L&G Family Gathering 2014

Setiap bulan Januari cuaca di Jakarta selalu buruk. Hujan turun hampir sepanjang hari, angin topan, badai dan diikuti oleh banjir yang menggenangi di beberapa bagian dari ibu kota ini. Banyak orang menghindari kegiatan di luar rumah selama bulan ini. Tapi hal itu tidak berlaku bagi keluarga besar L&G. Perusahaan Broker dan Konsultan Asuransi. Pada saat cuaca rawan itu justru sebanyak hampir lima puluh orang karyawan dan keluarganya mengadakan acara outing di Kepulau Seribu Utara antara tanggal 13 dan 14 Januari 2014 lalu.

Sebagai pimpinan saya baru menyadari bahwa keputusan untuk mengadakan acara pada tanggal itu tidak tepat. Tapi karena ini adalah kesempatan terbaik, saya tetap setuju untuk dilanjutkan. Sepanjang tahun 2013 praktis kami tidak sempat mengadakan acara family gathering karena sibuk dengan pindah kantor dan pembentukan team baru. Acara outing kami terakhir adalah bulan November 2012 ke Pengandaran, Jawa Barat. Kebetulan pula tanggal 14 Januari adalah hari libur sementara hari Seninnya adalah \”Harpitnas\” alias hari kejepit nasional. Walau tanggal 13 tidak ditetapkan sebagai hari libur tapi kami tetap mengadakan acara pada hari itu. Sementara untuk menjaga kantor kami minta kesediaan dari rekan-rekan kami yang tidak bisa ikut ke acara gathering kami minta untuk masuk kantor. 
Jam setengah lima pagi hari Senin 13 Januari 2014 hampir semua peserta sudah berkumpul di kantor kami di Victorian Bintaro Jaya Sektor 3A. Disana sudah ada bis yang akan mengantar kami ke pelabuhan Angke. Hujan yang mengguyur Jakarta sejak semalam masih belum berhenti, hujan masih turun walau tidak begitu lebat. Sejak semalam saya sudah khawatir apakah sebaiknya acara ini dibatalkan saja karena terlalu beresiko dengan cuaca buruk seperti ini. Saya minta panitia untuk mengkonfirmasi dan menghubungi pihak Event Organizer dalam hal ini dari SARBENI ADVENTURES. Tak berapa lama kemudian saya mendapatkan telepon langsung dari bang Sani pimpinan SARBENI bahwa cuaca di daerah tujuan cukup baik, walau sempat hujan tapi tidak terlalu lebat. Mendengar informasi ini saya tidak jadi mengirimkan \”instruksi pembatalan\”. Di lain pihak para peserta sudah terlanjur begitu bersemangat. Mereka meresponse dari group BBM seolah-olah menyiratkan bahwa maju terus, jangan mundur. Bagi saya ini resikonya besar, kalau terjadi hal terburuk misalnya kapal karam, maka karam pulalah L&G karena semua karyawan dan keluarganya ada di satu kapal. 
Rombongan berangkat dengan bis menuju ke pelabuhan Angke melalui jalan tol BSD, Alam Sutra dan kembali masuk tol Tangerang. Baru saja turun dari jembatan layang dari Alam Sutera sudah terlihat antrian panjang kendaraan di subuh itu. \”Wah ini pasti macet karena banjir nih\” kata saya dalam hati. Berarti gagallah berangkat karena kami tidak akan sampai di pelabuhan Angke jam 7 pagi. Alhamduillah setelah berjalan sekitar 1 km jalan kembali lancar. Bis langsung berbelok ke kiri masuk jalan tol arah ke Bandara Sukarno Hatta di daerah Puri. Dari situ langsung menuju kawasan Kapuk melalui jalan tol yang baru saja dioperasikan. Tepat jam 7 pagi kami sudah sampai di pelabuhan Angke. Pelabuhan Angke  adalah pelabuhan nelayan tapi karena kami menumpangi kapal angkutan umum yang melayani rute ke Kepuluan Seribu kami berangkat dari perlabuhan ini. Hujan masih turun rintik-rintik ketika kami menaiki kapal. Kapal yang kami tumpangi kapal bagus. Kapal dengan kapasitas penumpang 150 orang. Kapal ini terbuat dari fibre glass jadi jauh lebih kuat di bandingkan dengan kapal kayu. 
Satu jam kemudian kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan dalam cuaca dingin dan mendung. Setelah melewati beberapa kapal nelayan yang ditambat di kiri-kiri kanan, kapal mulai memasuki lautan luas. Kondisi laut di dekat pelabuhan sampai dengan memasuki laut lepas terlihat sangat  kotor. Warnanya hijau, banyak sampai plastik dan lain-lain menutupi laut. Tapi semakin ketengah air lautnya semakin bersih, warnanya juga terlihat semakin biru. Dalam satu jam pertama goncangan kapal begitu terasa karena ombak memang terlihat cukup tinggi, kira-kira setinggi satu meter. Tapi masih cukup aman karena kapal kami tingginya sekitar lima meter. Satu-persatu pulau kami lewati. Ada beberapa perahu nelayan terlihat melintas. Setelah satu jam gelombang laut semakin kecil sehingga guncangan kapal tidak lagi begitu terasa. Setelah dua jam kapal merapat di pulau Pramuka untuk menurunkan penumpang yang lain. Tak sampai sepuluh menit, kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk singgah ke pulau yang lain untuk mengantar penumpang. Sekitar jam sebelas siang sampailah kami di jetty Pulau Genteng Besar tempat kami menginap dan mengadakan acara. Begitu turun dari kapal tampak sekali kegemberiaan terpancar dari setiap wajah peserta. Lega karena telah melewati perjalanan panjang selama empat jam di bawah cuaca yang buruk. Senang, melihat indahnya pulau dan jernihnya air laut nan teduh. Saya begitu lega karena Alhamdulillah kami selamat sampai di tujuan setelah melewati cuaca buruk.
