Visit Brisbane, Tangalooma and Gold Coast 2015

Salah satu \”resiko\” yang akan dihadapi jika anda bekerja keras sebagai agen atau broker asuransi adalah anda akan merasakan nikmatnya berjalan-jalan ke luar negeri setiap tahun. He he he.. Hingga bulan April 2015 ini saja saya sudah tiga kali ke luar negeri. Akhir Februari lalu ke Malaysia bersama karyawan dan April ini saya ke Singapura dan Australia. Perjalanan yang kedua ini  adalah hadiah dari partner kami yang luar biasa PT Asuransi Sinarmas. Dari hasil kerja keras kami tahun lalu kami mendapatkan 2 tiket paket perjalanan ke Australia meliputi Brisbane, Tangalooma island dan Gold Coast. Yang berangkat adalah saya dan General Manager kami Iil. Saya masih ada dua perjalanan lagi di tahun ini yang tersedia untuk diperjuangkan yaitu Midyear Leader Challange (MLC) dari divisi life dengan tujuan Hongkong-Macau atau India. Bulan September kembali ke Singapura untuk menghadiri Insurance IT Conference.

Sejak tahun 2010 silam setiap tahun saya merasakan indahnya berlibur di luar negeri. Itu semua \”gara-gara\” saya bekerja di industri suransi. Anda tertarik juga jalan-jalan ke luar negeri setiap tahun? Gabung di industri asuransi, hubungi saya, saya siap membantu mewujudkan cita-cita anda.

Sebenarnya Sinar Mas juga mempunyai paket tour yang lain ke St Peterburgh Russia, tapi kami memutuskan untuk mengambil paket ke Australia dengan dua tiket. Tidak apa-apa, tahun depan akan kami usahakan dengan beberapa buah tiket  karena tujuan wisatanya jauh lebih menantang yaitu ke Norwegia dan Tasmania,  Wow.. insya Allah.
Rombongan kami terdiri dari 41 orang, mereka semua adalah para pemenang kontes tahun 2014 dari seluruh Indonesia. Ada yang berasal dari Batam, Samarinda, Bandung dan yang paling banyak dari Jakarta. Diantara mereka ada dua orang teman lama saya yaitu pak Santoso yang dulu pernah menjadi direkut di Danamon Asuransi, ada pak Wawan teman lama waktu beliau bekerja di Asuransi Union Far East yang sekarang sudah berganti nama menjadi AXA Insurance.

Kami berangkat dari bandara Cengkareng tanggal 15 April jam 15.00 menggunakan pesawat Singapore Airline menuju Singapura. Sampai di Singapura jam 6 sore waktu setempat. Meski saya belum lama singgah di Changi Airport, tapi saya  terkejut ternyata sudah ada Terminal 3 yang sangat bagus. Dari terminal 2 tempat  mendarat kami menaiki skytrain ke terminal tiga yang jaraknya sekitar 1 km. Changi tetap tidak terkalahkan dalam hal kwalitas sarananya di banding airport lain di kawasan ini. Setelah turun dari skytrain kami masih harus berjalan lagi ke gate 48 tempat kami boarding ke pesawat yang akan mengantar kami ke Brisbane. Untung ada eskalator yang membantu memercepat kami sampai di gate 48 karena jarak antara kedatangan dan keberangkatan kami hanya sekitar 1 jam saja. Tak banyak yang bisa kami lakukan di Changi ini. Saya yang paling duluan sampai dan langsung boarding. Teman-teman saya masih banyak yang bergerombol di luar karena karena mereka tidak mendengar panggilan boarding. Tepat jam 8.30 malam pesawat Singapore Airline Boing 777 mulai bergerak menuju landasan pacu untuk terbang keselatan selama hampir 9 jam. 
Seperti yang sudah saya bayangkan bahwa naik SQ (Singapore Airline) pelayanan kabinnya pasti sangat luar biasa. Kondisi pesawat yang bersih, rapi, full entertainment, selimut dan bantal sudah tersedia. Baru saja terbang pramugari sudah memberikan handuk panas untuk melap muka. Beberapa saat kemudian menawarkan minimuan. Sekitar satu jam setelah terbang mereka menghidangkan makan malam dengan beberapa pilihan menu. Secara berkala selama berjalan mereka senantiasa memberikan pelayanan sampai sarapan pagi sekitar satu jam sebelum mendarat di Brisbane International Airport. 
Yang menarik rute penerbangan kami, dari Singapura kembali lagi melewati langit di atas Jakarta berbelok ke kiri sampai di atas Denpasar setelah itu baru lurus melintasi samudera India, daratan benua Australia hingga sampai di Brisbane. 

