Pengajian Bintaro Plus # 2 – Dr. Daesmadi Saharuddin

Syukur Alhamdulillah pertemuan dan pengajian Bintaro Plus edisi ke 2 sudah terselenggara dengan baik. Pertemuan pertama di bulan Februai lalu dengan penceramah ustad Arifin Nababan. Anggota yang hadir cukup banyak lebih kurang 50 orang yang hadir bersama keluarga.
Semakin terasa nikmatnya acara seperti ini. Silaturahmi terjalin, canda, tawa dan ide-ide baru banyak lahir. Ilmu dari penceramah juga dapat menyebar ke seluruh anggota yang hadir. Jauh lebih efektif daripada pesan di WA ataupun FB. Sudah barang tentu pertemuan ini dicatat oleh Allah sebagai \”majlis ilmu\” dan  sebagi amal sholeh, in sya Allah. 
Yang tak kalah nikmatnya adalah makanan yang disajikan. Semua masakan khas desa kami Sariek Loweh, Payakumbuh yang dibawa oleh masing-masing angota. Mulai dari gulai robuang, karabu boluit, samba tanak joriang, obui potai, rondang maco.. all were served, just name it!.. Semua menikmati bahkan yang selama ini suka diet kali ini membatalkan dietnya… subhanallah wal alhamdulillah…

Berikut ini catatan ceramah dari guru/ustad Dr. Daesmady Saharuddin Lc. MA yang juga anggota dari pengajian ini. Sdr. Des saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta.

Pengajian kali membahas tema Mualamah
Di dalam fiqih tentang muamalah dikatakan bahwa segala sesuatu boleh dilakukan sampai ada dalil yang mengatakan haram. Jadi segala sesuatu aktifitas kita di dunia ini adalah boleh selama itu tidak ada dalil yang mengatakan itu haram. Dalam konsep yang lebih luas, tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk bermuamalah. . Secara umum kita bermuamalah, betransaksi, berdagang, bekerja dan apapun namanya itu semua termasuk ke dalam kelompok muamalah dalam bahasa agamanya tapi mungkin dalam bahasa ekonominya  namanya transaksi. Kalau dikembalikan ke konsep awal, bahwa apapun yang kita kerjakan adalah boleh selama tidak ada dalil yang mengharamkan.
Dalam fiqih muamalah Islam dibagi ke dalam empat kategori:
  1. Ibadah 
  2. Munakahah
  3. Jinayah
  4. Muamalah
Muamalah   lebih kepada transaksi keuangan dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Kalau yang pertama itu disebut dengan ibadah, kalau kita pisahkan dan yang termasuk ke dalam kelompok ibadah adalah sholat, puasa, haji dan zakat saja itu bisa, ini yang disebut sebagai ibadah murni atau ibadah maghdoh. Kegiatan itu dilakukan memang dalam rangka beribadah kepada Allah. Semua orang melakukannya dengan tujuan utama untuk beribadah. Mungkin ada sebahagian kecil dari manusia yang melakukan kegiatan itu bukan untuk ibadah kepada Allah. Mungkin untuk pencitraan, popularitas dan demi menghormati orang-orang tertentu. 
Adalagi ibadah Ghoirumaghdoh yaitu aktifitas-aktifitas yang sebenarnya tidak seperti ibadah tapi ia bisa menjadi ibadah jika diniatkan sebagai ibadah. Jika kita meniatkan sesuatu untuk ibadah maka jadilah ia sebagai ibadah. Tapi jika tidak diniatkan sebagai ibadah maka ia bukan ibadah dan tidak mendapat ganjaran sebagai ibadah. Umpamanya kita melakukan transaksi asuransinya, tapi kalau itu hanya sekedar sebuah transaksi bisnis maka tidak ada nilai ibadahnya walaupun itu halal dan boleh dilakukan. Akan tetapi jika transaksi itu diniatkan sebagai ibadah maka ia akan menjadi transaksi yang bernilai ibadah. Atau yang sedang trend saat ini bagi kaum wanita yaitu memakai hijab, jilbab atau kerudung atau memakai baju muslimah. Tetapi jika itu dipakai tampa niat beribadah, maka itu tidak ada nilai ibadahnya walaupun itu perbuatan yang boleh dilakukan dan memenuhi kaedah syariah. Akan tetapi jika ia melakukan dengan niat beribadah karena Allah maka ia kan mendapat nilai ibadah. 
Aktifitas dunia itu bisa kita sandingkan dengan ibadah. Jika umpanya transaksi dunia ini kita niatkan untuk berbiadah maka produktifitasnya akan lebih baik karena kalau hanya sekedar bekerja dan berniaga saja mungkin cara melakukannya biasa-biasa saja. Atau mungkin kita bekerja hanya untuk sekedar memenuhi daftar hadir, mengumpulkan point atau mendapatkan hadiah.Tapi kalau itu diniatkan sebagai ibadah maka kwalitas kerja dan hasilnya akan jauh lebih baik karena ada Allah yang menjadi pengawas. Orang akan bekerja demi Allah sehingga dia akan melakukan yang terbaik meski tidak diawasi oleh boss, meski tidak mendapatkan point dan penghargaan dari manusia. Tapi yang diinginkannya adalah pahala dari Allah yang nilai jauh lebih tinggi. Nah itulah perbedaan antara ibadah dengan tidak ibadah.
Kalau merujuk kepada konsep ibadah maka pahala hanya akan didapatkan dari melaksanakan semua yang ada di dalam rukun Islam. Akan tetapi kalau hanya dari situ saja kita mengharapkan pahala  maka akan sangat sedikit sekali yang akan kita dapatkan. Berapa waktu yang kita lakukan untuk sholat sehari semalam? mungkin hanya satu jam. Berapa kali kita puasa dalam satu tahun? paling banyak selama bulan Ramadhan. Berapa banyak zakat yang kita bayarkan? itupun kalau kita punya harta yang sudah cukup nisabnya.

