Ahli Pialang Asuransi Dari Desa – Small Office Home Office

Di dunia  sekarang ini siapa yang tidak kenal dengan Microsoft, perusahaan penyedia perangkat lunak (software) yang dipakai oleh setiap pengguna komputer di seluruh dunia dengan omset raturan miliar dollar setiap tahun. Tapi tahukah anda bahwa perusahaan itu dimulai  sekitar tiga puluh tahun lalu dari sebuah garasi mobil? Saya pun mengikuti cara yang dilakujan oleh Bill Gates dan kawan-kawannya para pendiri Microsoft.  
Karena saya tidak jadi bekerjasama dengan siapapun, saya terpaksa harus memulai  bisnis saya di garasi rumah saya di Karya Indah Village II Pondok Aren Tangerang Selatan. Tapi di dalam kartu nama saya tuliskan alamat rumah mertua saya di jalan Cidodol Raya Kebayoran Lama Jakarta Selatan.  tujuan saya menggunakan alamat itu biar orang mudah mengenal alamat itu karena masih berada di kawasan DKI Jakarta yang kedengarannya cukup keren. Ada kejadian lucu terjadi. Karena alamat rumah yang di Cidodol itu saya gunakan sebagai restoran, banyak teman-teman  komplain. \”Pak saya sudah bolik-balik cari kanto bapak tapi tidak ketemu, kantornya di sebelah mana dari restoran padang?\” katanya. 

 Meja dan  kursi kantor sebagian besar saya dapatkan dari kantor lama yang  cuci-gudang karena banyak karyawan di PHK dan ruang kantornya dikecilkan. Kartu nama, logo perusahaan,  dan semua cetakan saya rancang sendiri di Sanppy di Bintaro Sektor Satu. Hampir setiap minggu saya menghabiskan waktu di Sanppy untuk merancang dan gonta-ganti logo dan desain kartu nama. Akhirnya saya menemukan logo yang pas. Idenya dari logo asuransi terbesar di dunia AIG (American Insurance Group). Logo yang menggunakan karakter huruf yang berada di dalam kotak. Saya gunakan logo LNG dengan karakter huruf yang sama. Nama LNG saya ambil dari Life and General. Nama jenis asuransi. Karena saya mengawali karir saya di asuransi jiwa saya suka dan tertarik untuk mengembangkan asuransi jiwa. Di lain pihak saya juga besar dan karir saya berkembang di lingkungan asuransi umum maka suya juga ingin mengembangkan asuransi umum. Jadi nama lengkap perusahaannya Life and General Risk Services. Hurufnya dalam tiga warna, huruf L menggunakan loga merah dan huruh L warna biru. Warna merah adalah warna kesukaan isteri saya sementara warna biru warna kesukaan saya.