Pemandangan alam di Kepulau Seribu Bagian Utara sungguh sangat indah. Meski  berada di tengah lautan tapi perasaannya seperti kita ada di darat. Begitu banyak pulau-pulau kecil yang berada di sekitar kita berjarak hanya dalam hitungan ratusan meter. Laut yang memisahkannya juga tidak terlalu dalam. Bahkan antara satu pulau bisa dilewati dengan berjalan kaki dan sedikit berenang. Lautnya begitu tenang dan teduh karena ombak besar tidak bisa masuk karena sudah dipecah oleh gugusan pulau yang ada disekitarnya.  Airnya begitu jernih dan bersih. Dari permukaan bisa melihat dasar laut. Melihat ikan-ikan kecil berwarna-warni, terumbu karang, rumput laut dan biota laut lainnya. Ada pasir putih nan bersih tempat bermain sepuasnya. Alam yang begitu tenang angin laut yang sejuk sungguh membuat liburan terasa nikmat tiada taranya. 
Pihak EO dalam hal ini SARBENIADVENTURES telah menyusun program kami dengan begitu baik. Begitu sampai kami sudah sudah disipakan kamar. Setelah masuk ke kamar kami sudah disiapkan makan siang yang  lezat. Selepas makan kami diajak jalan-jalan berkeliling kepulau Seribu dengan menaiki  dua buah kapal yang sudah disediakan sebelumnya. Menjelang sore paling tidak kami sempat singgah di tujuh pulau. Saat melewati pulau-pulau itu hati ini terasa begitu syahdu menikmati indahnya alam karunia Ilahi. Sambil tidur-tiduran menikmati percikan air laut terkena badan kapal. Melihat burung camar melayang-layang di udara. Memandangi riak air laut kejar-mengejar menuju pantai. Melihat hamparan pasih putih yang melingkari pulau. Menyaksikan ikan-ikan melompat di permukaan laut. Perahu-peruhu kecil dengan nelayan mencari ikan. Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika kami semua diajak Scuba Diving atau menyelam ke laut untuk melihat indahnya kehidupan di dasar laut. Setiap peserta sudah dilengkap dengan peralatan renang mulai dari baju pelampung, sepatu katak dan alat pernapasan. Semua orang bisa mengikuti kegiatan ini, baik yang sudah bisa berenang maupun yang belum bisa. Setelah sampai di spot untuk scuba diving semua peserta turun ke laut yang dangkal. Team SARBENIADVENTURES siap membantu setiap peserta. Mereka sudah sangat terlatih membimbing kegiatan seperti ini. Maklumlah mereka ini selain menjalankan kegiatan seperti ini mereka juga adalah anggota team SAR (Search And Rescue) yang sudah terlatih menangani berbagai bencana alam. Satu-persatu peserta dilatih menggunakan sarana scuba diving. Akhirnya semua peserta bisa. Dari spot pertama peserta diajak lagi ke spot diving yang lain. Ikannya begitu jinak, salah satu cara untuk mendekati ikan-ikan itu dengan memberikan roti. Ratusan ikan berkerumun di dekat kita. Setelah ke sekitar lima pulu, menjelang magrib kami sudah sampai kembali di Pulau Genteng Besar. Untuk mempersiapkan acara dan penghargaan yang sudah kami siapkan. 
Besok pagi setelah sarapan kami kembali dijak berkeliling-keliling. Udaara begitu cerah, mentari bersinar terang, langit biru dan ada sedikit awan putih tipis. Segarnya udara pagi mengiringi kami menyebarangi beberapa pulau terdekat. Kami singgah di pulau yang konon dulunya milik dari pak Harto mantan presiden RI. Luasnya kira-kira sekitar 5 hektar. Ada jetty, ada bangunan besar seperti villa yang sudah lapuk. Terlihat AC dan perlatan lainnya sudah berkarat. Sepertinya tidak ada lagi yang menunggui pulau ini. Pasirnya sangat bersih dan indah. Dari pulau ini kami pindah ke pulau yang terdekat yaitu pulau Genting Kecil, jaraknya hanya sekitar 100 m dari Genteng Besar.  Jam 10 pagi kami sudah kembali ke kamar masing-masing untuk berbekamas karena jam 11 kapal yang akan mengantar kami kembali ke pelabuhan Angke datang menjemput. Selepas makan siang kami kembali menaiki kapal dengan perasaan senang, puas dan bersyukur. 