Jam 7 pagi waktu Brisbane kami mendarat dengan selamat di Brisbane International Airport. Setelah berkemas, ke toilet dan merapikan diri kami melewati gerbang imigrasi. Semua berjalan lancar. Demikian juga pada saat kami melewati custom clearance hampir semua berjalan lancar kecuali ada beberapa teman tasnya yang secara acak diperiksa oleh petugas. Tapi karena memang tidak ada barang-barang terlarang yang dibawa maka semua berjalan lancar saja.
Ada dua orang teman yang terpisah dari rombongan, kami perlu menunggu mereka sekitar setengah jam sampai kami keluar dari ruang tunggu terminal ke tempat parkir bus yang telah menunggu kami.

Setelah beberapa lama berjalan menelusuri jalan dari bandara, saya melihat betapa sepinya kota ini. Padalah itu sekitar jam sembilan pagi. Sepanjang jalan yang terlihat hanya beberapa mobil yang berjalan. Di kiri-kanan saya melihat rumah-rumah besar dengan arsitektur khas eropah. Rumah-rumah itu juga terlihat kosong. Semakin ke pusat kota baru mulai terlihat ada keramian, namun tidak seramai kota-kota yang ada  di Indonesia. Yang menarik adalah, meski kotanya sepi tapi banyak sekali terdapat bangunan bertingkat tinggi, hotel, kantor dan apartment. Kondisi jalan-jalannya sangat bagus dan rapi. Bersih dan lengkap dengan rambu-rambu lalulintasnya.Tepat satu tahun sebelumnya April 2014 di kota ini baru saja diadakan pertemuan G20 yaitu pertemuan kepala negara 20 negara maju di dunia. Yang hadir termasuk Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Perdana Menteri Russia Vladimir Putin.
Tujuan pertama kami adalah kawasan World Expo 1998. Disini pernah diadakan pameran produk dan industri kelas dunia. Meski sudah lama tapi kawasan ini masih terawat dan bersih. Begitu turun dan berjalan-jalan di kawasan ini saya begitu kagum dengan kwalitas pembangunan disini. Jauh sekali berbeda dengan yang ada di Indonesia. Tembok, besi, keramik, dan semua bahan bangunan dibuat dengan kwalitas tinggi. Selain indah tapi juga tahan lama dan mudah di rawat. 
Kawasan ini berada di pinggir sungai Brisbane yang sangat bersih. Airnya mengalir dengan tenang dan tidak ada satu buah sampahpun yang terlihat. Pengaturan tata kota sangat elok sehingga melengkapi kenyamanan warganya. 
Di kawasan world expo ini ada juga toko yang menjual souvenir khas Australia. Tapi ternyata harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan berbelenja di kawasan Gold Coast. Saran saya, tahan dulu keinginan anda berbebelanja disini, nanti saja di Gold Coast, jika anda memang ada rencana mengunjungi Gold Coast.
Dari kawasan World Expo kami berangkat menuju restoran tidak begitu jauh. Kami menikmati makan siang kami di restoran China. Lumayan cukup enak meski sebagian teman banyak yang mengeluh karena bumbunya kurang terasa atau malah ada yang terlalu asin. Harap maklum, ini di Brisbane sudah barang tentu bahan yang digunakan berbeda dan juga tastenya juga lain.
Selepan makan siang kami bergerak menuju ke kawasan Factory Outlet terletak kira-kira 15 menit dari restoran. Wah, ternyata barang-barang yang dijual disini hampir sama dengan yang dijual di toko-toko di Jakarta. Tapi harganya dua atau tiga kali lebih mahal dari Jakarta. Saya hanya membeli sebuah dompet untuk isteri saya.
Menjelang jam 4 petang kami sudah bergerak meninggalkan kawasan factory outlet menuju ke pelabuahan di sebelah timur. Tempat kami akan menaiki kapal yang akan membawa kami ke pulau Tangalooma. Kami menunggu kira-kita setengah jam sebelum pintu naik ke kapal di buka. Kapalnya sejenis kapal speed boat/yacht dengan kapasitas tempat duduk untuk sekitar 100 orang. Jarak tempuh dari pelabuhan sampai ke Tangalooma sekitar 1,5 jam.