Sebagai sarana komunikasi saya menggunakan jalur telepon kantor yang sudah ada di rumah. Selain sebagai saluaran telepon digunakan juga sebagai saluran fax dan internet. Sebagai saluran telepon tambahan saya memesan telepon flexi yang khusus untuk dipasang di rumah. Pesawat teleponnya seperti pesawat telepon biasa. Sementera untuk kegiatan di luar saya menggunakan handphone sederhana. Ada beberapa kelucuan ketika menerima telepon di rumah. Pada saat menelpon kadang ada tukang makanan lewat sambil mengeluarkan suara untuk menawarkan makanan. \”Pak Taufik, saya mau dong pesan mi dog-dog…\” kata rekan saya yang diujung telepon karena saat kami berbicara dia mendengar teriakan tukang mi sedang lewat. Karena lokasi kantor kami berdekatan dengan mesin pompa air, ketika musim kemarau mesin pompa hidup terus-terus menerus membuat suasana kerja tidak nyaman. Karena cash flow perusahaan kami berantakan saya sering terlambat membayar pulsa sehingga sering handphone saya mati dan klien tidak bisa menghubungi saya.
Pada saat awal memulai bisnis saya masih mengendarai mobil dari kantor yang lama, Toyota Avanza. Mobil itu boleh saya pakai dengan alasan mereka masih meminta saya untuk menjadi konsultan walau secara tugas tidak ada yang perlu saya konsultasikan. Menurut perkiraan saya itu alasan saja karena mobil itu mobil milik dari salah satu direktur yang disewakan kepada perusahaan. Jadi agar dia masih bisa mendapatkan uang sewa dari kantor dia membiarkan saya menggunakan mobil itu selama tiga bulan yang berakhir pada akhir Desember 2006. Setelah masa pemakaian mobil itu berakhir saya masih terus menggunakan mobil itu dengan status sewa. Akan tetapi karena cash flow kami sangat buruk sering kami ditegur oleh pemilik karena kami membayar uang sewanya sudah sangat terlambat. Di pertengahan tahun 2007 kami putuskan untuk menghentikan menyewa mobil itu karena uang sewanya yang sangat mahal. Sebagai gantinya kami membeli mobil secara leasing karena cicilan perbulannya bisa lebih murah. Cicilan leasingnya setiap bulan hanya sebesar satu setengah juta sementera down payment hanya sekitar lima belas juta. Mobil jenis apa itu kok masih bisa semurah itu? Itu sedan Toyota Soluna tahun 2002, usianya masih lima tahun. Itu mobil bekas taxi yang umurnya sudah lebih dari lima tahun. Kondisinya sudah sangat parah. Total hampir mendekati 750,000 km. Bodinya sudah hampir rusak seluruhnya. Bumper sudah pecah dan sobek-sobek. Agar tidak lepas, saya mengikatnya dengan kawat, tapi kalau guncangannya cukup kuat ikatannya lepas. Sering kalau saya sedang menyetir ada orang yang menunjuk-nunjuk ke arah bamper itu karena sudah mau lepas. Saya turun dan mengikatnya kembali. Hampir semua kaki-kaki dan shock breakernya sudah mati. Saya ganti satu–persatu. Pernah satu kali saya sedang melaju di jalan tol, tiba-tiba stirnya susah dibelokkan, saya harus memutar beberapa kali. Alhadulillah akhirnya saya masih bisa sampai di rumah. Satu sore saya dan isteri sedang melaju di jalan Fatmawati Jakarta Selatan. Tiba terdengan suara aneh yang berasal dari ban. Dug-dug-dug, saya berhenti dan saya lihat ternyata ban dalam mobil menyumbul keluar dari pecahan ban luar. Memang kami tidak punya ban tubles, ban itu ban bekas yang kam beli sebulan yang lalu. Akhirnya dengan pelan-pelan mobil saya jalankan ke toko ban yang bisa menjual dengan kredit card di kawasan Lebak Bulus sekitar lima kilometer dari lokasi. Pernah pula kami sekeluarga nyaris mati karena mobil ini. Satu hari kami sekeluarga pergi ke Bandung. Pada saat kami sedang menanjak di sekitar km 90 di tol arah ke Bandung. Tiba-tiba dari kenalpot mobil keluar asap tebal dan mobilnya nyaris berhenti karena tidak kuat menanjak. Asap menutup jalan sehingga menggangu kendaraan yang datang dari belakang. Tapi mobil tetap saya paksa jalan, dan alhamdulillah kami bisa terus sampai di Bandung. Besoknya ketika kami mengarah ke arah Lembang saat itulah bencana tiba. Pada saat berjalan menanjak dan berkelok-kelok tiba-tiba mobil kehilangan tenaga. Tanjakan begitu tinggi akhirnya mobil mundur, dicoba ditahan dengan rem tidak berhenti akhirnya mobil tetap mundur mengarah ke dalam jurang. Tapi akhirnya dengan sekuat tenaga masih bisa dibelokkan sehingga mobil menghantam tebing dan tidak jadi terjur ke dalam jurang. 
Untuk modal operasional saya mengandalkan dana hasil penjualan saham saya di perusahaan lama. Awalnya pemegang saham yang lain tidak mau membeli saham saya. Tapi karena saya paksa akhirnya mereka mau membeli. Alasan saya karena itu adalah satu-satunya sumber dana yang masih bisa saya manfaatkan. Awalnya mereka mamu membeli tapi dengah harga setengah dari harga nominal. Padahal perusahaan sudah berjalan hampir sepuluh tahun masa nilai saham masih sama dengan sepuluh tahun bahkan mau diturunkan. Akhirnya saya setuju menjual seharga nominal yang penting bagi saya bahwa saya bisa mendapatkan uang dari hasil penjualan saham itu. Dengan penjualan saham itu saya bisa mendapatkan uang tunai cukup untuk bertahan hidup selama satu tahun. Tapi karena uang itu saya gunakan juga untuk modal usaha maka uang itu akhirnya hanya bisa bertahan dalam waktu kurang dari enam bulan saja.
Kami merekrut satu orang karyawan. Ia adalah mantan teman kerja di perusahaan lama yang juga kena PHK. Karena dia sangat memerlukan pekerjaan karena dia sebatangkara di Jakarta ini maka kami setuju untuk menerimanya. Mungkin bagi dia juga tidak ada pilihan kerja yang lain. Sebenarnya lokasi rumah kami cukup jauh dari rumahnya. Dia yang bekerja di kantor sebagai back office sementara saya dan isteri pergi ke luar mencari nasabah.

lngrisk.co.id

Leave a comment

Your email address will not be published.