Laut begitu tenang di bawah sinar matahari yang cerah ketika kami meninggalkan pulau-pulau di Kepulaun Seribu Utara. Dari kejauhan tampak gedung-gedung pencangkar langit Jakarta seolah-oleh melambaikan tangan menyambut kepulangan kami.
Kali ini waktu tempuh kami jauh lebih singkat karena kami tidak perlu lagi singgah ke beberapa pulau dan yang lebih istimewa adalah laut begitu tenang, tidak ada lagi ombak besar yang memungkin kapal berlayar dengan cepat. Tepat jam dua siang kapal kami kembali sandar di pelabuhan Angke. Kamipun turun untuk pindah ke bus yang akan mengantar kami pulang ke Bintaro.

Meski keputusan yang tidak tepat, tapi kami bersyukur bahwa Allah memudahkan perjalanan kami, Allah mengabulkan doa-doa kami untuk keselamatan acara ini. Acara yang kami khawatirkan akan berakhir dengan buruk justru menjadi perjalanan yang paling berkesan dari sekian kali acara Family Gathering perusahaan kami.
Tujuan yang kami pilih ternyata sangat tepat. Kepulau Seribu Bagian Utara ternyata jauh lebih indah dari yang saya bayangkan. Sekitar dua puluh tahun lalu saya pernah ke Pulau Ayer pulau terdekat dari daratan Jakarta, kesan saya waktu itu biasa-biasa saja. Kita bangsa Indonesia perlu bersyukur bahwa di negri kita tercinta ini ada tempat seindah itu. Bagi anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya tempat ini begitu dekat, hanya sekitar 30 km di utara Jakarta. Kalau selama ini sebagian warga DKI bepergian ke luar kota selalu dihadang kemacetan, sekarang cobalah berwisata ke Kepulaun Seribu. Ada sekitar 120 pulau yang boleh kita singgahi dan nikmati. Belum lagi laut dangkal berpasir bersih banyak bertebaran disana. Tak perlu jauh-jauh ke Hawaii atau ke Mauritius untuk menikmati keindahan laut. Indonesia satu-satunya negara di ASEAN yang beruntung memiliki tempat wisata seindah ini. Thailand mungkin punya Phuket tapi sebagian besar wisatanya berada di darat. Bahkan Singapura terpaksa harus membuat pulau buatan untuk mengembangkan wisata air. Di Indonesia, semua itu sudah ada dan jauh lebih indah. Ini saatnya pemerintah khususnya Pemda DKI secara serius untuk mengembangkan wisata air di Kepulauan Seribu. Yang perlu dibangun adalah sarana penginapan yang layak di pulau-pulau itu. Kemudian kapal pesiar dan cruise dan pariwisata yang memadai. Kalau sekarang Pemda DKI mulai membeli bus pariwisata maka saya sarankan untuk selanjutnya Pemda juga membeli kapal pesiar untuk berkeliling ke Kepulaan Seribu. Saya membayangkan satu saat nanti wisata air ke Kepulauan Seribu ramainya seperti orang antri naik kapal pesiar di sungai Shanghai China, atau seperti orang antri naik kapal pesiar Matilda di Teluk Sydney Australia. Berkeliling menikmati indahnya alam sambil menikmati makan siang. Subhanallah.
 Pilihan kami untuk ke pulau juga jauh lebih baik dari pada ke darat misalnya ke Bandung atau ke Puncak. Tidak ada kemacetan, semua kegiatan terorganisir dengan baik, biaya yang diluarkan sudah fixed. Kami mengambil paket  50 orang dengan total biaya sekitar 40 juta rupiah All In, tampa ada tambahan biaya apa-apa lagi. Bayangkan kalau acara di darat. Ada biaya lain-lain plus oleh-oleh. Semua karyawan dan keluarga kami sangat puas.

Leave a comment

Your email address will not be published.