mengambil keputusan yang tepat dengan mengendarai Toyota Altis 1.8 2008 milik saya. Sebelumnya saya sempat berfikir akan menggunakan Toyota Avanza biar lebih irit dan cocok dengan kondisi jalan di luar kota. Ternyata justru lebih cocok menggunakan Altis karena kondisi jalan cukup bagus, nyaman dikendarai, tenaganya bisa dipacu dan irit. Rata-rata penggunaan bensin adalah 1 liter untuk 14,5 km.

Meski saya sudah sering ke Semarang tapi tetap saja saya masih bingung untuk menuju ke kantor klien saya. Untunglah saya berangkat ditemani oleh Navigator dari Samsung Galaxy S4 yang baru saja saya update. Luar biasa, alat ini benar-benar canggih. Saya dibimbing setiap belokan dan simpangan sampai benar-benar sampai di tujuan. Navigator tidak hanya menunjukkan posisi pada peta tapi juga memberikan pengarahan dalam bentuk suara dalam bahasa Inggris. Tapi yang luar biasanya lokasi dan posisinya benar-benar up date sehingga setiap gang dan belokan kecilpun diberitahu. Jam dua siang saya sudah duduk bersama klien saya untuk membicarakan rencana pembayaran. Insya Allah dalam waktu dekat ini akan ada pembayaran dalam jumlah besar.

Acara selanjutnya adalah survey ke lokasi proyek di Tambak Lorok. Kembali saya memanfaatkan jasa Navigator. Jarak ke lokasi dari posisi saya adalah dua belas kilometer dapat ditempuh dalam waktu 20 menit. Demikian laporan yang ditulis oleh Navigator. \”In 150 m turn right\” demikian instruksi pertamanya. Saya ikuti saja. Benar dalam jangka waktu 20 menit saya sudah berdiri beberapa meter dari proyek yang akan saya survey. Wah, jika tidak menggunakan alat ini entah bagaimana caranya akan sampai di lokasi di pantai utara Semarang itu. Jam empat sore saya sudah selesai survey, ini saatnya untuk menuju ke hotel di kawasan jalan Dokter Satrio. Satu-satunya hotel yang masih mempunyai kamar di Semarang malam itu. Beberapa hari sebelumnya saya sudah berusaha untuk mendapatkan kamar di hotel Santika Semarang, tapi semua kamar sudah penuh. Karena besoknya adalah hari yang begitu penting bagi masyarakat Jawa Tengah karena besoknya tanggal 23 Agustus 2013 adalah hari pengangkatan gubernur Jawa Tengah yang baru periode 2013-2018 yaitu Ganjar Pranowo. Hampir semua tamu undangan memesan kamar di seluruh hotel bagus di Semarang.

PLTG Tambak Lorok, Semarang

Ah, tenyata tak selamanya Navigator itu hebat. Buktinya ketika saya menuju ke hotel ia tidak bisa mengarahkan dengan benar. Saya terpaksa harus berputar-putar beberapa kali hingga akhirnya sampai di hotel yang kami tuju. Akhirnya menjelang magrib kami sampai juga di hotel. Segera saya berbenah, sholat magrib untuk siap-siap mengajak ayah keliling Semarang dan sekaligus makan malam.

Jumat pagi setelah menelusuri jalan-jalan di kawasan Simpang Lima, saya sampai di kantor klien kami. Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya saya bertemu dengan karyawan yang selama ini banyak membantu kami dengan mengirimkan beberapa permintaan jaminan asuransi. Sayang kepala cabang sedang bertugas ke Solo sehingga saya tidak sempat bertemu.

Kembali dengan mengandalkan Navigator saya berangkat meninggalkan Semarang menuju Cepu di sebelah selatan. Ada dua pilihan untuk menuju Cepu dari Semarang, lewat Purwodadi dan lewat Demak, Kudus dan Tuban. Saya ambil rute melewati Purwodadi karena menurut Navigator lewat Purwodadi hanya berjarak 130 km sedangkan lewat Tuban 180 km.

Ketika bergerak ke luar dari kota Semarang saya mulai melihat sisi lain dari Jawa Tengah. Ketika melewati wilayah pantai Utara Jawa Tengah mulai dari Tegal hingga Semarang saya melihat tingkat kehidupan masyarakat yang lebih baik tidak jauh berbeda dengan di daerah lain. Tapi ketika memasuki wilayah Kabupaten Demak terus masuk ke wilayah Purwodadi saya melihat tingkat ekonomi di sini relatif lebih rendah. Hampir tidak ada rumah-rumah dan bangun baru, pasar-pasar moderen. Yang banyak terlihat adalah rumah-rumah tua berdindingkan kayu, beratap genteng lusuh. Demikian juga kondisi kehidupan orang-orang yang terlihat di pinggir jalan,  masih bersahaja. Jarang sekali terlihat mesjid besar. Ketika melihat ini, fikiran saya melayang ke masa sekitar empat puluh tahun lalu ke kehidupan di desa saya. Tapi sekarang desa saya sudah berubah, bahkan terlalu cepat berubah sehingga saya hampir tidak melihat lagi keindahan di masa lalu. Rumah mewah, jalan beton serta gaya hidup yang luar biasa. Mungkin ketika saya lewat di Purwodadi pada awal musim kemarau. Memang tidak ada tanaman yang tumbuh di lahan yang begitu luas membentang di kiri-kanan jalan.

Jam dua belas siang saya sampai di sebuah pasar yang lumayan agak ramai. Alhamdulillah disini ada mesjid yang cukup besar dan bagus. Saya sholat Jumat di mesjid ini. Khutbahnya dalam bahasa Indonesia sementera pengumuman dalam bahasa Jawa.

Leave a comment

Your email address will not be published.