Udara di Brisbane sangat cerah, demikian juga di sore hari pada saat kapal  mulai meninggalkan pelabuhan menelesuri laut yang tenang di bawah temaran sinar matahari sore berwarna kuning keemasan. Hawa dingin mulai berhembus meniup tubuh. Sebagai seorang fotorapher amatiran mata saya tidak lepas dari mencari-cari objek yang bagus untuk dijepret. Ah ternyata begitu banyak hal-hal yang menarik untuk diabadaikan oleh Samsung Galaxy Note 3 saya. Sinar matarahi yang cerah sangat membantu saya untuk mendapatkan gambar yang bagus. Mata saya tertuju kepada kapal-kapal yang melepas sauh di sepanjang pantai, bangunan pabrik semen, crane, pembangkit listrik, tangki bahan bakar dan lain-lain. Ini kesempatan langka bisa mendapat objek yang luar biasa ini, pencahayaan serta momen yang susah untuk didapatkan. Gambar-gambar ini akan saya gunakan untuk melengkapi company profile perusahaan kami. 
Semakin lama sinar keemasan matahari makin memudar dan langitpun berubah menjadi gelap menyisakan sedikit warna biru diatas cakrawala. Hari semakin malam, sekitar jam 8 malam  kapal kami sudah sampai di jetty di pulau Tangalooma. Temaran cahaya lampu yang mengelilingi pantai menyambut kedatangan kami.
Tangalooma island resort adalah sebuah pulau pasir yang sangat luas. Tempat berlibur yang sangat exclusive, hanya orang-orang tertentu saja yang berlibur disana. Pulai ini tidak berpenduduk, hanya pegawai resort dan pengunjung saja yang berdiam disini. Suasananya seperti di Nusa Dua Bali. Pantai dengan pasir putih bersih, bedanya mungkin ombak di Tangalooma relatif kecil karena terhalang oleh pulau lain dari samudera.
Banyak atraksi yang menarik disini. Di malam hari ada hiburan gratis dari ikan lumba-lumba liar yang datang ke tepi pantai untuk bermain-main dengan pengunjung. Cukup dengan memberikan ikan kecil lumba-lumba siap diajak \”kencan\”. 
Atraksi lain yang unik adalah main perosotan pasir. Pulau yang luas ini terdiri dari gundukan pasir yang besar. Di tengah-tengah pulau atau sekitar 35 km dari resort ada gurun pasir. Kami diajak menjelajahi ke tengah pulau naik bus khusus melewati hutan kayu subtropis. Disana ada kawasan padang pasir seluas sekitar 25 hektar. Kami berhenti di tengah-tengahnya, kemudian kami ditawarkan untuk meluncur dari puncak yang tertinggi sekitar 75 m lalu meluncur menggunakan papan selancar sejauh lebih kurang 150 m. Saya memberanikan diri mencoba. Tantangan saya yang terbesar bagi saya adalah pada saat berjalan diatas pasir mencapai puncak. Sungguh perjuangan yang sangat berat. Setiap kaki melangkah kaki tertanam jauh ke dalam pasir, dan sedikit mundur. Meski saya hampir dua kali seminggu main golf  tapi tetap saja saya kepayahan mendakinya. Alhamdulillah saya berhasil juga mencapai puncak. Setelah menghilangkan ngos-ngosan saya beranikan diri tidur diatas papan luncur dibantu oleh petugas. Akhrinya saya bisa meluncur juga dan sampai di bawah dengan selamat. Hitung-hitung ini mengulangi pengalaman saya 45 tahun lalu ketika basiluncui di Bukik Congkiang di desa saya di Sariak Laweh. Untuk melakukan aktifitas ini kita benar-benar harus berhati-hati, karena pasir sangat tebal dan kita bisa terkubur. Yang lebih sering terjadi adalah kehilangan jam, hp, dompet karena tidak dilepassebelum meluncur. Dapat dipastikan semua barang yang lepas tidak akan bisa ditemukan lagi. Kalaupun bisa, diperlukan waktu 100 tahun lagi…