Konsep muamalah janganmelakukan transaksi yang sifatnya merugikan orang lain Dalam Alquran Allah mengatakan \”hai orang-orang yang beriman janganlah kami memakan harta sesamu dengan cara yang bathil\” kecuali dalam perniagaan yang \”antara kamu sama-sama rela\”. Jangan kita melakukan transaksi yang sifatnya merugikan orang lain. Akan tetapi konsep rela sama rela atau suka sama suka itu jangan menyalahi aturan agama misalnya dengan cara berjudi. Atau misalnya jual beli  anjing,  itu masuk ke dalam kelompok transaksi yang dilarang. Ada batas-batas yang tidak dibolehkan. Kita dilarang melaksankan transaksi yang sifatnya ghorar yaitu jual beli yang  ada unsur penipuan, merugikan orang lain, riba, atau atas sesuatu yang belum terjadi dan barangnya belum ada. Ada transaksi sebenarnya dibolehkan akan seperti jual beli mobil, rumah dan lain-lain akan tetapi di dalamnya ada unsur-unsur yang dilarang misalnya ada unsur penipuan, pemaksaan dan lain lain. Maka transaksi seperti itu termasuk yang di dalam dan tidak ada nilai ibadahnya. 
Sembilan puluh persen dari kegiatan manusia adalah untuk melakukan aktifitas ghoirumahdoh yaitu di luar dari kegiatan ibadah yang diwajibkan. Jika kita tidak meniatkan dan melakukan kegiatan yang sembilan puluh persen itu sebagai ibadah maka kita akan mengalami kerugian besar. Padahal itu kesempatan besar bagi kita untuk meraih pahala.
Dalam ayat lain Allah mengatakan \”sesungguhnya manusia itu dalam kehidupannya sehari-hari, kami uji dengan rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, gangguan jiwa dan buah-buahan\” Dalam segala aktifitas yang kita lakukan apakah itu yang halal atau yang haram semua itu ada nilai ujian. Selama itu tidak dilarang namun senantiasa akan diuji oleh Allah. Dalam ayat tadi dikatakan kita diuji dengan rasa takut. Ketika rasa takut merasuki jiwa  maka rasa bahagia akan hilang. Tetapi pada saat kita diberi rasa bahagia  kita tetap mempunyai rasa takut. Semua jenis dan tingkah laku manusia tidak lepas dari ujian, kita diuji dengan kekurangan harta, tidak punya harta mungkin ujian yang diberikan kepada manusia yang tingkatnya pas-pasan. Kita sering melihat banyak orang yang mencari rezki dengan menghalalkan segala cara. Pada tingkatan seperti ini ada orang menjadi pencopet dan perampok dan lain-lain. 
Wal anfus, ketenangan jiwa. Ujian itu tidak diberikan oleh kepada orang-orang yang biasa-biasa saja akan tetapi kepada orang-orang yang sudah mempunyai kedudukan tinggi dimana orang-orang ini akan diuji. Tidak heran kalau banyak kita lihat mereka yang sudah mempunyai kemampuan keuangan yang cukup, reputasi tinggi melakukan pencitraan dan lain-lain dan jiwa tenang. Presidenpun tidak lepas dari caci-maki, ulama, ustad dan orang-orang alim lainnya juga demikian. Tetapi mereka itu akan tetap diuji oleh Allah SWT. Apakah kita jika berada pada posisi tersebut mampu melewatinya? Kalau mereka yang kemampuannya pas-pasan mampu melewati ujian dengan  melakukan pekerjaan yang mungkin dimata manusia adalah pekerjaan  hina, tapi mereka mau melakukannya daripada mencuri atau merampok walau dia bisa melakukan itu. Ujian ketenangan jiwa banyak dari mereka ada myang melakukan perlawanan tapi yang penting apakah mereka mampu melalui ujian itu.
Wasyamarot, ujian dari kekurangan  buah-buahan ini ujian bagi mereka yang begerak di bidang pertanian mereka diuji dengan kekurangan  hasil panen, harga panen yang rendah dan lain-lain. Ini semua ujian dan apakah mereka mampu melewati ujian ini? Para pengusaha dan investor juga diuji oleh Allah SWT apakah harga saham mereka akan naik atau turun? Apakah perusahaan mereka akan kuat melalui krisis ekonomi dan lain-lainnya. 

Islam tidak membedakan antara urusan dunia dan akhirat. Kedua-duanya ada panduannya. Berbeda dengan pandangan kaum sekular yang mengatakan bahwa urusan dunia adalah bagian dari pemerintahan sedangkan akhirat/agama bagian dan tanggung jawab agama. Islam mengatakan bahwa dunia adalah ibadah, akhirat juga ibadah. Tapi semua itu tidak lepas dari cobaan dan ujian dari Allah. Sekarang apakah kita mampu melewati itu atau tidak. Ini yang selalu diingatkan oleh nabi SAW \”selalu perbaharui iman kalian\” Mudah-mudahan pertemuan pertemuan kita kali tidak membedakan antara dunia dan akhirat.

Leave a comment

Your email address will not be published.