Sekitar jam 10 kami sudah kembali ke resort di tepi pantai. Selanjutnya adalah acara bebas menunggu waktu keberangkatan kembali ke Brisbane jam  4 sore. Banyak pilihan bermain yang bisa diikuti. Naik jetsky, banana boat, naik helikopter dll. Saya dan 3 orang teman rencananya ingin merasakan naik  helikopter. Harga sewanya 75 dollar untuk 6 menit. Mahal sangat, tapi demi merasakan pengalaman naik helikopter saya nekat saja. Tapi sayang karena pilotnya sedang tidak ada. Ternyata harus melalui perjanjian dulu. Sisa waktu kami gunakan untuk bersantai saja di tepi pantai, di tenda-tenda sambil bercerita dan bercengkarama dengan rekan-rekan. Tepat jam 4 sore kapal kami sudah bertolak meninggalkan pantai Tangalooma.

Di pelabuhan Brisbane kami sudah ditunggu oleh bus yang kemarin mengantar kami. Dia sudah siap untuk membawa kami ke kota Gold Coast berjarak sekitar 2 jam dari Brisbane. Kami berjalan menelusuri highway. Awalnya perjalanan tersendat, awalnya saya berfikir wah ternyata hampir tidak ada bedanya antara Jakarta dan Brisbane, sama-sama macet. Setelah berjalan pelan selama 15 menit baru saya tahu ada truk mogok di tengah highway. Itulah penyebab kemacetan. Selepas itu bus berlari kencang rata-rata 70 km/jam. Jam 8 malam kami sudah sampai di lobby Outrigger Hotel di Gold Coast yang dengan bangga menyebut kotanya dengan The Surfers Paradise, surganya para peselacar. Hotel ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari bibir pantai Gold Coast yang berombak besar. Setelah mengantar tas don koper ke kamar, kami buru-buru turun ke lobby untuk berkumpul menuju restoran untuk makan malam. Makam malam kali ini di restoran Chinese Malaysia/Singapura, sudah pasti rasanya lebih enak.
Pada saat kami baru tiba di hotel, ada seseorang datang memperkenalkan diri kepada kami. Beliau itu bernama encik Oskar pengusaha toko penjualan souvenier khas Australia. Beliau ini berasal dari Kuching, Serawak Malaysia, tapi beliau pernah tinggal di Banjarimasin selama 10 tahun bekerja di perusahaan kayu Tanjung Raya Group. Jadi beliau sangat mahir berbahasa Indonesia. Beliau menawarkan untuk berbelanja souvenir di tokonya. Dijamin harga jauh lebih murah, kemudian ada discount lagi jika beberlanja diatas 50 dollar. Tokonya terletak pinggir jalan yang dilewati trem arah ke pantai di sebeleah kiri.Namanya Royaf Gift. Ternyata memang benar, harga yang ditawarkan di toko ncik Oskar nih sangat murahlah… semua ada. Jadi, untuk mendapatkan oleh-oleh di kawasan Brisbane dan Gold Coast disinilah tempatnya. Bagus, murah dan ramah….
Di pagi hari ketiga, kami sarapan enak di hotel Outrigger, banyak pilihan. Menu asian food, continental. Tapi bagi anda penyuka longtong sayur (lonsay0, anda akan kecewa karena menu itu tidak tersedia… he he he .
Jam 9 kami kami sudah siap di lobby hotel untuk menuju ke tempat plesiran di hari ketiga. Ini hari terakhir karena besok pagi-pagi kami sudah harus berkemas untuk angkat koper kembali ke tanah air. Tujuan kami adalah Paradise Country kawasan pertanian berjarak hanya sekitar setengah jam dari kawasan The Surfers Paradise. Melewati suasana pagi yang cerah di hari libur di negeri maju, sangat menyenangkan. Di pinggir jalan tampak banyak warga sedang berlahraga dan jogging. Di sebelah lain mereka duduk-duduk di meja di luar rumah sambil bercengkarama. Di sisi lain ada yang sedang asyik bermain golf. Nah yang satu ini membuat saya tangan saya gatal ingin segera berhenti dan turun dari bus untuk ikut segera tee off bersama-sama mereka.
Setelah berbelok ke jalan kecil kami memasuki kawasan pertanian dan hutan subtropis. Banyak pepohonan tapi berbeda dengan hutan di Indonesia. Hutannya kering dan tidak ada semak dan belukar di bawahnya. Setelah turun dari bus kami berjalan kaki melewati jalan kecil menuju ranch atau kawasan peternakan yang memang dirancang untuk berwisata. Ada lahan rerumputan yang berpagar kayu tempat kuda, sapi, domba dan hewan peliharaan lainnya dipelihara. Melihat suasana ini, jiwa saya melayang jauh nun ke kampung halaman saya berjarak kira-kira 7,500 km dari ini, yaitu desa Sariek Laweh, Kab.50 Kota Sumatera Barat. Di tempat seperti inilah dulu saya dibesarkan. Melakukan hal-hal yang sama, gembala sapi, kerbau, kambing dan bertani. Saya bersyukur kepada Allah betapa Ia Maha Kuasa. Bisa mengantarkan hambaNya  ke tempat yang sejauh ini.
Sementara teman-teman saya sibuk bermain dengan hewan khas Australia seperti kanguru, koala wombat dan lain-lain saya sibuk menelisik peralatan pertanian kuno yang disimpan di gudang. Ada bajak, kereta, bakul dan lain-lain. Lagi pula saya sudah cukup puas dengan bergaul dengan hewan-hewan khas Australia itu karena bagi saya ini kali ke lima saya menjelajahi benua Australia ini.
Kami makan siang di Paradise Country. Sekitar jam 1 siang kami bertolak ke kawasan Movie World berjarak hanya sekitar 15 menit saja. Bagi anak-anak dan remaja sudah barang tentu tempat seperti ini sangat menarik. Tapi bagi orang lanjut usia seperti saya, tidak begitu seru  karena wahana yang ada  lebih banyak tentang tokoh-tokoh dunia kartun yang terkenal, atau tempat permainan yang bisa menyebabkan \”jantung copot\”.
Kami cukup lama bermain-main disini. Sementara rekan-rekan saya yang lebih muda mencoba berbagai wahana yang ada.  Saya akhirnya menemukan tempat yang cocok yaitu kawasan Wild West Fall, wahana khusus berlatar berlakang kehidupan para cowboy di Amerika di masa lalu. Lengkap dengan kampung, rumah, kantor polisi, tempat pautan kuda. Kalau selama ini saya hanya bisa melihat lewat gambar dan film kali ini saya langsung bersentuhan dengan benda-benda itu. Itu sangat menyenangkan. Hampir satu jam saya bersantai-santai sambil tiduran diatas bangku panjang sendirian sambil berFBan.
Ketika waktu beranjak senja, saya ingin sholat ashar tapi saya tidak tahu dimana tempatnya. Saya mulai berkeliling dan ternyata hanya satu blok dan masih di kawasan Wild West Fall ada mushola bertuliskan Prayer Room dan dalam bahasa Arab. Alhamdulillah, saya bisa sholat dengan sempurna kali ini. Buat travellers muslim seperti saya menjaga sholat di negara-negara non muslim menjadi tantangan tersendiri. Tapi tidak usah khawatir, banyak cara, jika dalam perjalanan sholat dalam kendaraan saja, caranya ambil tayamun lalu sholat menghadap kearah depan kendaraan (tidak harus menghadap kiblat) sholat sambil duduk saja. Salah satu yang harus di bawa adalah smartphone yang sudah di download dengan penunjuk arah kiblat dan jadwal sholat. Ini alat canggih yang secara otomatis menemukan arah kiblat dan waktu sholat dimanapun di seluruh dunia. Dulu saya harus melihat matahari, atau bertanya dimana matahari terbenang lalu mengira-ngira arah kiblat. 
Pada saat saya berada di depan mushola ada lima orang gadis remaja yang cantik-cantik, tiga orang bule dua orang negro yang sedang mencari-cari mushola untuk sholat, subhanallah.. luar biasa. Mereka berasal dari London, Inggris sana. Saya membayangkan jika anak-anak dan keponakan saya juga seharusnya seperti ini. Mereka selalu ingat sholat walau sedang berada dimanapun.

Menjelang jam 7 malam kami sudah kembali ke hotel di kawasan Surfers Paradise, kami langsung mandi untuk bersiap-siap mengikuti acara makan malam. Ini makan malam terakhir kami untuk liburan kali ini. Tempatnya di Hardrock Cafe tak jauh dari hotel. Tempat dan waktunya sudah dibooking sehingga kami hari harus datang on time. Pilihan menunya cuma dua, ayam dan steak daging. Yang kedua-duanya menurut mereka adalah makanan halal. Tapi secara syariah makanan itu belum tentu halal karena ia belum tentu dipotong dengan membaca nama Allah. Nah, karena tidak ada pilihan lain dan ini saatnya makan, maka saya juga memakan makanan itu. Ini kondisi darurut semoga Allah mengampuni saya.
Selepas makan, kami melanjutkan berbelanja  menambah koleksi oleh-oleh sambil menghabiskan urang dollar receh yang jika di bawa pulang juga juga tidak akan laku. Alhasil tas dan koper kami bertambah besar.
Besoknya Jam 5 pagi kami sudah bangun, jam 6 kami sudah berada di atas bus yang akan mengantar kami ke bandara Brisbane International Airport. Semua berjalan lancar, jam 8 pagi kami sudah terbang di angkasa kota Brisbane untuk kembali ke tanah air melalui Singapura.
Perjalanan kali ini sangat menyenangkan, semua program tour sudah diatur dengan baik, semua berjalan sesuai jadwal. Tempat-tempat yang dikunjungi juga menarik. Tour leader juga sangat membantu. Dan yang membuat perjalanan ini sangat nikmat adalah karena ini 100% gratisss… tiss tiss.. Dibayar oleh PT Asuransi Sinar Mas yang luar biasa. Thank you Sinar Mas…. 
Perjalanan tahun depan akan sangat luar biasa lagi, yaitu ke Norwedia, Tasmina dan Pulau Komodo.. yukk mari kita kejar lagi.
Ibu Dumasi, Direktur Asuransi Sinar Mas
Ini dia tokonya \’ncik Oscar

Leave a comment

Your email address will not be published.